Why It Is

Fataya
Chapter #19

Chapter 19

Sepulang sekolah, aku langsung menuju ke rumah sakit. Aku langsung masuk ke ruang rawat inap Reza. Disana aku melihat tante Fina yang masih menunggu Reza sadar. Sejak kemarin masih belum ada tanda-tanda Reza sadar dari komanya.

Aku mendekati tante Fina yang sedang melamun di sofa.

“Tante!” panggilku.

“Eh ada Faya, udah lama ya?” tanya tante Fina.

Aku tidak tega melihat keadaan tante Fina seperti ini. Aku merasa jika ia sedang tertekan ketika melihat kondisi Reza seperti ini. Aku menawarkan untuk menjaga Reza.

“Tante, hari ini biar Faya aja yang jaga Reza. Kasihan Keiza udah gak ketemu Tante dari kemarin,” tawarku.

Aku tahu, mungkin berat rasanya meninggalkan seorang anak dalam keadaan seperti ini. Dalam keadaan yang masih belum ada perkembangan. Atas bujuk rayu yang cukup lama, akhirnya tante Fina bersedia untuk kembali ke rumahnya dan aku yang menjaga Reza.

Sudah pukul delapan malam. Tadi sore Aldo datang kesini untuk mengantarkan baju ganti untuk bermalam di rumah sakit. Aku menunggu Reza sambil belajar dan mengerjakan tugas dari sekolah. sekitar pukul Sembilan malam, doa kami terjawab. Ada sedikit pergerakan dari tubuh Reza. Aku segera memanggil dokter untuk memeriksanya. Dan syukurlah, akhirnya Reza bisa melewati masa komanya. Aku sangat bersyukur dan segera memberitahu tante Fina. Terdengar tangisan bahagia dari ponsel yang ku genggam. Aku menjaga Reza hingga larut malam. Hingga aku tertidur disebelah Reza.

“Kak, bangun Kak!” ucap seseorang terdengar hendak membangunkanku.

“Kak, bangun!” ucapnya sekali lagi.

Aku membuka mataku dan melihat Reza sudah sadar. Tanpa disadari, aku meneteskan air mata karna melihat Reza yang masih diberi kesempatan untuk melihat dunia ini. Aku langsung memanggil dokter untuk mengecek keadaan Reza. Selesai pengecekan, aku menemani Reza kembali. Aku masih tidak bisa menahan air mata. Ini merupakan anugrah besar bagiku. Aku senang, Reza masih bisa merasakan indahnya dunia ini. Aku berjanji untuk tidak melakukan hal yang sama lagi pada Reza.

“Kak, kenapa kak Faya ada disini?” tanya Reza yang masih terlihat sedikit lemah.

Aku mengahpus air mataku, “Za, aku gantiin tante Fina buat jagain kamu. Kasihan Keiza udah ditinggal tante Fina dari kemarin,” ucapku.

“Kak, makasih ya,” ucap Reza yang terdengar samar.

“Makasih kenapa, Za?” tanyaku bingung.

Reza memperbaiki posisinya diatas ranjang untuk duduk namun aku mencegahnya, karena ia barusaja sadar dari masa komanya. Akhirnya Reza mengurungkan untuk duduk dan ia kembali berbaring di ranjangnya.

“Kak, makasih udah ada buat aku disaat kondisi seperti ini,” ucap Reza kemudian.

Aku menghela napas, aku merasa ini sudah menjadi tanggung jawabku karena kemarin Reza sudah menyelamatkanku sehingga ia seperti ini sekarang.

“Za, seharusnya aku yang makasih sama kamu. Mungkin kalo gak ada kamu, aku yang berada di posisi pembaringan ini,” ucapku berusaha lembut.

Setelah sekian lama aku tidak mendengar tawa Reza, kini ia tertawa dengan nada lemah. Aku senang melihatnya seperti ini.

“Za, maafin aku ya. mungkin aku udah teledor dan lupain kamu. Shera udah cerita semuanya sama aku,” ucapku lalu tertunduk.

Mungkin ini akan jadi yang terakhir untuk Reza. Aku tidak ingin ia merasakan hal yang sama lagi denganku. Aku akan menyayanginya dengan sepenuh hatiku, tanpa terkecuali.

Lihat selengkapnya