Why It Is

Fataya
Chapter #20

Chapter 20

“Za, gak terasa ya udah hampir sebulan kita jadian,” ucapku senang.

Aku dan Reza saat ini berada di taman komplek yang dekat dengan rumah kami. Aku merasa jika saat ini dunia hanya milikku saja dengan Reza. Semenjak aku menjalin hubungan dengan Reza, aku sudah tidak memedulikan Aldo lagi. Entah bagaimana nasibnya aku tidak tahu. Syafrani juga mulai jarang bersamaku lagi semenjak aku bersama Reza. Terkadang di kelas juga hanya menanyakan tugas lalu menghilang entah kemana. Intinya aku senang sekali menjalani kehidupanku yang sekarang ini.

“Kak, aku ke sana bentar ya,” ucap Reza lalu beranjak meninggalkanku.

Aku melihat Reza berjalan ke arah kios kecil yang berada di sebrang jalan. Setelah beberapa saat, akhirnya Reza kembali. Ia membawa sebuah kantong plastik yang tidak kuketahui isinya.

“Beli apa, Za?” tanyaku.

Reza membuka kantongnya dan mengambilkanku sebuah es krim.

“Ini buat kak Faya,” ucapnya sambil memberikan es krim itu.

“Kok kamu tau kalo aku suka es krim ini?” tanyaku sedikit heran.

Padahal semenjak aku menjalin hubungan dengan Reza, baru kali ini kami pergi ke taman berdua. Dan sebelumnya Reza juga tidak pernah tau tentang favoritku. Hari ini aku merasa sedikit aneh. Aku mencurigai seseorang.

“Za, jangan bilang kalo Aldo udah ngasih tau semuanya,” ucapku sedikit mengintrogasi.

Reza tersenyum kearahku, “kak, apapun yang kak Aldo ceritakan tentang kak Faya, aku akan mengingatnya dengan baik,” ucapnya lembut.

Gak nyangka Reza yang kemarin sudah berubah menjadi sebaik ini dan sangat peduli denganku. Aku senang sekali bisa bercengkrama lagi dengan Reza. Semoga ini akhir yang baik untuk kami berdua.

Hari semakin sore. Aku mengajak Reza untuk pulang ke rumah. Kami berdua berjalan kaki menyusuri trotoar yang pernah memberi kenangan buruk bagiku. Aku senang mendengar gelak tawa Reza sepanjang kami berjalan di trotoar, itu cukup untuk mewarnai suasana selama diperjalanan. Hingga tanpa sadar kami sudah berada di depan rumah Reza.

Awalnya Reza ingin mengantarkanku sampe ke rumah, namun aku menolak dan meminta Reza untuk langsung berbelok saja di rumahnya. Negosiasiku tidak berhasil akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke gerbang rumah secara bersamaan. Reza menungguku berjalan hingga sampai di depan gerbang rumahku. Setelah itu kami berdua masuk kedalam masing-masing.

Aku langsung masuk ke rumah dan berjalan menuju kamarku. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Aku segera membersihkan badanku, setelah itu aku membantu mama memasak di dapur.

Selesai makan malam, aku langsung masuk ke kamarku. Aku mengecek mata pelajaran besok apakah ada PR atau tidak. Aku menemukan catatan tugas yang belum aku selesaikan. Aku meraihnya dan membawanya ke balkon beserta alat tulisnya. Aku mulai mengerjakan tugas dari sekolah ini dengan perasaan yang sangat bahagia. Disaat itu pula seseorang telah menghancurkan kebahagiaanku dengan menelponku. Aku melihat di layar ponsel tertera nama Aldo.

“Ngapain sih, Lo nelpon malem-malem gini. Ganggu aja orang lagi belajar,” ucapku kesal.

Lihat selengkapnya