“Faya, bukain pintu dong, jutek amat sih Lo sama gue,” ucap Aldo di balik pintu kamarku.
“Ngapain lagi sih, Do. Ini kan udah malem, mendingan Lo pulang aja sana,” jawabku kesal.
Hari ini aku benar-benar kesal dengan Aldo. Aku tidak tau lagi apa Aldo itu masih sahabatku atau bukan. Meskipun aku tau Aldo itu perhatian dan peduli banget sama aku, tapi sikapnya hari ini benar-benar telah merusak mood-ku sehingga aku malas untuk bicara dengannya lagi.
“Fay, malem ini gue nginep lagi di rumah Lo. Lagian mama Lo juga masih ngizinin gue tinggal disini sampe kapanpun gue mau. Bukain pintu Lo dong,” bujuk Aldo.
Hampir lima belas menit aku membiarkan Aldo ngomong sendiri di depan pintu kamarku.
“Fay, kalo Lo gak bukain pintu, gue gak bakalan ngasih tau yang sebenarnya tentang Reza sama Lo!” ancam Aldo.
Aku segera beranjak dari ranjangku dan membukakan pintu untuk Aldo.
“Nah, gitu dong daritadi,” ucap Aldo hendak masuk ke kamar.
“Eits, entar dulu. Emang Lo mau ngapain di kamar gue?” tanyaku menahan Aldo yang masih di depan pintu.
“Ya udah kalo gak di kasih masuk, gue balik aja ke kamar dan Lo jangan nyesel kalo gue gak ceritain Reza sama Lo,” ucap Aldo kembali mengancam tidak menceritakan Reza.
Setelah pertimbangan beberapa saat, akhirnya aku mengizinkan Aldo untuk masuk ke kamar ku dan kami berjalan menuju balkon.
“Fay, ambilin minum dong!” ucap Aldo.
“Ambil aja sendiri di dapur! Lo kan punya kaki sama tangan,” ucapku kesal.
“Kalo gak mau ya udah, gue balik aja ke kamar,” ucap Aldo yang membalikkan badannya.
Aku menahan Aldo agar tidak kembali ke kamarnya dan terpaksa harus mengambilkannya air minum agar aku dapat mengetahui yang sebenarnya tentang Reza. Aku kembali ke kamar dengan wajah kesal sembari memegang segelas air. Lalu aku memberikan air itu kepada Aldo.
“Ini bukan air hujan yang kemarin kan?” tanya Aldo sedikit curiga.