Seseorang telah mengetuk pintu kamarku berulang-ulang. Aku melihat jam di ponselku masih menunjukkan pukul lima pagi. Aku beranjak dari ranjangku dan membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuk pintu sedari tadi.
“Aldo, ngapain sih pagi-pagi udah berisik di kamar gue?” tanyaku.
Aku menguap di depan Aldo dan segera menutupnya dengan telapak tanganku. Aldo hanya tersenyum sambil membawa beberapa buku ditangannya.
“Bantuin gue ngerjain PR ya, semalem ngobrol di bawah sampe lupa gak nyelesaiin Prnya,” ucap Aldo santai.
Dengan memasang wajah sok memelas, Aldo memintaku untuk membantunya menyelesaikan tugasnya. Aku hanya bisa berdecak kesal dengannya karena kebiasaan tidak pernah tepat waktu untuk mengerjakan tugasnya.
Seusai sholat subuh aku menemui Aldo di kamarnya. Untung saja aku sudah mandi dan berganti seragam jadi tinggal pergi saja ke sekolah. Hampir setengah jam aku membantu Aldo menyelesaikan PRnya itu. Setelah itu kami turun ke bawah untuk sarapan.
“Pagi, Ma!” ucapku yang melihat mama sudah menunggu di meja makan.
“Pagi, Sayang. Ayo sarapan bareng!” ajak mama.
Aku langsung duduk dan mengambil piring lalu menuangkan nasi secukupnya dan juga lauk yang sudah mama masak. Begitupun dengan Aldo yang melakukan hal yang sama denganku. Kami bertiga menikmati sarapan bersama. Papa masih ada tugas di kantornya, jadi papa tidak bisa sarapan bersama kami.
Selesai sarapan, aku dan Aldo berangkat ke sekolah menggunakan mobilnya. Sejak semalam mobil Aldo berada di halaman rumahku. Saat keluar gerbang, aku melihat Reza baru keluar dari rumahnya. Aku berpikir jika saja Aldo mau memberinya tumpangan untuk pergi ke sekolah, pasti Reza tidak akan terlambat.
Tiba-tiba aldo mengehentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang rumah Reza. Apa aldo bisa membaca pikiranku sehingga dia mau mengajak Reza pergi ke sekolah bersama.
“Za, naik yuk!” ucap Aldo setelah membuka kaca mobilnya.
“Gak papa, Kak. Aku naik motor aja,” jawab Reza.
“Udah, Za. Gabung aja! Lagian gak seru kalo gak rame,” bujuk Aldo.
Aku hanya terdiam saat Aldo mengajak Reza pergi ke sekolah bareng. Setelah bujuk rayu Aldo selama beberapa menit, akhirnya Reza bersedia untuk bergabung ke dalam mobil Aldo. Reza masuk dan duduk di belakang karena aku sudah duduk di kursi depan.
Aldo mulai mengemudikan mobilnya dengan santai karna masih pukul 06.25 Wib. Aldo mengajak Reza mengobrol sedangkan aku hanya menatap jalan yang ada di depan.
“Za, nanti pulangnya bareng juga ya, biar makin akrab kita,” ucap Aldo.
Aku melihat Reza dari kaca mobil yang berada di dekat kepala Aldo. Reza hanya mengangguk saat menanggapi pertanyaan Aldo. Aku menarik napas dalam-dalam. Aldo yang melihatku melakukan hal itu langsung mengejekku.
“Lo kehabisan napas, Fay? Pasti karna ada Reza kan?” ucapnya.
Aku melirik ke arah Aldo dengan tatapan ngajak ribut, untung di mobil kalo gak pasti udah habih jadi karung tinju lagi. Aldo langsung kembal fokus ke kemudinya.
Sesampainya kami di sekolah, kami turun dan berjalan bertiga dengan Aldo yang berada di tengah. Mungkin kalo aku yang berada di tengah bisa gak sadar lagi kalo udah ada Reza.
Kami berpisah di dekat lapangan upacara. Aku langsung berbelok menuju kelasku dan tanpa ku sadari ternyata Aldo mengikutiku dari belakang.
“Lo ngikutin gue?” tanyaku saat tau Aldo berada di belakangku.
“Gak, kok. Gue mau ke kantin. Pede banget sih lo,” jawabnya yang membuatku kesal.
Aku tidak ingin menggubrisnya lagi. Aku melangkahkan kaki ke kelasku. Hal yang menyebalkan kembali terjadi, Syafrani belum sampai di sekolah. Bangkunya masih kosong. Aku meletakkan tasku dan pergi ke kantin menyusul Aldo. Aku melihat Aldo sedang duduk dengan seseorang yang menemaninya makan. Aku menghampirinya dan duduk di sebelahnya.
“Bagi dong!” ucapku lalu mengambil gorengan yang ada di tangan Aldo.
“Lo ngapain kesini?” tanya Aldo.
Aku tertawa kecil di depan Aldo dan temannya. Tanpa memedulikan Aldo dan orang yang berada di sampingnya.
“Syafrani belum datang, jadi gue mau nyusul lo aja ke kantin, mungkin aja kan lo mau traktir gue,” ucapku asal.
“Terserah lo deh, Fay. Eh iya, kenalin ini teman sekelas gue, Ridho,” ucap Aldo.
Aku hanya tersenyum sebentar ke Ridho dan memesan makanan.
“Faya, kalo gak salah lo pacarnya Alvin, ya?” tanya Ridho.