Why It Is

Fataya
Chapter #14

Chapter 14

“Fayaaaaaaaaaa!!!!!” teriak Syafrani saat aku sedang duduk di tempat biasa saat masih pagi.

Syafrani langsung berjalan ke arahku dan duduk di sampingku. Aku masih belum merespon kehadirannya. Syafrani berusaha membujukku supaya dia dikenalkan dengan Aldo.

“Ayolah, Fay. Lo kan sahabat gue. Lo kan paling baik sama gue. Lo kan paling ngertiin gue. Fay, kenalin gue sama Aldo ya, please,” mohon Syafrani dengan berbagai rayuannya.

Aku berpura-pura tidak mendengarkannya dengan membaca buku . Syafrani menggoyang-goyangkan badanku sehingga konsentrasi membaca bukuku buyar.

“Iya iya. Nanti gue kenalin sama Aldo. Udah?” jawabku sedikit kesal.

Syafrani hanya cengengesan saat aku mau membantunya untuk berkenalan dengan Aldo. Bel masuk sudah berbunyi. Aku dan Syafrani beranjak untuk masuk kelas karena jam pertama ini gurunya cukup killer jadi kalau terlambat sedikit bisa panjang urusannya. Aku segera mengeluarkan alat tulis serta buku yang akan digunakan dalam jam pelajaran pertama. Aku menoleh ke arah Syafrani, sepertinya dia antusias sekali ingin berkenalan dengan Aldo sampai-sampai dia serajin ini saat di kelas. Dasar aneh.

Kelas yang begitu menegangkan itu akhirnya selesai dan guru killer itu sudah keluar dari kelas. Syafrani sudah membereskan mejanya dan berdiri di sebelahku sambil menungguku membereskan mejaku. Aku menyengaja memperlama pekerjaanku agar Syafrani kesal denganku. Namun syafrani malah membantu membereskan mejaku sehingga aku tidak bisa membuatnya kesal.

“Ayo Fay, cepet. Nanti keburu gak ketemu sama dia,” ucap Syafrani sambil menarik tanganku.

Aku segera menyudahi pekerjaanku dan berdiri mengikuti kemauan Syafrani. Aku mengajaknya duduk di depan laboratorium computer. Awalnya Syafrani banyak bertanya kenapa kami harus duduk disini. Namun aku hanya mengatakan jika biasanya aku bertemu dengan Aldo disini dan hanya disini Aldo bisa mencari keberadaanku. Syafrani hanya menganggukkan kepalanya.

“Fay, mana Aldonya?” tanya Syafrani tidak sabar.

“Ya sabar dong, Ra. Emang lo pikir Aldo jin apa bisa ngilang dan nyampe dimana aja dengan cepet,” jawabku kesal.

Syafrani hanya cengengesan ke arahku. Tak lama dari itu, terlihat sosok Aldo yang berjalan ke arah kami. Aku hanya diam tanpa memberitahu Syafrani dengan kehadiran Aldo. Aku hanya tidak ingin Syafrani melakukan hal-hal yang tidak terduga di depan Aldo.

“Hai, Fay. Tumben gak sendirian?” tanya Aldo lalu duduk di sampingku.

Syafrani yang sudah tau dengan kedatangan Aldo, dia menyenggol lenganku memberi kode untuk dikenalkan dengan Aldo. Aku hanya menarik napas panjang lalu mengenalkan Syafrani kepada Aldo.

“Oh iya, Do. Kenalin ini Syafrani temen sekelas gue,” ucapku malas.

Syafrani langsung berpindah tempat duduk di samping Aldo. Aku melihat tingkah Syafrani seperi itu sangatlah ingin sekali mencubit ataupun memukulnya. Kegatelan banget sih Syafrani, gak kayak biasanya kalo liat cowok.

“Hai, Aldo. Aku Syafrani, sahabat fyaya,” ucapnya dengan wajah yang terlihat bahagia.

“Hai,” jawab Aldo singkat.

“Oh iya, Do. Semalem lo pergi kemana sama Reza. Buat gue khawatir banget tau gak,” ucapku kesal.

Aku teringat dengan kepergian Aldo dengan Reza. Aku melirik ke arah Aldo dengan sinis karena aku sudah geram sekali dengannya. Aldo hanya tersenyum mendengar pertanyaanku itu.

“Lagian juga si Reza masih hidup kan? Itu tandanya gue gak ngapa-ngapain dia,” jawabnya.

Lagi-lagi Aldo menyembunyikan sesuatu dariku. Dia tidak ingin berkata jujur dengan yang dia lakukan pada Reza. Aku hanya bisa berdengus kesal. Aku memilih untuk berdiri dan pergi meninggalkan Aldo dan Syafrani. Aku kembali ke kelas lalu duduk di bangku dan menempelkan kepalaku di meja. Aku tidak melihat Syafrani menyusulku atau duduk di sebelahku. Aku tidak tau apa yang sedang dia lakukan dengan Aldo. Semoga saja Aldo segera pergi dari tempat itu dan tidak berlama-lama dengan Syafrani.

“Fayaaa... makasih ya udah dikenalin sama Aldo. Aldo itu baik juga ya. bisa nih jadi pacar gue” ucap Syafrani saat duduk di sampingku.

Aku yang mendengar kalimat itu langsung mengangkat kepalaku. Aku ingin marah dengannya tapi aku tidak ingin berisik di dalam kelas. Akhirnya aku memutuskan untuk meletakkan kembali kepalaku di meja.

Bel pulang sudah berbunyi, aku langsung berjalan ke arah parkir motor menunggu Reza di dekat motornya. Seperti biasa, aku akan pulang dan pergi dengan Reza meskipun Reza masih bersikap dingin denganku. Aku masih belum mengerti mengapa Reza berubah seperti ini. Apa aku pernah berbuat kesalahan dengannya sehingga dia menjadi seperti ini. Atau mungkin aku melupakan sesuatu untuknya. Aarrrrgggghhhh. Aku tidak bisa berpikir dalam kondisi seperti ini, aku harus minta aldo untuk mencari tau tentang hal ini.

“Kak Faya, ngapain disini?” tanya Reza heran.

Aku terkejut saat melihat Reza tiba-tiba berada di sampingku. Tapi mengapa Reza menanyakan keberadaanku disini, apa dia lupa kalau aku harus pulang dengannya.

Reza mengeluarkan motornya dari tempat parkir lalu aku mengambil helm yang biasanya kupakai dan kukenakan di kepalaku. Reza hanya terdiam tanpa menanyakan sesuatu lagi denganku. Apa mungkin dia tau dengan kekhawatiranku semalam saat dia pergi dengan Aldo. Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padanya, tapi wajahnya yang sangat dingin membuatku tidak berani berkata-kata lagi.

Sesampainya di depan rumah, aku hanya mengucapkan terima kasih pada Reza. Sebenarnya aku ingin mengajaknya untuk masuk ke dalam, tapi aku ragu untuk mengucapkannya. Apalagi sikap Reza sekarang seperti ini kepadaku, aku semakin tidak berani lagi untuk mendekatinya. Meskipun sebenarnya diri ini selalu ingin ada di sampingnya, namun sesuatu yang tidak kuketahui membuat hubunganku dengan Reza menjadi seperti ini.

Aku langsung masuk ke dalam dan menuju kamar. Disana aku meletakkan tasku di tempat biasa, setelah itu aku mengganti seragam dan berbaring di ranjang. Aku hanya bisa berandai-andai jika Reza tau tentang perasaanku. Apa mungkin dia tidak kecewa dan menjauhi? tapi aku berharap dia punya perasaan yang sama denganku. Tapi bagaimana dengan Shera? cewek yang pernah Reza ceritakan padaku. Tapi aku teringat sesuatu tentang Shera saat di acara Erlangga. Apa mungkin sebenarnya Shera itu sudah punya cowok dan Reza gak tau. Jangan sampai hal ini terjadi, pasti Reza akan kecewa banget sama Shera atau mungkin Reza memang sudah tau kalau Shera punya pacar dan Reza menunggu mereka putus.

Aku beranjak duduk dari pembaringanku. Aku mengambil buku diari yang berada di nakas sebelah ranjang. Aku mencari halaman yang kosong untuk menuliskan sesuatu.


Lihat selengkapnya