Aku masih mondar-mandir di depan ruang UGD. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain menunggu tante Fina tiba di rumah sakit. Sesekali aku menoleh ke ruang UGD yang pintunya masih tertutup. Aku berharap agar Reza masih diberi kesempatan lagi untuk hidup. Dia pantas bahagia dengan orang yang dia cintai. Tiba-tiba aku teringat dengan Shera. Aku segera meraih ponselku dan mencari kontak Shera. Mengecewakan. Bagaimana mungkin aku tidak memiliki kontak Shera, apa aku harus minta tolong Erlangga untuk menghubunginya. Ah, tidak mungkin. Tapi aku gak punya pilihan lain.
Aku mulai menelpon Erlangga. Untungnya Erlangga segera mengangkat panggilanku.
“Ga, tolong kasih tau Shera buat datang ke rumah sakit sekarang. Aku gak punya waktu banyak,” ucapku tergesa-gesa.
“Ke rumah sakit? siapa yang sakit, kak?” tanya Erlangga.
“Please, Ga. Aku gak punya waktu banyak, tolong bilang ke Shera kalo Reza lagi di rumah sakit, dan tolong bilang padanya untuk segera ke sini,” ucapku lalu mematikan telponnya.
Aku masih mondar-mandir di depan pintu UGD. Aku berharap agar Reza bisa diselamatkan. Hampir setengah jam dokter memeriksa Reza dan belum keluar dari ruangan. Aku semakin cemas dengan keadaan Reza. Disisi lain tante Fina juga belum tiba di rumah sakit. Aku disini hanya sendirian.
“Faya, gimana sama Reza?” tanya tante Fina yang tiba-tiba datang dengan perasaan cemas.
Aku segera memeluk tante Fina seperti mamaku sendiri. Aku tidak sanggup lagi untuk mengatakan semuanya. Namun aku harus berusaha.
“Tante, maafin Faya. Kalo bukan karna Faya, Reza gak bakalan seperti ini,” ucapku yang masih meneteskan air mata.
Tante Fina akhirnya meneteskan air mata setelah tau kejadian yang sebenarnya. Tante Fina tidak menyalahkanku atas kecelakaan yang dialami Reza. Tante Fina berusaha menenangkanku di pelukannya.
Setengah jam kemudian pintu ruang UGD terbuka. Aku melihat Reza diatas ranjang dengan kondisi sangat lemah dibawa ke suatu ruangan. Seorang dokter yangbaru keluar dari ruang UGD itu menanyakan keluarga pasien. Tante Fina dan aku segera mengikuti dokter untuk pergi ke ruangannya.
Dokter menjelaskan beberapa bagian harus di operasi demi menyelamatkan pasien. Aku tau apa yang dirasakan tante Fina saat ini. Pasti ia sangat terpukul mendengar berita yang disampaikan oleh dokter.
“Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk Reza. Kami tidak ingin kehilangan dia, Dok!” ucapku.
Aku tidak tau apa yang ada di pikiranku. Aku melihat tante Fina masih menguraikan air mata. Mungkin ia tidak sanggup untuk berkata lagi.
Setelah itu kami keluar dari ruangan dokter. Aku sekarang merasa sedikit tenang karna sudah tau apa yangterjadi dengan Reza. Aku berusaha menenangkan tante Fina yang masih beruraikan air mata. Aku tau, sulit rasanya untuk dipercaya. Kehilangan seseorang yang paling disayangi.