Widuri yang Tak Pernah Pulang

Dedy Prasetya Putra
Chapter #2

Chapter tanpa judul #2

 

WIDURI YANG TAK PERNAH PULANG

Novel

Prasetya

2026

 

DAFTAR ISI

Bab 1: Setelah Tujuh Hari

Bab 2: Kunci yang Salah

Bab 3: Surat-Surat yang Tak Pernah Terkirim

Bab 4: Nama yang Tidak Pernah Disebut

Bab 5: Rumah yang Tidak Pernah Utuh

Bab 6: Kos-Kosan Gang Mawar

Bab 7: Surat Pertama

Bab 8: Krisis Moneter Sampai di Gang Mawar

Bab 9: Pilihan

Bab 10: Surat Terakhir

Bab 11: Mei

Bab 12: Menunggu yang Tidak Pernah Selesai

Bab 13: Pakde Slamet Bicara

Bab 14: Kediri

Bab 15: Apa yang Tersisa

Bab 16: Membaca Semua Surat

Bab 17: Surat yang Tidak Pernah Ditulis

Bab 18: Yang Tidak Akan Pernah Diketahui

Bab 19: Rumah Ibu

Bab 20: Melepas

Bab 21: Widuri

Bab 22: Yang Tak Pernah Pulang, Yang Selalu Ada

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN I

Koper Tua

Bab 1–5 Malang, November 2019

 

Bab 1: Setelah Tujuh Hari

Malang, November 2019

 

Setelah Tujuh Hari

 

Katanya roh masih berkeliaran

tujuh hari setelah tubuh ditinggalkan —

mencium ambang pintu,

memeriksa apakah ada yang berubah,

apakah ada yang menangis

atau sudah berhenti.

 

Aku tidak menutup kunci.

Aku biarkan angin keluar masuk

seperti dulu kau keluar masuk

tanpa perlu mengetuk.

 

Tapi hari kedelapan datang juga.

Dan kunci itu harus kuputar.

Dan aku baru sadar:

ada pintu lain di rumahmu

yang tidak pernah kau buka untukku —

yang bahkan kuncinya

tidak kutahu di mana.

 

— Prasetya

————

Tujuh hari setelah orang mati, kata orang-orang, rohnya baru benar-benar pergi. Widuri tidak tahu apakah ia percaya itu. Tapi selama tujuh hari itu ia menjaga pintu depan tidak pernah terkunci, seperti yang dikatakan Budhe Parti, seperti yang dilakukan nenek-nenek sebelum mereka, supaya kalau toh ada yang ingin kembali sebentar untuk melihat-lihat, tidak ada yang menghalangi.

Kini hari kedelapan. Widuri memutar kunci pintu depan. Bunyi klik kecil itu terasa seperti sesuatu yang final.

 

* * *

 

Rumah ibunya di Jalan Semeru nomor 14 itu tidak besar, tidak kecil. Tiga kamar. Satu ruang tamu dengan kursi rotan yang sudah lama minta diganti. Dapur yang selalu berbau kayu manis entah mengapa, meski ibu tidak pernah memasak dengan kayu manis.

Saudara-saudara sudah pulang kemarin. Paklik dari Kediri, dua sepupu dari Surabaya, Budhe Parti yang datang paling awal dan pulang paling akhir tapi tetap pulang juga akhirnya. Mereka membawa piring-piring dan rantang-rantang kosong, meninggalkan amplop belasungkawa di atas meja, dan mencium pipi Widuri sambil berkata hal-hal yang baik tentang ibunya.

"Ibumu perempuan yang kuat," kata Paklik.

"Ibumu tidak pernah menyusahkan siapa-siapa," kata Budhe Parti.

Widuri mengangguk setiap kali. Iya, memang. Ibu memang begitu. Tidak pernah menyusahkan siapa-siapa. Tidak pernah meminta apa-apa dari siapa-siapa. Bahkan dari Widuri sendiri, yang adalah anak satu-satunya dan yang tinggal paling dekat tiga puluh menit dari sini kalau tidak macet  ibu tidak pernah meminta terlalu banyak. Kadang-kadang Widuri bertanya-tanya apakah itu baik atau tidak.

 

* * *

 

Ada yang perlu dikerjakan hari ini: membereskan kamar ibu. Widuri sudah menunda ini sejak hari pertama. Selalu ada alasan ada tamu, ada yang perlu diurus, ada kenduri kecil yang diselenggarakan tetangga sebagai bentuk ikut berduka. Sekarang tidak ada lagi alasan. Hanya ada Widuri dan rumah yang mulai terasa terlalu besar untuk satu orang.

Ia mulai dari lemari pakaian. Baju-baju ibu terlipat rapi,  ibu memang selalu rapi, sampai di akhir, sampai ketika tangan-tangannya sudah gemetaran dan Widuri harus membantu mengancingkan baju. Baju-baju itu akan ia sortir nanti: mana untuk disumbangkan, mana yang mungkin ingin disimpan. Sekarang ia hanya menutup lemari itu kembali.

Laci meja rias berisi hal-hal kecil: sisir bergigi jarang, botol parfum yang hampir habis, kacamata baca cadangan, buku rekening yang sudah lama tidak dipakai karena ibu beralih ke ATM, dan sebuah amplop coklat yang berisi foto-foto lama. Widuri duduk di tepi ranjang dan membuka amplop itu.

 

 

* * *

Foto pertama: ibu muda, mungkin usia dua puluhan, berdiri di depan sebuah bangunan yang Widuri tidak kenali. Ibu mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam, rambutnya digelung longgar. Ia tersenyum ke kamera dengan cara yang belum pernah Widuri lihat  bukan senyum yang diatur, bukan senyum yang sudah dilatih untuk tamu dan tetangga, tapi senyum karena sungguh-sungguh senang.

Foto kedua: ibu bersama beberapa orang lain, semuanya muda, semuanya berdiri agak berantakan di depan sebuah spanduk. Tulisan di spanduk terpotong, hanya terbaca sebagian  Widuri bisa membaca "...KAMI MENUNTUT..." sebelum tepi foto memotong sisanya. Ada enam orang di foto itu. Ibu berdiri di ujung kiri. Di sebelah ibu, seorang laki-laki berambut gondrong yang tangannya seperti hampir-hampir, tapi tidak jadi menyentuh bahu ibu.

Widuri membalik foto itu. Di belakangnya ada tulisan tangan dengan tinta biru yang sudah memudar: Maret '98. Ia membaliknya lagi. Menatap wajah laki-laki berambut gondrong itu. Tidak ada yang ia kenal.

 

* * *

Di dalam amplop masih ada beberapa foto lagi  semua dari era yang sama, semuanya ada wajah-wajah yang tidak Widuri kenali. Tidak ada foto bapak. Tapi Widuri sudah lama tahu bahwa memang tidak akan ada foto bapak ibu tidak pernah membicarakan bapak, dan Widuri sudah belajar untuk tidak bertanya.

 

Yang menarik perhatian Widuri bukan foto-foto itu.

Yang menarik perhatiannya adalah lembar kertas koran yang terlipat kecil, terselip di antara foto-foto kertasnya sudah kuning dan rapuh di lipatan-lipatannya. Widuri membukanya dengan hati-hati. Sebuah artikel dengan foto kecil di pojok kiri: beberapa mahasiswa, judulnya kabur karena kertasnya robek di bagian atas. Yang tersisa hanya baris-baris teks kecil dan sebuah kalimat yang bisa dibaca: "...hingga kini belum diketahui keberadaannya..."

Sisanya hilang bersama robekan kertas.

 

* * *

Widuri meletakkan foto-foto dan koran itu kembali ke dalam amplop. Ia letakkan amplop itu di atas meja rias. Kemudian ia keluar dari kamar ibu dan berjalan ke dapur, merebus air untuk teh, berdiri di depan kompor sambil menunggu dengan kepala yang sebenarnya sedang memikirkan hal yang tadi dilihatnya tapi belum bisa merumuskannya menjadi pertanyaan.

Ia tidak menemukan koper itu sampai sore, ketika ia memutuskan untuk membereskan gudang kecil di samping kamar mandi.

 

* * *

Gudang itu kecil dan pengap, berisi hal-hal yang tidak tahu ke mana harus pergi: kardus-kardus lama, sepeda yang bannya sudah kempes bertahun-tahun, kipas angin yang rusak tapi sayang dibuang. Dan di sudut paling belakang, setengah tersembunyi di balik kardus berisi buku-buku pelajaran Widuri waktu SMP  ia sendiri yang menaruhnya di sini waktu itu  sebuah koper.

Bukan koper besar. Koper sedang, warna coklat tua, dari jenis yang punya kunci di tengahnya. Model lama, dari sebelum koper bisa pakai roda. Model yang harus dijinjing.

Widuri belum pernah melihat koper ini sebelumnya. Atau mungkin pernah melihat tapi tidak pernah memperhatikan  benda yang terlalu lama di satu tempat akhirnya menjadi bagian dari latar, tidak terlihat lagi.

Ia mencoba membuka kuncinya. Terkunci.

Ia angkat koper itu  ada isinya, terasa cukup berat. Ia gendong keluar dari gudang, ia taruh di lantai ruang tengah di bawah cahaya lampu yang lebih terang.

Ia pergi ke kamar ibu, mengambil amplop coklat dengan foto-foto tadi, mencari-cari apakah ada kunci kecil yang luput dari perhatiannya. Tidak ada.

Ia coba setiap laci, setiap sudut, setiap tempat yang mungkin menjadi persembunyian kunci kecil. Satu jam berlalu. Tidak ada.

 

* * *

 

 

 

Pukul enam sore, Widuri duduk di lantai ruang tengah dengan koper coklat tua di depannya.

Di luar, suara adzan maghrib mulai terdengar dari masjid seberang jalan. Suara itu selalu ada selama Widuri kecil  setiap sore, suara yang sama, dari arah yang sama. Dulu ibu akan memanggil dari dapur: "Wid, adzan, cuci tangan dulu." Sekarang tidak ada suara dari dapur.

Widuri menatap koper itu.

Ia tidak tahu mengapa ia ragu. Ini rumah ibunya, koper ibunya, dan ibunya sudah pergi. Tidak ada yang perlu dimintai izin lagi. Dan toh Widuri juga bukan orang yang suka mengurusi hal-hal yang bukan urusannya  tapi ini rumah ibu, dan ibu sudah tidak ada, jadi ini menjadi urusannya sekarang.

Tapi ada sesuatu dalam cara koper itu tersembunyi di balik kardus, ada sesuatu dalam cara kuncinya terkunci dan kuncinya tidak ada di mana-mana, yang membuat Widuri merasa bahwa ada yang sengaja.

Bahwa koper ini memang tidak dimaksudkan untuk dibuka. Setidaknya tidak oleh sembarang orang. Setidaknya tidak sembarangan waktu.

 

* * *

Widuri akhirnya mengangkat koper itu dan membawanya ke mobilnya di halaman. Ia tidak bisa membukanya malam ini  tidak dengan pikiran seperti ini, tidak sendirian, tidak setelah tujuh hari yang menguras segalanya.

Ia akan bawa pulang. Ia akan cari tahu dulu di mana kuncinya. Dan kalau tidak ketemu, baru ia pikirkan langkah berikutnya.

Ia kunci pintu depan rumah ibu. Mematikan lampu-lampu satu per satu. Di dapur ia berdiri sebentar bau kayu manis itu masih ada, entah dari mana. Mungkin sudah meresap di dinding selama bertahun-tahun dan tidak akan hilang begitu saja hanya karena yang memasaknya sudah pergi.

Widuri mematikan lampu dapur. Ia berjalan keluar. Mengunci pintu belakang.

Di dalam mobilnya, sebelum menyalakan mesin, ia duduk diam sebentar di kursi pengemudi. Di jok belakang, koper coklat tua itu berdiri diam. Dalam keremangan cahaya sore yang hampir habis, warna coklatnya tampak lebih gelap dari tadi.

Widuri menyalakan mesin. Ia tidak tahu  belum tahu  bahwa di dalam koper itu ada dua puluh tiga surat. Bahwa surat-surat itu semua ditujukan kepada seseorang bernama Rendra. Bahwa tidak satu pun dari surat itu pernah terkirim.

Ia tidak tahu bahwa malam ini, di rumahnya sendiri, ia tidak akan bisa tidur.

 

* * *

Bab 2: Kunci yang Salah

Malang, November 2019

 

Kunci

Kunci yang kau tinggalkan

tidak selalu berbentuk besi.

 

Ada yang tersimpan dalam cara

kau membalik badan ketika aku bertanya.

Ada yang tersimpan dalam diam

yang kau pilih setiap kali meja makan

menjadi terlalu sunyi untuk diisi kata.

 

Aku mencari kunci itu di setiap laci,

di setiap lipatan baju,

di belakang cermin yang sudah lama

tidak kau tatap dengan sungguh-sungguh.

 

Tidak ada.

 

Atau mungkin ada —

tapi kuncinya adalah pertanyaan

yang tidak pernah berani aku ajukan

selagi kau masih bisa menjawab.

 

— Prasetya

————

Widuri tidak bisa tidur. Bukan karena koper itu  atau setidaknya bukan hanya karena koper itu. Sudah seminggu lebih ia tidak bisa tidur dengan benar, sejak malam ketika ia mendapat telepon dari tetangga ibu bahwa ibunya jatuh di kamar mandi dan tidak bisa bangun sendiri. Sejak malam itu tidurnya selalu separuh, selalu setengah mendengarkan sesuatu yang tidak berbunyi.

Koper itu ia letakkan di sudut kamar tidurnya, di samping lemari. Bukan di atas kasur, bukan di tengah ruangan. Di sudut. Seperti meletakkan sesuatu yang belum tahu harus diapakan.

Pukul dua belas malam ia bangkit, menyalakan lampu meja, dan duduk di tepi ranjang menatap koper itu.

Coklat tua. Kunci di tengah, model putar. Jenis koper yang sudah tidak diproduksi lagi. Jenis yang ada di foto-foto keluarga lama, yang selalu ada di bawah ranjang nenek-nenek, berisi hal-hal yang terlalu penting untuk dibuang tapi terlalu berat untuk selalu dilihat.

* * *

Pagi harinya Widuri menelepon Pakde Slamet. Pakde Slamet adalah satu-satunya saudara kandung ibunya yang masih hidup — lebih tua dua tahun, tinggal di Blitar, sudah lama pensiun dari pekerjaannya sebagai pegawai kecamatan. Mereka tidak dekat dalam artian sering bertelepon atau saling berkunjung, tapi Pakde selalu datang di momen-momen yang penting: pernikahan, kematian, lebaran.

"Pakde," kata Widuri setelah basa-basi singkat. "Ibu punya koper coklat tua. Aku tidak menemukan kuncinya."

Jeda sebentar di ujung telepon.

"Koper yang mana?" kata Pakde.

"Yang disimpan di gudang. Coklat tua, dikunci. Pakde tahu?"

Jeda lagi. Lebih panjang kali ini.

"Coba cari di tempat lain dulu," kata Pakde akhirnya. "Mungkin ada di suatu tempat."

"Sudah aku cari semalam. Tidak ketemu."

"Ya sudah, coba cari lagi." Suara Pakde tidak berubah intonasinya — datar, seperti orang yang berbicara tentang hal yang biasa. "Kalau tidak ketemu ya dibuka paksa saja."

Mereka bicara sedikit lagi tentang hal-hal lain — kondisi Pakde, kapan Widuri akan ke Blitar untuk urusan warisan rumah. Lalu telepon dimatikan.

Widuri menatap ponselnya sebentar setelah sambungan terputus.

Ada sesuatu dalam cara Pakde menjawab terlalu cepat menyarankan dibuka paksa, terlalu tidak penasaran tentang isi koper yang membuat Widuri merasa Pakde tahu lebih dari yang ia katakan.

 

 

* * *

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia menghabiskan pagi itu mencari kunci. Kali ini lebih sistematis. Ia membawa semua barang-barang ibu yang belum ia buka  tas-tas lama, dompet cadangan, kotak perhiasan  ke meja makan dan memeriksa satu per satu.

Tas kulit hitam yang sudah retak di sudut-sudutnya: berisi tisu lama, sebuah sisir kecil, permen jahe, dan selembar kertas bertuliskan nomor telepon tanpa nama. Tidak ada kunci.

Dompet merah yang sudah pudar warnanya: KTP lama, kartu berobat, foto Widuri waktu SD yang sudut-sudutnya sudah melengkung, dan uang dua puluh ribu yang sudah lusuh. Tidak ada kunci.

Kotak perhiasan kayu: kalung-kalung perak yang sudah menghitam, sepasang anting emas kecil, cincin tanpa batu, dan di bawah lapisan beludru merah yang sudah pudar — tidak ada kunci, tapi ada sesuatu yang lain.

Sebuah foto yang terlipat dua.

 

* * *

Foto itu lebih kecil dari foto-foto di amplop coklat. Ukuran seperti foto yang diambil dari buku atau majalah, digunting rapi di tepinya.

Seorang laki-laki. Muda, mungkin awal dua puluhan. Kemeja flannel, rambut gondrong yang tidak disisir rapi, kacamata bulat. Ia tidak menatap kamera matanya melihat ke arah lain, seperti orang yang tidak tahu sedang difoto, atau tidak peduli.

Widuri balik foto itu. Tulisan tangan ibunya: R. 1997. Hanya itu. Satu huruf dan satu angka tahun. Widuri letakkan foto itu di atas meja. Ia duduk. Ia tatap huruf R itu dalam waktu yang cukup lama.

Rendra.

Nama itu ada di sampul surat-surat dalam koper. Ia belum membuka satu pun suratnya  koper masih terkunci  tapi ia membaca nama itu di bagian luar amplop-amplop yang terlihat ketika ia menerangi sela-sela koper dengan senter ponselnya semalam. Jadi ini Rendra.

 

* * *

 

Sore itu Widuri pergi ke toko perkakas di dekat rumah dan membeli alat pembuka kunci paksa semacam kawat tebal yang bisa diselipkan ke lubang kunci. Penjaga toko menjelaskan caranya dengan sabar. Widuri mendengarkan, membeli alatnya, dan pulang.

Ia tidak langsung membuka koper begitu sampai di rumah. Ia masak dulu. Nasi goreng sederhana dari nasi sisa. Ia makan di meja makan sendirian sambil menonton berita di televisi yang suaranya ia kecilkan  bukan untuk ditonton, hanya untuk pengisi sunyi. Baru setelah piring dicuci dan televisi dimatikan, ia duduk di lantai di depan koper itu.

Ia coba kawat itu di lubang kuncinya. Membutuhkan waktu hampir dua puluh menit  lubang kunci sudah berkarat sedikit di dalamnya, kawat harus diputar dengan sudut yang tepat. Tapi akhirnya ada bunyi klik. Kunci terbuka. 

 

* * *

Widuri tidak langsung mengangkat tutup koper. Ia berdiam sebentar dengan tangan di atas tutupnya. Di luar sudah gelap. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan lebih. Dari rumah sebelah terdengar sayup-sayup suara televisi  sinetron, dari suara musiknya.

Ada rasa yang tidak bisa ia namakan dengan tepat. Bukan takut. Bukan juga sekadar penasaran. Sesuatu di antaranya  perasaan bahwa apa pun yang ada di dalam koper ini, ia tidak akan bisa berpura-pura tidak tahu setelahnya. Ibunya sudah menyimpan ini selama puluhan tahun. Mungkin ada alasannya. Tapi ibunya juga sudah pergi. Dan Widuri sudah empat puluh tiga tahun hidup dengan terlalu banyak hal yang tidak ia tanyakan. Ia angkat tutup koper itu.

 

* * *

 

Yang pertama ia lihat adalah kain. Selembar kain batik yang digunakan sebagai pembungkus  motif kawung, warna soga coklat yang sudah memudar. Kain itu dibungkuskan dengan rapi, seperti orang membungkus sesuatu yang berharga.

Widuri buka kain itu perlahan. Di bawahnya: tumpukan amplop. Semuanya tertutup, semuanya sudah menguning di tepinya. Widuri menghitung  dua puluh tiga. Semua ditujukan dengan tulisan tangan yang sama: Untuk Rendra, diikuti alamat yang berbeda-beda di setiap amplop. Ada yang bertuliskan nama jalan di Malang. Ada yang hanya bertuliskan nama kota. Ada satu yang hanya bertuliskan Rendra, tanpa alamat sama sekali, seolah penulis tidak tahu lagi harus mengirim ke mana.

Tidak satu pun dari amplop itu ada tanda cap pos. Tidak satu pun yang pernah dikirim.

Di samping tumpukan amplop: sebuah buku harian kecil dengan sampul hitam, karet gelang yang sudah rapuh melilit di sekelilingnya. Dan di bawah semuanya, terlipat rapi: selembar kain putih kecil — seperti sapu tangan — yang sudah kekuningan.

Widuri mengambil buku harian itu. Karet gelangnya putus begitu disentuh, hancur karena usia.

Ia buka halaman pertama. Tulisan tangan ibunya, lebih muda, lebih rapi dari tulisan di hari-hari terakhir ketika tangan ibu sudah mulai gemetaran: Sri Wahyuni. Malang, 1997.

 

* * *

Widuri menutup buku harian itu. Bukan karena tidak ingin membaca. Tapi karena tiba-tiba ia menyadari bahwa kalau ia mulai membaca malam ini, ia tidak akan bisa berhenti. Dan ia perlu berhenti sebentar. Ia perlu bernapas. Ia letakkan semua kembali ke dalam koper dengan hati-hati  surat-surat, buku harian, kain putih kecil itu. Ia tutup tutup kopernya, tapi tidak menguncinya lagi. Tidak perlu dikunci lagi. Ia berdiri, meregangkan punggungnya yang pegal karena terlalu lama duduk di lantai.

Di dapur ia menuang air putih dan meminumnya berdiri di depan wastafel, menatap jendela dapur yang hanya memantulkan bayangan dirinya sendiri karena di luar sudah gelap total.

Perempuan di pantulan jendela itu menatap balik. Wajahnya familiar  itu wajahnya sendiri  tapi malam ini terasa seperti wajah orang yang baru saja mulai mengenal dirinya sendiri dari awal.

Sri Wahyuni.

Widuri mengulang nama itu dalam pikirannya. Nama ibunya. Nama yang ia tahu, yang ada di semua dokumen, yang selalu ia tulis di kolom "nama ibu" di formulir apa pun. Tapi malam ini nama itu terasa seperti milik orang lain  seorang perempuan muda berusia dua puluhan yang menulis surat-surat yang tidak pernah terkirim kepada seseorang bernama Rendra, yang menyimpan semuanya dalam koper yang dikunci dan ditaruh di sudut gudang selama lebih dari dua puluh tahun. Seorang perempuan yang sama sekali tidak Widuri kenal.

Bab 3: Surat-Surat yang Tak Pernah Terkirim

Malang, November 2019

 

Surat

Kata yang tidak sampai

bukan berarti kata yang hilang.

 

Ia hanya tinggal lebih lama

di tangan yang menulisnya —

meresap ke dalam kulit,

menjadi bagian dari tubuh

yang tidak bisa lagi dipisahkan.

 

Dua puluh tiga surat.

Dua puluh tiga kali

seseorang memilih untuk tetap berbicara

kepada orang yang tidak bisa mendengar.

 

Itu bukan kegilaan.

Itu adalah cara lain dari doa.

 

— Prasetya

————

Keesokan harinya Widuri membaca surat pertama. Ia sudah menyeduh kopi sejak pukul enam pagi, sudah duduk di meja makan dengan koper terbuka di hadapannya, sudah mengambil dan meletakkan kembali tumpukan surat itu dua kali sebelum akhirnya memutuskan untuk mulai.

Dua puluh tiga amplop. Ia urutkan berdasarkan tanggal yang tertulis di pojok kiri atas setiap amplop  beberapa tidak bertanggal, ia sisihkan dulu. Yang bertanggal, urutan paling awal adalah Oktober 1997. Yang paling akhir: tanpa tanggal, hanya bertuliskan setelah Mei di pojok atas dengan tulisan yang sedikit berbeda, lebih tegang, lebih tertekan menekan kertasnya.

Widuri mengambil amplop pertama. Membukanya dengan hati-hati, ujung jarinya menelusuri tepian kertas yang sudah getas. Kertas di dalamnya terlipat tiga. Ia buka.

 

Oktober 1997

Rendra,

Aku tidak tahu kenapa aku menulis ini. Kamu tinggal di kos yang sama kota yang sama dan aku bisa saja mengetuk pintumu kapan saja. Tapi ada hal-hal yang lebih mudah ditulis daripada diucapkan. Kamu pernah bilang begitu waktu kita bicara tentang Pramoedya  bahwa menulis adalah cara berpikir yang paling jujur karena tidak ada yang bisa memotong di tengah kalimat.

Jadi ini adalah cara berpikirku yang paling jujur tentang kamu.

Aku pikir aku menyukaimu. Bukan karena argumenmu yang sering menjengkelkan itu. Tapi karena kamu satu-satunya orang yang aku kenal yang mendengarkan sampai selesai sebelum menjawab. Semua orang lain selalu sudah menyiapkan jawaban sebelum kamu selesai bicara.

Aku tidak akan mengirim surat ini. Aku hanya ingin menulisnya.

Yuni

 

* * *

Widuri meletakkan surat itu di atas meja.

Yuni. Ibunya menulis namanya sendiri sebagai Yuni  nama kecil, nama yang dipakai di antara teman-teman, bukan Sri Wahyuni yang resmi dan formal. Widuri tidak pernah memanggil ibunya Yuni. Tidak ada yang memanggilnya Yuni di hadapan Widuri  selalu Ibu, atau Bu Wahyu, atau Bu Sri.

Ia ambil cangkir kopinya. Meminumnya seteguk. Sudah dingin. Perempuan dalam surat itu  perempuan yang menyukai seseorang dan memilih untuk menulisnya daripada mengatakannya  terasa sangat nyata dan sangat asing sekaligus. Nyata karena tulisan tangannya adalah tulisan tangan yang sama yang menulis daftar belanja di kulkas, yang menandatangani buku rapor, yang mengirim kartu ulang tahun setiap tahun sampai Widuri bilang ibu tidak perlu repot-repot. Asing karena tidak ada satu pun dari kata-kata dalam surat itu yang pernah Widuri dengar dari mulut ibunya.

Ibunya tidak pernah bicara tentang perasaan. Bukan karena tidak berperasaan  Widuri tahu itu  tapi karena ada sesuatu yang sepertinya menutup kata-kata itu rapat di dalam. Dan sekarang Widuri sedang membaca perasaan itu.

Dua puluh tiga surat penuh.

 

 

* * *

Ia membaca surat kedua, ketiga, keempat. Surat-surat itu bergerak mengikuti waktu seperti buku harian yang terpotong-potong  tidak setiap hari, tidak teratur, hanya ditulis ketika ada sesuatu yang terlalu besar untuk disimpan dalam diam. Dari surat-surat itu Widuri menyusun gambar perlahan-lahan, seperti memasang puzzle yang sebagian kepingnya hilang.

Rendra adalah mahasiswa Ilmu Politik semester empat. Asalnya dari Kediri, anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya petani, ibunya guru SD. Ia ke Malang dengan beasiswa yang hampir tidak cukup dan kiriman dari orang tua yang selalu tepat waktu meski jumlahnya pas-pasan. Ia bergabung dengan kelompok diskusi mahasiswa yang ibunya juga ikut  bukan kelompok yang resmi terdaftar, hanya sekumpulan orang yang bertemu setiap Kamis malam di warung kopi dekat kampus untuk membaca dan berdebat.

Dari surat kelima, tertanggal Desember 1997, Widuri tahu bahwa pada titik itu ibunya dan Rendra sudah menganggap diri mereka sepasang — tidak ada deklarasi formal yang tertulis, tapi ada kalimat: kita jalan ke pasar minggu ini dan ia membelikanku buku yang sudah lama aku incar, dan cara ibunya menulis kalimat itu membuat Widuri yakin bahwa di antara keduanya sudah ada sesuatu yang disepakati tanpa perlu diucapkan.

 

* * *

Surat keenam berbeda nada dari yang sebelumnya. Masih Desember 1997, tapi kali ini ada ketegangan yang masuk ke dalam tulisan  kalimat-kalimat lebih pendek, spasi antarbaris lebih rapat seolah ditulis dengan terburu-buru atau dengan pikiran yang berpacu.

 

Desember 1997

Rendra,

Rupiah jatuh lagi hari ini. Aku dengar dari radio di warung. Pak Warno yang jual bakso depan kos sudah menaikkan harga dua kali dalam sebulan. Teman-teman di kos mulai ada yang mengurangi makan. Kiriman dari rumah datang tapi nilainya sudah tidak sama lagi dengan bulan lalu padahal jumlahnya sama.

Kamu bilang ini bukan sekadar krisis ekonomi. Kamu bilang ini adalah akibat dari sesuatu yang sudah lama salah dan tidak bisa diperbaiki hanya dengan kebijakan moneter. Aku mendengarkanmu dan aku pikir kamu benar. Tapi aku juga takut. Bukan takut pada yang kamu bicarakan — takut pada ke mana kamu akan pergi dengan keyakinan itu.

Tolong jangan pergi terlalu jauh tanpa bilang aku.

 

Yuni

 

* * *

 

Widuri berhenti di surat ini lebih lama. Tolong jangan pergi terlalu jauh tanpa bilang aku. Kalimat itu sederhana. Tapi Widuri membacanya dan merasakan sesuatu yang berat  bukan kesedihan yang dramatis, tapi semacam pengakuan yang datang perlahan: ibunya sudah tahu. Dari Desember 1997, ibunya sudah tahu bahwa ada kemungkinan seseorang bisa pergi dan tidak kembali. Dan ibunya tetap di sana. Tetap menulis. Tetap menunggu.

Widuri melirik jam di dinding. Pukul sepuluh pagi. Ia sudah duduk di sini hampir empat jam. Kopi di cangkirnya sudah lama dingin dan tidak ia habiskan. Di luar terdengar suara motor lewat, suara anak-anak berangkat sekolah, suara dunia yang berjalan seperti biasa tanpa peduli bahwa di dalam rumah ini seseorang sedang membongkar ulang seluruh gambar yang ia punya tentang ibunya.

 

* * *

Ia membaca terus sampai surat ke-dua belas sebelum beristirahat. Dari surat-surat itu ia tahu: awal 1998 situasi semakin tegang. Rendra semakin sering tidak ada  pergi ke diskusi, ke pertemuan, ke tempat-tempat yang tidak selalu ia ceritakan. Ibunya menulis dengan nada yang berganti-ganti: kadang tenang, kadang cemas, kadang marah dengan cara yang tidak pernah diungkapkan langsung tapi terasa dari kata-kata yang dipilih. Surat ke-sepuluh, Februari 1998:

 

Februari 1998

Rendra,

Ibu telepon tadi. Menanyakan kabar, menanyakan nilai ujian, menanyakan apakah aku sudah makan dengan benar. Aku bilang semuanya baik-baik saja. Aku tidak bilang bahwa beras di kos tinggal separuh karung dan kami patungan beli tempe setiap dua hari sekali supaya semua kebagian.

Aku tidak mau ibu khawatir. Tapi aku juga tidak bisa terus berbohong dengan cara diam.

Kamu tahu aku tidak suka diam. Tapi belakangan ini aku belajar bahwa diam adalah pilihan yang paling mudah ketika kamu tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu kepada orang yang kamu cintai tanpa membuat mereka takut.

Aku kira kamu juga sedang belajar hal yang sama.

 

Yuni

 

* * *

 

Widuri membaca kalimat terakhir itu dua kali. Diam adalah pilihan yang paling mudah ketika kamu tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu kepada orang yang kamu cintai tanpa membuat mereka takut.

Ia letakkan surat itu. Ia sandarkan punggungnya ke kursi. Semua ini  semua dua puluh tahun diam yang Widuri tumbuh di dalamnya, semua pertanyaan yang tidak pernah dijawab, semua ruang kosong di antara ibu dan anak yang Widuri selalu anggap sebagai tabiat atau jarak atau entah apa  semua itu sudah ada bibitnya di sini. Di surat yang ditulis ibunya ketika ibunya masih dua puluh tahun. Sebelum Widuri lahir. Sebelum ada yang perlu dilindungi.

Ibunya sudah belajar diam sebelum ia punya alasan untuk diam.

Dan ketika alasan itu datang  ketika ada seseorang yang harus dijaga dari ketakutan  diam itu sudah menjadi kebiasaan yang terlalu dalam untuk diubah.

 

* * *

 

Widuri tidak membaca sisa surat-surat itu hari itu. Ia rapikan kembali, masukkan ke dalam koper, letakkan koper di sudut ruang tamu. Bukan di kamar tidur lagi  terlalu dekat, terlalu mudah dijangkau di tengah malam ketika pikiran tidak bisa dihentikan.

Ia perlu jarak. Bukan jarak yang jauh  hanya cukup jauh untuk bisa bernapas.

Sore itu ia menelepon Pakde Slamet lagi. Kali ini bukan untuk bertanya tentang kunci.

"Pakde," katanya, "Siapa Rendra?"

Sunyi yang panjang di ujung telepon. Lebih panjang dari sebelumnya.

"Dari mana kamu tahu nama itu?" kata Pakde akhirnya. Suaranya berbeda — lebih pelan, lebih hati-hati, seperti orang yang sedang memilih di mana harus menapak di tanah yang tidak stabil.

"Dari surat-surat di koper ibu." Sunyi lagi.

"Pakde tahu siapa dia?" desak Widuri.

Pakde menarik napas panjang Widuri bisa mendengarnya melalui telepon, napas orang tua yang sudah lama menyimpan sesuatu dan tiba-tiba diminta mengeluarkannya.

"Aku tahu," kata Pakde. "Tapi ini bukan sesuatu yang bisa aku ceritakan lewat telepon, Wid. Kalau kamu mau tahu, kamu harus ke sini."

 

* * *

Malam itu Widuri duduk di depan laptopnya dan mencari tiket bus Malang–Blitar untuk akhir pekan. Ia ketik nama Rendra di mesin pencari. Nama itu terlalu umum  ratusan hasil keluar, tidak ada yang relevan. Ia coba tambahkan kata kunci: mahasiswa, 1998, Malang. Masih tidak jelas. Ia coba: aktivis mahasiswa hilang 1998. Kali ini ada beberapa artikel sebagian besar dari lembaga HAM, sebagian dari jurnalis investigasi, sebagian dari arsip media lama yang sudah didigitalisasi.

Ia membaca sambil tangannya pelan-pelan menjadi dingin. Bukan karena ia menemukan nama Rendra di sana. Tapi karena ia tidak menemukannya  dan ketidakhadiran itu, di antara semua nama yang ada, terasa seperti jawaban yang paling berat dari semua kemungkinan jawaban yang ada. Ada yang hilang dan dicatat. Ada yang hilang dan tidak dicatat. Ia tidak tahu Rendra yang mana. Belum.

Bab 4: Nama yang Tidak Pernah Disebut

Malang, 2019 / Kenangan 1990-an

 

 Nama

Ada nama yang tidak pernah disebut

bukan karena terlupakan —

tapi karena terlalu sering diingat

sampai terasa berbahaya

untuk diucapkan keras-keras.

 

Anak-anak belajar membaca ruang

sebelum mereka belajar membaca kata.

Mereka tahu kapan harus diam.

Mereka tahu pertanyaan mana

yang akan disambut dengan mata

yang berpaling ke jendela.

 

Maka mereka berhenti bertanya.

Bukan karena tidak ingin tahu.

Tapi karena mereka mencintai

orang yang tidak bisa menjawab.

 

— Prasetya

 

————

Widuri membeli tiket bus untuk Jumat malam. Tiga hari lagi. Tiga hari yang harus dijalani dengan koper itu di sudut ruang tamu dan sisa sembilan belas surat yang belum dibaca dan nama Pakde Slamet yang sudah dua kali ia hubungi sejak telepon terakhir itu tapi tidak diangkat.

Ia tidak memaksa. Pakde sudah tua, sudah sakit-sakitan sejak tahun lalu. Ada waktunya. Yang ia lakukan selama tiga hari itu adalah mengingat.

Ingatan 

Widuri kelas tiga SD. Pulang sekolah dan menemukan ibu sedang memandangi sesuatu di meja dapur  selembar kertas, sepertinya, yang langsung dilipat dan dimasukkan ke kantong celemek begitu Widuri masuk pintu.

"Apa itu, Bu?"

"Tidak ada. Sudah ganti baju dulu."

Widuri ganti baju. Makan siang. Tidur siang. Bangun dan mengerjakan PR. Dan tidak pernah bertanya lagi tentang kertas itu karena sesuatu dalam cara ibu melipatnya memberi tahu Widuri bahwa ada hal-hal yang tidak perlu ditanyakan.

 

 

 

Itu adalah pelajaran pertama yang Widuri ingat tentang diam. Bukan pelajaran yang diajarkan dengan kata-kata. Tidak ada ibu yang berkata: ada hal-hal yang tidak perlu kamu tahu. Hanya ada gestur  cara melipat kertas, cara mata beralih ke jendela, cara topik berganti ke sesuatu yang lebih aman  yang lama-kelamaan Widuri pelajari sebagai bahasa tersendiri. Bahasa yang artinya: sampai di sini saja.

 

* * *

Ingatan 

Widuri kelas enam. Ada tugas sekolah: membuat pohon keluarga. Ia bertanya kepada ibu tentang nama-nama yang perlu diisi di kolom ayah.

"Bapakmu sudah tidak ada," kata ibu. Datar, seperti menyebut fakta cuaca.

"Meninggal?"

Jeda yang terlalu panjang untuk jeda biasa.

"Sudah tidak ada," ulang ibu. "Tulis saja namamu sendiri. Gurumu pasti mengerti."

Widuri menulis pohon keluarga dengan kolom ayah yang kosong. Gurunya tidak berkomentar. Mungkin memang mengerti. Mungkin juga tidak ingin repot.

 

Sudah tidak ada. Bukan meninggal. Bukan pergi. Bukan bercerai. Sudah tidak ada  frasa yang cukup luas untuk menyembunyikan segala kemungkinan di dalamnya, dan cukup final untuk menghentikan pertanyaan lanjutan dari anak sebelas tahun yang sudah belajar membaca bahasa diam ibunya.

Widuri tidak bertanya lagi. Ia isi kolom itu dengan garis horizontal dan melanjutkan hidupnya.

* * *

Ingatan

SMP kelas dua. Seorang teman bertanya: bapakmu kerja apa?

"Sudah tidak ada," kata Widuri. Persis seperti yang ibunya katakan. Nada yang sama, frasa yang sama.

Temannya mengangguk dan tidak bertanya lagi.

Widuri pulang dan menyadari bahwa ia baru saja meneruskan diam ibunya kepada orang lain. Bahwa diam itu sekarang miliknya juga.

 

Ada pewarisan yang tidak disadari. Bukan warisan harta atau nama. Tapi cara menjawab pertanyaan yang tidak ingin dijawab. Cara mengakhiri percakapan sebelum sampai di tempat yang berbahaya. Cara hidup dengan lubang di tengah cerita dan tidak membiarkan siapa pun cukup dekat untuk melihat lubang itu.

Widuri tumbuh menjadi perempuan yang tidak banyak bercerita tentang dirinya. Bukan karena tidak punya cerita. Tapi karena ada teladan yang sangat kuat tentang bagaimana caranya menyimpan.

 

* * *

Hari Kamis,  sehari sebelum berangkat ke Blitar, Widuri pergi ke rumah ibunya lagi. Ada beberapa hal yang masih perlu dibereskan: tanaman di halaman yang mulai layu karena tidak ada yang menyiram, tagihan listrik yang perlu dibayar, dan kunci cadangan yang ia titipkan ke tetangga sebelah untuk keadaan darurat.

Tapi sebenarnya ia pergi ke sana bukan untuk itu. Ia duduk di kursi rotan ruang tamu — kursi yang sudah lama minta diganti tapi tidak pernah diganti — dan diam di sana cukup lama. Membiarkan rumah itu mengelilinginya. Bau kayu manis dari dapur. Suara kipas angin kamar yang masih berjalan karena Widuri lupa mematikannya minggu lalu. Cahaya sore yang masuk miring dari jendela dan membuat debu di udara terlihat seperti butiran cahaya.

Di rumah ini ibunya hidup selama lebih dari dua puluh tahun. Sendirian  atau hampir selalu sendirian, kecuali ketika Widuri berkunjung setiap dua minggu sekali, atau lebih jarang dari itu di tahun-tahun terakhir ketika pekerjaan semakin sibuk dan alasan semakin mudah ditemukan.

Di rumah ini ibunya bangun setiap pagi, memasak, bekerja  dulu sebagai penjahit rumahan, belakangan sudah tidak karena matanya tidak kuat lagi  dan tidur setiap malam dengan koper coklat tua di gudang dan dua puluh tiga surat yang tidak pernah terkirim.

Setiap hari. Selama lebih dari dua puluh tahun. Widuri tidak tahu apakah itu disebut kuat atau disebut sesuatu yang lain.

 

* * *

Di laci meja ruang tamu ia menemukan sesuatu yang luput dari pencarian minggu lalu: sebuah amplop putih kecil, berbeda dari amplop-amplop coklat dalam koper, bertuliskan nama Widuri dengan tulisan tangan ibunya. Bukan tulisan tangan yang terakhir yang sudah gemetar dan tidak stabil. Ini tulisan tangan yang lebih awal, mungkin beberapa tahun lalu, masih rapi meski sudah tidak sekuat dulu. Di dalam amplop: selembar kertas. Bukan surat panjang. Hanya beberapa kalimat. Widuri membacanya berdiri di tengah ruang tamu, cahaya sore miring di punggungnya.

 

Wid

Ada hal-hal yang tidak sempat aku ceritakan. Mungkin karena tidak tahu dari mana mulainya. Mungkin karena selalu terasa belum waktunya. Mungkin karena aku berharap kamu tidak perlu tahu.

Tapi kalau kamu membaca ini, berarti kamu sudah menemukan koper itu. Berarti kamu sudah cukup besar untuk menanggungnya.

Tanya Pakde Slamet. Ia tahu lebih dari yang ia pernah katakan kepadamu.

Maaf belum sempat. Tapi ini selalu milikmu.

Ibu

 

* * *

 

Widuri membaca surat pendek itu tiga kali. Tiga kali, berdiri di tengah ruang tamu yang semakin gelap karena matahari sudah hampir habis di balik atap rumah sebelah.

Maaf belum sempat. Tapi ini selalu milikmu.

Ibunya tahu. Ibunya selalu tahu bahwa suatu hari Widuri akan menemukan koper itu. Dan ibunya mempersiapkan ini  surat kecil di laci meja ruang tamu, seperti petunjuk arah yang sengaja ditinggalkan, seperti seseorang yang pergi jauh dan memastikan ada benang yang bisa ditarik untuk mengikuti jejaknya.

Ini bukan kecelakaan. Ini bukan sesuatu yang terlupakan.

Ini warisan yang disengaja.

Widuri duduk di kursi rotan itu lagi. Kali ini ia menangis  bukan dengan suara, tidak dengan guncangan bahu, hanya air mata yang turun diam-diam dan ia biarkan turun tanpa ditahan karena di ruangan ini tidak ada yang perlu ia jaga perasaannya.

Hanya ia dan rumah yang berbau kayu manis. Hanya ia dan ibu yang sudah pergi tapi rupanya tidak pergi sepenuhnya.

 

* * *

Jumat malam, pukul delapan, bus Malang–Blitar berangkat dari Terminal Arjosari. Widuri duduk di dekat jendela. Di pangkuannya: tas kecil berisi pakaian untuk dua hari. Di dalam tas itu, dibungkus kain batik kawung yang ia ambil dari koper: buku harian ibunya. Ia belum membukanya. Tapi ia bawa serta rasanya tidak benar meninggalkannya. Bus bergerak. Lampu-lampu kota Malang melintas di balik jendela, semakin jarang, semakin gelap ketika jalan mulai membelah sawah dan perbukitan.

Di kegelapan di luar jendela, Widuri menatap bayangan wajahnya sendiri.

Ia memikirkan nama yang tidak pernah disebut. Nama yang ada di dua puluh tiga amplop, di foto kecil dalam kotak perhiasan, di surat pendek yang ibunya sengaja tinggalkan. Nama yang selama empat puluh tiga tahun tidak pernah satu kali pun ia dengar dari bibir ibunya.

Rendra.

Besok ia akan bertemu Pakde Slamet. Besok ada kemungkinan nama itu akhirnya punya cerita yang lengkap. Atau setidaknya, lebih lengkap dari yang sekarang.

Bus melaju dalam gelap. Widuri menutup mata tapi tidak tidur. Di balik kelopak matanya, ia melihat foto laki-laki berambut gondrong yang matanya melihat ke arah lain, yang tidak peduli atau tidak tahu sedang difoto.

Ia bertanya-tanya apakah laki-laki itu pernah tahu bahwa dua puluh tahun lebih setelah fotonya diambil, ada seorang perempuan di dalam bus malam yang sedang mencarinya. Atau apakah ada seseorang yang bisa dicari

Bab 5: Rumah yang Tidak Pernah Utuh

Blitar, Desember 2019

 

Rumah

 

Rumah bukan selalu tempat yang hangat.

Kadang ia adalah tempat di mana

kamu belajar ukuran kekosongan

berapa banyak kursi yang bisa kosong

sebelum meja makan terasa seperti padang.

 

Kadang ia adalah tempat di mana

kamu pertama kali mengerti

bahwa orang yang kamu cintai

bisa hadir sepenuhnya

dan tetap tidak ada.

 

Tapi kamu tetap pulang.

Selalu pulang.

Karena tidak ada tempat lain

yang menyimpan namamu

di setiap sudutnya.

 

— Prasetya

————

Blitar di pagi hari berbau tanah basah dan asap kayu bakar. Widuri turun dari bus pukul setengah enam pagi di Terminal Patria. Udara lebih dingin dari Malang Blitar di bulan Desember selalu begitu, angin dari selatan yang membawa basah dari musim hujan. Ia menarik jaketnya lebih rapat dan berjalan ke warung kopi yang masih setengah buka di sudut terminal, memesan kopi hitam dan sepasang gorengan yang minyaknya masih panas.

Pakde Slamet tinggal di Kelurahan Kepanjenkidul, sekitar dua kilometer dari terminal. Widuri sudah hafal jalannya  ia pernah beberapa kali berkunjung ke sana bersama ibu, waktu ia masih kecil. Tapi sudah lama. Terakhir ke sini mungkin waktu SMA, untuk menghadiri pernikahan anak Pakde yang sulung.

Ia minta antar ojek. Jalan-jalan Blitar pagi itu masih lengang, hanya ada beberapa motor dan penjual sayur yang mendorong gerobak. Kota yang bergerak lambat, kota yang tidak terburu-buru.

Widuri menatap jalan-jalan yang melintas dari balik punggung pengemudi ojek dan berpikir bahwa ibunya pernah tumbuh di kota ini. Pernah berjalan di jalan-jalan ini. Pernah menjadi anak kecil, pernah menjadi remaja, pernah menjadi perempuan dua puluh tahun yang naik bus ke Malang dengan koper kecil dan harapan-harapan yang belum punya nama.

 

* * *

Rumah Pakde Slamet tidak berubah banyak dari yang Widuri ingat. Tembok cat hijau pudar yang pernah ia anggap warna yang aneh untuk rumah. Pohon mangga di halaman yang kini sudah lebih besar, dahannya menjulur sampai ke atas tembok pagar. Pintu kayu dengan ukiran sederhana yang catnya sudah mengelupas di beberapa tempat.

Widuri mengetuk. Menunggu. Mengetuk lagi. Suara langkah kaki dari dalam  pelan, sedikit diseret. Pintu terbuka. Pakde Slamet lebih tua dari yang Widuri bayangkan. Padahal terakhir bertemu di pemakaman ibu baru tiga minggu lalu  tapi sekarang, di cahaya pagi yang masuk dari pintu, Pakde tampak seperti orang yang menanggung sesuatu yang berat. Rambutnya sudah putih semua, punggungnya sedikit membungkuk, matanya yang dulu tajam sekarang ada bayangan lelah di belakangnya.

"Wid," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan kejutan. Seperti orang yang sudah menunggu kedatangan ini.

"Pakde," kata Widuri.

Pakde membuka pintu lebih lebar. "Masuk."

 

* * *

Ruang tamu Pakde Slamet berbau kapur barus dan sedikit minyak angin — bau orang tua yang sudah lama tinggal sendiri.

Istrinya, Budhe Rum, meninggal empat tahun lalu. Anak-anaknya sudah di kota lain  yang sulung di Surabaya, yang bungsu di Jakarta. Pakde tinggal di rumah ini dengan seorang pembantu paruh waktu yang datang setiap pagi untuk memasak dan bersih-bersih.

Mereka duduk berhadapan. Pembantu Pakde membawakan teh  panas, manis, dalam gelas belimbing yang tebal. Widuri memegang gelas itu dengan kedua tangan, membiarkan hangatnya meresap ke telapak tangan yang masih dingin dari perjalanan.

"Kamu sudah baca surat-suratnya?" tanya Pakde.

"Sebagian," kata Widuri. "Sampai surat ke-dua belas." Pakde mengangguk pelan. Menatap gelasnya sendiri.

"Ibumu," kata Pakde, "tidak pernah minta aku bercerita kepadamu. Tapi ia juga tidak pernah melarang. Aku selalu anggap itu sebagai izin yang tidak diucapkan."

Widuri diam, menunggu. Pakde menarik napas. Panjang, seperti orang yang sedang menyiapkan diri untuk mengangkat sesuatu yang berat.

"Dari mana kamu mau aku mulai?"

"Dari Rendra," kata Widuri. "Siapa dia sebenarnya."

 

* * *

Pakde bercerita dengan cara orang tua bercerita  tidak linear, tidak terburu-buru, dengan jeda-jeda di tempat yang tidak selalu Widuri duga.

Rendra Kusuma. Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Brawijaya angkatan 1994. Anak pertama dari keluarga petani di Kediri bapaknya bernama Pak Kusno, ibunya Bu Parti. Adik-adiknya dua orang: satu perempuan, satu laki-laki. Beasiswa masuk, kiriman dari rumah tidak selalu cukup tapi tidak pernah mengeluh.

"Aku tahu dia dari ibumu," kata Pakde. "Yuni mulai menyebut namanya waktu aku jenguk di kos-nya, Februari 1998. Bukan menyebut dengan cara yang formal hanya nama yang muncul dalam cerita, seperti: tadi Rendra bilang ini, tadi Rendra ajak ke situ. Aku langsung tahu."

"Tahu apa?"

"Tahu bahwa namanya berbeda dari nama-nama lain yang ibumu sebut." Pakde sedikit tersenyum bukan senyum bahagia, lebih seperti senyum orang yang mengingat sesuatu yang sudah sangat lama. "Ada cara tersendiri ketika seseorang menyebut nama orang yang mereka cintai. Nada yang berbeda. Ibumu tidak menyadarinya. Tapi aku perhatikan."

Widuri mengangguk pelan.

"Aku tidak bertemu langsung dengan Rendra sampai Maret 1998," lanjut Pakde. "Waktu aku ke Malang lagi untuk urusan lain, ibumu mengajakku ke warung kopi tempat mereka biasa diskusi. Rendra ada di sana bersama beberapa kawannya." Pakde berhenti sebentar. "Anak yang baik. Tenang. Tidak banyak bicara untuk ukuran aktivis — lebih banyak mendengarkan. Tapi kalau sudah bicara, orang mendengarkan."

 

* * *

"Pakde tahu apa yang terjadi padanya?" Pertanyaan itu keluar lebih langsung dari yang Widuri rencanakan. Tapi sudah keluar, dan Pakde tidak tampak terkejut. Pakde meletakkan gelasnya di meja. Menatap Widuri dengan mata yang lelah tapi tidak mengelak.

"Tidak sepenuhnya," kata Pakde. "Dan itu yang paling menyiksa dari semua ini  tidak tahu. Bukan tahu bahwa sesuatu yang buruk terjadi. Tapi tidak tahu."

Ia bercerita: Mei 1998, ketika kerusuhan pecah dan kampus-kampus ditutup, Rendra dan beberapa kawannya tidak kembali ke kos. Ibunya Widuri sudah empat hari tidak bisa menghubungi Rendra ketika Pakde datang menjemputnya pulang ke Blitar  karena ibu Widuri sakit, karena situasi tidak aman, karena ada alasan-alasan yang rasional dan juga ada kepanikan yang tidak dikatakan.

"Ibumu tidak mau pulang," kata Pakde. "Itu yang aku ingat. Ia berdiri di depan kos-nya dengan tas kecil yang sudah aku siapkan dan berkata: aku tidak bisa pergi, bagaimana kalau ia kembali dan aku tidak ada. Aku berkata: kita bisa kembali setelah situasi aman. Ia tidak percaya itu tapi akhirnya ikut juga."

"Dan Rendra?"

"Tidak ada kabar." Pakde menggeleng pelan. "Satu bulan, dua bulan. Ibumu mengirim surat ke alamat kos Rendra — surat kembali, kamar sudah dikosongkan. Ia coba hubungi keluarga Rendra di Kediri — belum ada kabar. Organisasi mahasiswa tempat Rendra bergabung sudah bubar. Kawan-kawannya yang masih bisa dihubungi tidak ada yang tahu."

Ruangan itu diam sebentar. Di luar, suara burung dari pohon mangga di halaman.

"Ibumu menunggu dua tahun," kata Pakde. "Dua tahun dengan harapan yang semakin kecil tapi tidak pernah benar-benar mati. Baru di tahun 2000 ia mulai bukan berhenti berharap, tapi mulai belajar hidup dengan ketidakpastian itu."

* * *

Ingatan 

Widuri usia dua tahun. Ini bukan ingatan yang bisa ia klaim sebagai miliknya sendiri,  terlalu muda untuk ingat. Tapi Pakde bercerita, dan cerita itu sekarang menjadi bagian dari gambar yang sedang disusun.

Ibu membawa Widuri ke Blitar untuk pertama kalinya setelah ia lahir. Pakde dan Budhe Rum menyambut di pintu. Pakde menggendong Widuri  bayi merah yang belum bisa fokus menatap wajah, yang hanya merasakan kehangatan dan bau orang asing.

"Namanya Widuri," kata ibu.

"Dari mana nama itu?" tanya Budhe Rum.

Ibu tersenyum  Pakde bercerita bahwa senyum itu campuran dari sesuatu yang bahagia dan sesuatu yang jauh. "Dari seseorang yang pernah berkata bahwa widuri tumbuh di tepi laut, diterjang ombak, tapi tidak pernah terbawa arus."

Budhe Rum tidak bertanya lagi. Pakde juga tidak.

Mereka tahu ada nama lain di balik nama itu.

Widuri duduk diam setelah Pakde selesai bercerita bagian itu. Namanya. Namanya sendiri.

Selama empat puluh tiga tahun ia tidak pernah tahu asal nama itu. Ibu tidak pernah bercerita. Widuri tidak pernah bertanya atau pernah bertanya sekali, waktu kecil, dan ibu menjawab dengan versi yang pendek dan tidak memuaskan: nama bunga laut yang kuat. Widuri terima saja.

Tapi ternyata di balik nama itu ada Rendra. Ada kalimat yang pernah diucapkan seseorang kepada ibunya. Ada keputusan yang dibuat seorang ibu muda yang baru melahirkan sendirian  bahwa anaknya akan membawa dalam namanya sesuatu dari orang yang tidak bisa hadir.  Warisan yang tidak kelihatan. Yang ada di setiap kali seseorang memanggil namanya.

 

 

* * *

 

Mereka makan siang bersama  nasi dengan sayur lodeh dan tempe goreng yang dimasak pembantu Pakde.

Di meja makan itu percakapan bergeser ke hal-hal yang lebih ringan: kondisi kesehatan Pakde, anak-anak Pakde yang jarang pulang, hujan yang belakangan sering turun di Blitar sore hari. Tapi Widuri tahu belum semua yang perlu dibicarakan sudah dibicarakan.

Setelah makan, ketika pembantu Pakde membereskan piring dan mereka kembali duduk di ruang tamu dengan teh segar, Widuri bertanya pertanyaan yang sudah menunggu sejak tadi pagi.

"Pakde tahu di mana keluarga Rendra sekarang?"

Pakde mempertimbangkan sebentar. "Terakhir aku tahu, adik laki-lakinya masih di Kediri. Desa Badas, Kecamatan Kepung itu daerah asal keluarga mereka. Namanya Wahyu. Tapi itu informasi dari lebih dari sepuluh tahun lalu. Tidak tahu masih di sana atau tidak."

"Ibunya? Bapaknya?"

"Pak Kusno sudah meninggal  aku dengar dari ibumu waktu itu. Ibunya aku tidak tahu."

Widuri mencatat nama itu dalam pikirannya. Wahyu. Desa Badas, Kepung, Kediri.

"Pakde," kata Widuri setelah diam sebentar. "Kenapa ibu tidak pernah mencoba mencari tahu lebih jauh? Ke lembaga HAM, misalnya. Ada yang bisa membantu."

Pakde menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca  bukan tidak setuju, tapi seperti orang yang sudah memikirkan pertanyaan itu berkali-kali dan tidak pernah sampai pada jawaban yang memuaskan.

"Ibumu pernah sekali mencoba," kata Pakde pelan. "Tahun 2001 atau 2002 — ia pergi ke Jakarta, ke salah satu lembaga yang mengurus kasus penghilangan paksa. Ia memberikan nama Rendra, memberikan informasi yang ia punya. Mereka mencatat. Ibumu menunggu." Pakde berhenti. "Tidak ada kabar lanjutan yang datang. Atau mungkin datang tapi tidak menjawab pertanyaan utamanya."

"Pertanyaan apa?"

"Apakah ia masih hidup."

Sunyi lagi. Di luar mulai terdengar rintik hujan  pelan, lalu semakin deras.

"Ibumu akhirnya memilih berhenti mencari," kata Pakde. "Bukan karena menyerah. Tapi karena ia punya kamu. Dan ia tidak bisa terus hidup dalam pertanyaan itu sambil membesarkan kamu. Jadi ia pilih kamu."

Widuri menatap hujan yang mulai mengaburkan jendela. Ia pilih kamu. Tiga kata yang berat dan ringan sekaligus. Yang menjawab sesuatu dan membuka luka lain pada saat yang bersamaan.

 

* * *

Malam itu Widuri tidur di kamar tamu rumah Pakde. Kasurnya lama, sedikit membal tidak merata, dengan bau yang campuran antara kapur barus dan sesuatu yang lembab. Dari balik jendela masih terdengar suara hujan yang belum sepenuhnya berhenti.

Widuri berbaring dengan mata terbuka, menatap langit-langit yang remang diterangi cahaya lampu jalan yang masuk tipis dari celah tirai.

Ia memikirkan ibunya  bukan ibu yang ia kenal, ibu yang diam dan rapi dan selalu ada tapi tidak pernah bercerita. Tapi ibu yang lain: Yuni yang dua puluhan, yang menulis surat-surat, yang berdiri di depan kos dengan tas kecil dan tidak mau pergi, yang pergi ke Jakarta sendirian untuk mencari jawaban dan pulang tanpa jawaban, yang kemudian memilih untuk berhenti mencari dan memilih untuk ada. Untuk ada  bagi Widuri.

Rumah yang tidak pernah utuh itu ternyata sudah dipilih dengan sadar. Bukan karena tidak ada pilihan lain. Tapi karena dari semua pilihan yang ada, ibu memilih yang ini.

Widuri memejamkan mata. Untuk pertama kalinya sejak menemukan koper itu, ia tidak merasa marah. Tidak merasa ditinggalkan dalam kegelapan. Hanya ada sesuatu yang lebih tenang  belum selesai, masih banyak yang belum terjawab, tapi tidak lagi terasa seperti pengkhianatan. Hujan di luar semakin mengecil. Menjadi rintik. Lalu berhenti. Widuri tidur.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAGIAN II

Tahun yang Terbakar

Bab 6–12 · Malang, 1997–1999

 

Bab 6: Kos-Kosan Gang Mawar

Malang, Oktober 1997

 

Pertemuan

 

Tidak semua pertemuan terasa seperti pertemuan

pada saat ia terjadi.

 

Kadang ia terasa seperti perdebatan biasa,

seperti malam yang terlalu panjang di warung kopi,

seperti seseorang yang menjengkelkan

karena selalu punya argumen balik

untuk setiap hal yang kamu katakan.

 

Baru belakangan kamu sadar:

kamu mengingat setiap kata yang ia ucapkan.

Baru belakangan kamu sadar:

kamu sudah memperhatikan

lebih lama dari yang kamu akui.

 

Pertemuan yang paling sungguh-sungguh

selalu datang menyamar.

 

— Prasetya

————

Malang, Oktober 1997 — Yuni

Warung kopi Pak Dhe Soleh tutup pukul sebelas malam, tapi biasanya sudah diusir pukul sepuluh karena Pak Dhe Soleh punya istri yang tidak suka suaminya tidur terlalu malam.

Yuni tahu ini. Semua orang di kelompok diskusi Kamis malam tahu ini. Tapi mereka tetap datang setiap Kamis, memesan kopi atau teh yang paling murah, dan duduk sampai Pak Dhe mulai membereskan kursi-kursi dengan cara yang tidak terlalu halus sebagai isyarat bahwa sudah waktunya pergi.

Malam ini ada wajah baru. Ia duduk di ujung meja panjang yang sudah penuh sesak dengan tujuh orang lain — Yuni, Fitri, Hendra, Mas Bambang yang jadi semacam pemimpin tidak resmi kelompok ini, dan tiga orang lain yang datang tidak rutin. Wajah baru itu datang bersama Hendra, diperkenalkan sebentar dengan nama yang Yuni dengar tapi tidak langsung ingat karena Hendra memperkenalkan dengan cara yang terburu-buru sambil sudah duduk dan membuka buku catatannya.

Malam itu mereka mendiskusikan esai Benedict Anderson tentang nasionalisme. Mas Bambang yang membuka, seperti biasa. Yuni menyimak sambil sesekali mencatat — ia selalu mencatat, bukan karena perlu, tapi karena tangan yang bergerak membantunya berpikir. Wajah baru itu diam sampai pertengahan diskusi.

 

* * *

Yuni sedang menjelaskan sesuatu  tentang bagaimana konsep bangsa dalam esai Anderson tidak cukup menjelaskan konteks Indonesia yang terlalu heterogen untuk dimasukkan ke dalam satu narasi tunggal  ketika ia memotong. Bukan dengan kasar. Hanya sebuah suara dari ujung meja: "Tapi bukankah itulah justru argumen Anderson? Bahwa bangsa memang selalu konstruksi, selalu cerita yang dipilih, bukan yang alami?"

Yuni berhenti. Menatap ke ujung meja. Laki-laki itu menatap balik. Kacamata bulat, rambut yang sepertinya tidak pernah disisir dengan sungguh-sungguh, kemeja flannel yang satu kancingnya tidak terkancing di bagian bawah  detail yang entah kenapa Yuni perhatikan.

"Itu bukan kontradiksi dari yang aku bilang," kata Yuni. "Justru karena ia konstruksi, maka konstruksi yang berbeda bisa menghasilkan bangsa yang berbeda pula. Indonesia bisa saja dikonstruksi dengan cara yang lebih mengakui heterogenitasnya."

"Bisa saja," kata laki-laki itu. "Tapi Anderson bukan sedang membuat preskripsi. Ia mendeskripsikan bagaimana konstruksi itu bekerja secara historis. Kamu minta Anderson menjawab pertanyaan yang bukan pertanyaannya." Hening sebentar di meja. Mas Bambang menahan senyum di balik cangkir kopinya. Yuni merasakan sesuatu yang bukan kemarahan tapi dekat dengan itu  sesuatu yang lebih seperti energi yang tiba-tiba punya arah.

"Kalau begitu," katanya, "pertanyaannya adalah siapa yang seharusnya membuat preskripsi itu, kalau bukan akademisi seperti Anderson?"

Dan diskusi itu berlanjut selama satu jam berikutnya, dengan Yuni dan laki-laki itu saling bantah dari ujung ke ujung meja, sementara yang lain sesekali masuk dan sesekali hanya mendengarkan dengan ekspresi orang yang sedang menonton pertandingan yang menarik.

* * *

Nama laki-laki itu Rendra. Yuni baru ingat ketika Pak Dhe Soleh mulai membereskan kursi. Mereka keluar dari warung bersama-sama tujuh orang berjalan dalam kelompok yang berisik di gang sempit, suara sandal di aspal, suara tawa yang terlalu keras untuk jam sepuluh malam tapi tidak ada yang peduli. Yuni berjalan di tengah, Fitri di sebelahnya, dan tanpa benar-benar merencanakan, Rendra ada di sisi Yuni yang lain.

"Kamu semester berapa?" tanyanya. Percakapan yang paling biasa. Tapi Yuni perhatikan bahwa ia tidak bertanya sambil melihat ke depan,  ia bertanya sambil menatap Yuni, seperti pertanyaannya sungguh-sungguh ingin dijawab.

"Tiga," kata Yuni. "Kamu?"

"Empat. FISIP juga?"

"Iya. Sosiologi. Kamu?"

"Ilmu Politik."

Mereka berjalan diam sebentar. Di depan, Hendra sedang berargumen dengan Mas Bambang tentang sesuatu yang tidak Yuni ikuti.

"Tadi kamu salah," kata Rendra tiba-tiba.

Yuni menoleh. "Bagian mana?"

"Waktu kamu bilang bahwa heterogenitas Indonesia tidak bisa diakomodasi dalam satu konstruksi tunggal. Bhinneka Tunggal Ika justru mencoba melakukan itu,  dan berhasil, setidaknya sebagai narasi."

"Berhasil sebagai narasi, bukan sebagai realita," kata Yuni. "Itu perbedaan yang penting."

Rendra diam sebentar. Kemudian mengangguk bukan anggukan yang menyerah, lebih seperti anggukan orang yang mengakui poin yang valid sambil tetap menyimpan argumen berikutnya untuk lain waktu.

"Kamis depan," katanya.

"Apa?"

"Aku akan lanjutkan argumen ini Kamis depan."

Yuni tertawa  lebih pendek dari yang ia rencanakan. "Aku tunggu."

 

* * *

 

 

Yuni tinggal di kos Gang Mawar nomor tujuh bersama dua teman sekamar: Fitri dari Sidoarjo dan Lastri dari Lumajang. Kamar itu tidak besar  tiga kasur susun dua di satu sisi, lemari bersama di sisi lain, meja belajar di dekat jendela yang harus dibagi bergantian. Kamar mandi di luar, dipakai bersama enam kamar lain. Air panas hanya tersedia pagi antara pukul lima sampai tujuh kalau mau.

Tapi Yuni menyukai kamar itu. Menyukai cara cahaya pagi masuk dari jendela yang menghadap timur. Menyukai suara ibu kos yang selalu memasak di bawah setiap subuh sehingga seluruh kos selalu berbau bawang goreng dan santan di pagi hari. Menyukai Fitri yang cerewet dan Lastri yang pendiam dan cara ketiganya sudah belajar berbagi ruang tanpa terlalu banyak aturan.

Malam itu, setelah pulang dari warung Pak Dhe, Yuni duduk di meja belajar dan membuka buku Anderson yang tadi mereka diskusikan. Ia baca ulang halaman yang tadi ia argumentasikan. Kemudian duduk sebentar dengan pensil di antara jarinya. Laki-laki itu ada benarnya. Sebagian. Yuni tidak suka mengakui itu, tapi ia mengakuinya dalam kepalanya sendiri karena di sana tidak ada yang bisa mendengar.

* * *

 

Kamis berikutnya, Rendra datang lagi. Dan Kamis setelahnya. Dan Kamis setelahnya lagi. Pola itu terbentuk tanpa direncanakan: mereka selalu berakhir di sisi yang berseberangan dalam diskusi, dan setelah diskusi selalu ada sisa argumen yang terbawa keluar ke jalan, ke perjalanan pulang, ke percakapan yang semakin lama semakin tidak tentang buku atau esai atau teori apa pun.

November, Yuni mulai memperhatikan hal-hal kecil. Cara Rendra mendengarkan  benar-benar mendengarkan, bukan menyiapkan jawaban. Cara ia menyeduh kopi selalu tanpa gula tapi tidak pernah mengomentari orang lain yang minum manis. Cara ia punya pendapat yang kuat tapi tidak pernah merendahkan orang yang berbeda pendapat. Cara ia, tanpa disengaja atau mungkin disengaja tapi Yuni tidak bisa membuktikan, selalu duduk di tempat yang dari sana ia bisa melihat wajah Yuni ketika Yuni berbicara.  Yuni tidak menyebut apa yang ia rasakan dengan nama apa pun. Tidak dulu. Tapi ia pulang dari warung Pak Dhe setiap Kamis malam dengan pikiran yang lebih ramai dari sebelum pergi.

 

* * *

Suatu Kamis di akhir Oktober tiga minggu setelah pertama kali bertemu  mereka tertinggal di warung. Bukan karena sengaja. Diskusi berlanjut lebih lama, yang lain pergi satu per satu karena tugas atau karena mengantuk atau karena Pak Dhe sudah menatap dengan cara tertentu. Yuni dan Rendra tidak menyadari sampai tiba-tiba hanya tinggal mereka berdua di meja panjang itu, dengan sisa kopi yang sudah dingin dan Pak Dhe yang mulai mematikan lampu di bagian dalam warung.

"Sepertinya kita harus pergi," kata Yuni.

"Sepertinya," kata Rendra. Ia tidak bergerak.

Pak Dhe batuk dari dalam. Isyarat yang sudah jelas. Mereka pergi. Berjalan keluar ke gang yang sudah sepi, hanya ada satu lampu jalan yang berfungsi dari tiga yang ada. Yuni tahu jalan pulang ke kosnya ke kanan. Kos Rendra  ia tahu dari Hendra  ada di arah yang sama, beberapa gang lebih jauh.

Mereka berjalan. Tidak ada yang berbicara selama beberapa langkah. Kemudian Rendra berkata: "Kamu pernah baca Pram?"

"Bumi Manusia," kata Yuni. "Dan Anak Semua Bangsa. Belum yang lain."

"Rumah Kaca," kata Rendra. "Baca itu kalau sempat. Ada bagian tentang menulis sebagai cara berpikir tentang bagaimana kata yang ditulis lebih jujur dari kata yang diucapkan karena tidak ada yang bisa memotong di tengah kalimat."

Yuni memikirkan itu sebentar. "Tapi tulisan juga bisa direvisi. Diulang. Disensor diri sendiri sebelum jadi."

"Iya," kata Rendra. "Tapi setidaknya kamu yang menyensornya. Bukan orang lain."

Mereka tiba di persimpangan gang. Ke kanan, kos Yuni. Lurus, kos Rendra.

"Sampai Kamis," kata Rendra.

"Sampai Kamis," kata Yuni.

Ia berjalan ke kanan. Tidak menoleh. Tapi sampai di pintu kos ia berdiri sebentar sebelum masuk, merasakan sesuatu yang tidak langsung bisa ia namakan.

Di dalam, Fitri sudah tidur. Lastri membaca. Yuni duduk di meja belajar, membuka buku catatannya ke halaman baru. Ia tidak menulis tentang diskusi malam itu. Ia tidak menulis tentang Anderson atau nasionalisme atau argumen mana yang menang. Ia menulis satu kalimat: Ada orang yang membuat kamu ingin menulis tentang mereka. Kemudian ia tutup buku catatannya dan pergi tidur.

 

* * *

Yuni tidak langsung menulis surat. Itu datang tiga minggu kemudian, setelah pertemuan yang cukup lama di warung Pak Dhe dan percakapan panjang di jalan pulang dan momen di mana Yuni menyadari bahwa ia hafal cara Rendra mengucapkan kata-kata tertentu cara ia menekankan suku kata pertama dari kata "justru", cara ia berhenti sejenak sebelum menyebut nama penulis yang ia kutip, seolah memberi hormat sebelum mengambil kata-kata orang lain.

Ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan itu. Tidak dengan suara.

Jadi ia ambil kertas, ia ambil pulpen, dan ia tulis. Surat yang tidak akan pernah ia kirim. Surat pertama dari dua puluh tiga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 7: Surat Pertama

Malang–Kediri, November 1997

 

 

Apa yang Tidak Bisa Diucapkan

 

Ada hal-hal yang lebih jelas

ketika ditulis dalam gelap —

ketika tidak ada wajah yang menunggu reaksimu,

ketika tidak ada nada suara yang harus dijaga,

ketika kata bisa datang

dalam urutan yang paling jujur

bukan yang paling aman.

 

Menulis kepada seseorang yang tidak akan membaca

adalah cara lain untuk berbicara kepada diri sendiri.

 

Hanya lebih berani.

Karena kamu bisa menyebut namanya.

 

— Prasetya

 

————

Malang–Kediri, November 1997 — Yuni

Rendra pulang ke Kediri pada minggu kedua November. Bukan liburan — adiknya yang perempuan, Sari, sakit demam tinggi yang tidak turun-turun. Ibunya menelepon wartel dekat kos dan menitip pesan lewat pemilik wartel yang kemudian ditulis di secarik kertas dan diselipkan di bawah pintu kamar Rendra. Begitulah cara kabar buruk sampai di tahun 1997  tidak langsung, tidak segera, tapi sampai juga.

Rendra pamit kepada kelompok diskusi lewat Hendra. Kepada Yuni ia pamit langsung mereka kebetulan bertemu di koridor kampus sore sebelum ia berangkat, Rendra dengan tas punggung yang sudah dikemas dan tiket bus di tangan.

"Adikmu kenapa?" tanya Yuni.

"Demam. Kata ibu sudah empat hari tidak turun." Rendra melirik jam tangannya  model lama, tali kulit yang sudah sedikit retak. "Busku jam enam."

"Semoga cepat sembuh," kata Yuni.

"Terima kasih." Ia berjalan. Berhenti dua langkah kemudian, menoleh. "Kamis depan ada buku baru yang mau aku bawa. Tunggu."

Yuni mengangguk. Rendra pergi. Yuni berdiri di koridor kampus yang mulai sepi sampai suara langkah Rendra tidak terdengar lagi, kemudian berjalan ke arah berlawanan dengan perasaan yang tidak langsung ia akui namanya.

 

* * *

Malam itu Yuni tidak bisa konsentrasi belajar. Bukan karena khawatir  adik Rendra bukan orang yang ia kenal, demam tinggi bisa turun dengan obat yang benar, tidak ada alasan untuk khawatir. Tapi pikirannya tidak bisa diarahkan ke buku teks yang terbuka di depannya.

Fitri sudah tidur. Lastri sedang di kamar mandi. Lampu meja menyala sendiri di sudut ruang. Yuni mengambil kertas kosong dari tumpukan di laci. Pulpen. Dan mulai menulis. Bukan tugas. Bukan catatan kuliah. Sebuah surat.

 

November 1997

Rendra,

Aku tidak tahu kenapa aku menulis ini. Kamu tinggal di kos yang sama kota yang sama dan aku bisa saja mengetuk pintumu kapan saja. Tapi ada hal-hal yang lebih mudah ditulis daripada diucapkan. Kamu pernah bilang begitu waktu kita bicara tentang Pramoedya  bahwa menulis adalah cara berpikir yang paling jujur karena tidak ada yang bisa memotong di tengah kalimat.

Jadi ini adalah cara berpikirku yang paling jujur tentang kamu.

Aku pikir aku menyukaimu. Bukan karena argumenmu yang sering menjengkelkan itu. Tapi karena kamu satu-satunya orang yang aku kenal yang mendengarkan sampai selesai sebelum menjawab. Semua orang lain selalu sudah menyiapkan jawaban sebelum kamu selesai bicara.

Aku tidak akan mengirim surat ini. Aku hanya ingin menulisnya.

Yuni

 

 

* * *

Yuni melipat surat itu. Memasukkan ke dalam amplop. Menulis nama Rendra di luarnya  tanpa alamat, karena memang tidak akan dikirim. Kemudian ia taruh di bawah tumpukan buku di mejanya dan pergi tidur. Tidurnya lebih tenang dari beberapa malam terakhir.

Ada sesuatu yang bekerja dalam menulis  bukan penyelesaian, bukan keputusan, hanya semacam pelepasan tekanan. Seperti katup yang dibuka sebentar supaya ketel tidak meledak. Yuni tidak berencana menulis surat lagi. Tapi ia juga tidak membuang surat pertama itu.

 

* * *

Rendra kembali ke Malang dua minggu kemudian. Adiknya sudah membaik demam turun setelah dokter puskesmas memberi obat yang tepat, tinggal pemulihan. Rendra datang ke diskusi Kamis malam berikutnya dengan membawa sebuah buku tipis yang ia letakkan di tengah meja: kumpulan esai tentang pergerakan mahasiswa Indonesia dari tahun 1960-an hingga 1980-an, diterbitkan oleh penerbit kecil yang namanya tidak Yuni kenal.

"Dari mana dapat ini?" tanya Mas Bambang, membolak-balik halaman.

"Di Kediri ada toko buku loak yang bagus," kata Rendra. "Pemiliknya punya koleksi yang tidak ada di toko biasa."

Diskusi malam itu tentang buku itu tentang bagaimana gerakan mahasiswa 1966 dan 1998 punya persamaan struktural meski konteksnya berbeda, tentang apakah mahasiswa generasi mereka punya tanggung jawab yang sama. Rendra berbicara lebih banyak dari biasanya ia tampaknya sudah memikirkan ini selama dua minggu di Kediri, pikiran yang matang dari waktu jauh dari kota.

Setelah diskusi, di jalan pulang, ia berjalan di sebelah Yuni seperti biasa.

"Bagaimana adikmu?" tanya Yuni.

"Sudah baik. Nakal lagi." Ia tersenyum  senyum yang berbeda dari ekspresi serius yang biasa Yuni lihat di meja diskusi. Lebih ringan. "Kamu punya saudara?"

"Tidak ada. Anak tunggal."

"Sepi?"

Yuni mempertimbangkan. "Kadang. Tapi aku tidak tahu rasanya punya saudara, jadi aku tidak tahu apa yang aku lewatkan."

"Aku anak pertama dari tiga," kata Rendra. "Sering menjengkelkan. Tapi waktu Sari sakit kemarin dan aku tidak bisa ada di sana lebih cepat" Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Menggantinya dengan: "Jarak itu berat."

Yuni mengangguk. Ia mengerti jarak itu  bukan jarak antara saudara, tapi jarak antara di sini dan di rumah. Antara Malang dan Blitar. Antara menjadi mahasiswa dan menjadi anak.

"Ibumu tahu kamu ikut diskusi-diskusi ini?" tanya Rendra.

"Tahu aku ikut kelompok belajar. Tidak tahu detailnya." Yuni melihat ke depan. "Kamu?"

"Bapakku tidak terlalu mengerti politik," kata Rendra. "Tapi ia percaya aku bisa memilih hal yang benar untuk dilakukan. Itu sudah cukup." Ada jeda singkat. "Ibuku lebih khawatir. Tapi ibu selalu khawatir,  itu tugasnya."

Yuni tertawa kecil. "Ibuku juga."

Mereka berjalan diam sebentar. Angin November membawa dingin yang mulai terasa musim penghujan sudah dekat, udara Malang malam selalu berubah lebih dingin beberapa minggu sebelum hujan pertama.

"Rendra," kata Yuni tiba-tiba.

"Hm?"

Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan. Kalimat itu keluar sendiri tanpa rencana. Sedetik, dua detik  kemudian ia berkata: "Tidak ada. Sampai Kamis."

Rendra menatapnya sebentar dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya Yuni bisa baca. Kemudian mengangguk. "Sampai Kamis."

Mereka berpisah di persimpangan yang sama. Yuni berjalan ke kanan. Di dalam kepalanya, kalimat yang tidak jadi ia katakan berputar-putar mencari bentuknya sendiri.

 

 

* * *

Surat kedua ditulis minggu berikutnya. Bukan karena ada kejadian besar. Hanya karena ada hal kecil yang ingin Yuni tuliskan  cara Rendra menyebut adiknya dengan nada yang berbeda dari cara ia membicarakan hal lain, cara jarak antara Malang dan Kediri terasa berat di dalam kalimatnya yang tidak selesai.

November 1997 — minggu kedua

Rendra,

Tadi kamu bicara tentang adikmu dan aku perhatikan suaramu berubah. Bukan berubah sedih — lebih seperti berubah lunak. Seperti ada lapisan yang turun.

Aku tidak menyangka orang yang bisa mendebat Anderson dan Hobsbawm dalam satu malam juga bisa punya suara seperti itu untuk nama adiknya.

Aku rasa itu hal yang paling jujur yang pernah aku lihat darimu. Lebih jujur dari semua argumenmu yang sudah aku dengar.

Aku tidak akan mengirim ini juga.

Yuni

 

* * *

Menjadi kebiasaan yang Yuni tidak rencanakan. Setiap beberapa hari, ketika ada sesuatu yang terlalu besar atau terlalu kecil untuk diucapkan, Yuni ambil kertas dan menulis. Bukan setiap hari  tidak sesering itu. Tapi cukup sering sehingga tumpukan amplop di bawah buku mejanya semakin bertambah.

Fitri pernah melihat amplop-amplop itu  tidak sengaja, waktu mencari bolpoin di meja Yuni.

"Kamu nulis surat ke siapa?"

"Tidak ada," kata Yuni. "Jurnal."

Fitri tidak bertanya lagi. Orang punya cara masing-masing untuk menyimpan sesuatu. Yang Yuni tidak katakan kepada Fitri adalah bahwa ada perbedaan antara jurnal dan surat,  jurnal ditulis untuk diri sendiri, surat ditulis untuk seseorang. Dan meskipun surat-surat itu tidak pernah dikirim, mereka tetap ditulis untuk seseorang. Ada nama di setiap amplop. Ada orang di balik nama itu. Itu yang membuat menulisnya terasa berbeda dari sekadar mencatat.

 

* * *

Desember datang dengan hujan pertama yang turun deras tiga hari berturut-turut. Jalan-jalan Malang yang biasanya berdebu menjadi becek. Selokan di depan kos meluap sebentar setelah hujan pertama karena sampah yang menyumbat  ibu kos marah-marah sambil menyapu air dengan sapu lidi yang tidak terlalu efektif untuk ukuran banjir kecil itu.

Dan di kota-kota lain, di Jakarta terutama, berita mulai masuk tentang hal-hal yang lebih besar dari banjir kecil di selokan kos. Rupiah jatuh. Harga naik. Orang-orang mulai berbicara tentang krisis dengan nada yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya,  bukan lagi spekulasi atau kekhawatiran, tapi kepastian yang semakin berat.

Di warung Pak Dhe Soleh, diskusi Kamis malam berubah nada. Tidak lagi hanya tentang buku dan teori. Sekarang ada sesuatu yang nyata yang masuk ke dalam percakapan mereka, sesuatu yang mereka rasakan sendiri dalam kiriman dari rumah yang nilainya menyusut, dalam harga sembako yang naik, dalam wajah-wajah pemilik warung yang mulai menghitung lebih hati-hati.

Rendra semakin sering diam dalam diskusi  bukan karena tidak punya pendapat, tapi seperti orang yang sedang mendengarkan sesuatu di frekuensi yang berbeda. Seperti orang yang sedang memutuskan sesuatu.

Yuni memperhatikan itu. Dan malam itu, setelah pulang dari warung Pak Dhe dengan jaket yang agak basah karena sempat kena gerimis di jalan, ia menulis surat ketiga. Surat yang kali ini bukan tentang hal-hal kecil yang menyenangkan untuk diamati. Surat yang kali ini ada ketakutan di antara barisnya.

Desember 1997

Rendra,

Rupiah jatuh lagi hari ini. Aku dengar dari radio di warung. Pak Warno yang jual bakso depan kos sudah menaikkan harga dua kali dalam sebulan. Teman-teman di kos mulai ada yang mengurangi makan. Kiriman dari rumah datang tapi nilainya sudah tidak sama lagi dengan bulan lalu padahal jumlahnya sama.

Kamu bilang ini bukan sekadar krisis ekonomi. Kamu bilang ini adalah akibat dari sesuatu yang sudah lama salah dan tidak bisa diperbaiki hanya dengan kebijakan moneter. Aku mendengarkanmu dan aku pikir kamu benar. Tapi aku juga takut. Bukan takut pada yang kamu bicarakan  takut pada ke mana kamu akan pergi dengan keyakinan itu.

Tolong jangan pergi terlalu jauh tanpa bilang aku.

Yuni

 

 

* * *

 

Yuni melipat surat itu. Memasukkan ke amplop. Menulis Rendra di luarnya. Meletakkannya di bawah tumpukan buku. Di luar hujan turun lagi — bukan deras, hanya rintik yang terus-menerus, jenis hujan yang tidak membuat orang lari tapi membasahi semuanya perlahan. Yuni mematikan lampu meja.

Dalam gelap kamar, dengan suara hujan di atap seng, ia berbaring dan menatap langit-langit. Fitri mendengkur pelan. Lastri tidur miring menghadap dinding.

Dan di suatu tempat di kota yang sama, dalam kamar kos yang jaraknya hanya beberapa gang, seseorang yang tidak tahu ada surat-surat dengan namanya sedang  Yuni tidak tahu, mungkin membaca, mungkin berpikir, mungkin sudah tidur.

Tidak tahu adalah bagian dari menulis kepada seseorang yang tidak membaca suratmu. Kamu tidak tahu bagaimana mereka akan menerimanya. Kamu tidak tahu apakah mereka akan setuju atau marah atau sedih. Kamu hanya tahu apa yang kamu rasakan waktu menulisnya. Dan malam itu, yang Yuni rasakan adalah: tolong jangan pergi terlalu jauh. Sebuah doa kecil dalam amplop yang tidak pernah terkirim.

Bab 8: Krisis Moneter Sampai di Gang Mawar

Malang, Desember 1997 – Maret 1998

 

 

 

Harga

 

Krisis tidak datang seperti petir

sekali, keras, lalu selesai.

 

Ia datang seperti air yang naik:

pelan, tidak kentara,

sampai tiba-tiba kamu sadar

bahwa lantai sudah basah

dan kamu tidak ingat

kapan mulainya.

 

Yang pertama naik adalah harga beras.

Lalu minyak goreng.

Lalu percakapan di warung kopi

yang dulu tentang buku

mulai berbicara tentang bertahan.

 

Dan di suatu malam

seseorang yang kamu cintai

memandang ke kejauhan

dengan mata yang sudah memutuskan sesuatu

sebelum ia memberitahumu.

 

— Prasetya

 

————

Malang, Desember 1997 – Maret 1998 — Yuni

Harga beras naik dua kali dalam satu bulan. Yuni tahu ini bukan karena berbelanja sendiri  ibu kos yang mengurus makan siang dan malam untuk penghuni yang mau bayar extra, dan Yuni sudah terbiasa dengan menu sederhana yang tidak banyak berubah dari hari ke hari. Tapi ia tahu dari cara ibu kos berbicara di dapur ketika mengira tidak ada yang mendengar: suara kalkulasi yang lirih, keluhan pendek yang dipotong sendiri sebelum jadi panjang.

Dan dari Pak Warno. Pak Warno penjual bakso di depan gang sudah menaikkan harga semangkuk dari lima ratus menjadi tujuh ratus, lalu ke seribu dua ratus, dalam rentang yang terasa terlalu cepat. Yuni masih mampu  kiriman dari Blitar datang teratur, ibunya memastikan itu tapi ia lihat Lastri mulai melewatkan makan siang dengan alasan yang berubah-ubah, dan Fitri mulai menghitung sisa uangnya di dompet dengan cara yang lebih sering dari sebelumnya.

Mereka tidak membicarakannya. Itu pun adalah cara bertahan tidak membicarakan sesuatu supaya ia tidak menjadi lebih besar dari yang sudah.

 

 

* * *

Di warung Pak Dhe Soleh, diskusi Kamis malam berubah. Bukan sekaligus. Pergeserannya gradual, seperti harga beras tidak terasa sampai tiba-tiba sudah sangat berbeda. Pertengahan Desember, ketika topik minggu itu seharusnya tentang esai ekonomi politik yang Mas Bambang bawa, percakapan bergeser sendiri ke berita-berita yang masuk dari Jakarta. Nilai tukar. Antrean di bank. Orang-orang yang menimbun dolar.

"Ini bukan sekadar krisis moneter," kata Rendra pada suatu malam. Ia berbicara dengan nada yang berbeda dari biasanya lebih pelan, lebih terukur, seperti orang yang sudah memikirkan ini jauh sebelum mengatakannya.

 "Krisis moneter hanya trigger. Ini adalah akumulasi dari dua puluh tahun tata kelola yang salah."

"Tata kelola siapa?" tanya Hendra.

"Semua yang terlibat. Pemerintah. Konglomerat. Lembaga internasional yang memberi pinjaman tanpa syarat yang cukup ketat." Rendra melihat ke meja.

"Dan kita yang diam."

Ruangan itu sunyi sebentar. Pak Dhe Soleh melintas dengan tray berisi gelas-gelas, pura-pura tidak mendengar seperti biasanya.

"Kita tidak diam," kata Mas Bambang akhirnya. "Kita mendiskusikan ini."

"Mendiskusikan bukan bergerak," kata Rendra.

Yuni memperhatikan wajah-wajah di meja. Sebagian mengangguk pelan. Sebagian menatap kopi mereka. Dan Rendra, Rendra duduk dengan punggung tegak dan mata yang tidak ke mana-mana kecuali ke tengah meja, ke titik yang sepertinya bukan titik di permukaan kayu tapi titik di dalam pikirannya sendiri.

Yuni menulis di buku catatannya: mendiskusikan bukan bergerak. Tapi ia tidak tahu apakah ia menulis itu karena setuju atau karena takut pada konsekuensi dari setuju.

 

* * *

Januari 1998 Rendra mulai sering tidak ada di kos. Bukan hilang — Yuni masih melihatnya di kampus, masih melihatnya di diskusi Kamis malam. Tapi ada slot-slot waktu yang sebelumnya bisa diprediksi makan malam di warung angkringan di dekat kampus, duduk di perpustakaan sambil baca sampai tutup  yang sekarang kosong.

Ia tidak menjelaskan ke mana. Yuni tidak bertanya langsung. Ada kesepakatan diam di antara mereka bukan kesepakatan yang dibicarakan, tapi yang terbentuk sendiri dari cara keduanya sudah belajar membaca batas satu sama lain. Rendra tidak menjelaskan hal-hal tertentu. Yuni tidak memaksa. Itu sudah cukup, sampai suatu titik tertentu.

Titik itu tiba di akhir Januari. Mereka sedang berjalan pulang setelah diskusi ketika Rendra berkata, sambil tetap menatap ke depan: "Ada pertemuan minggu depan. Di luar kampus. Aku mungkin tidak bisa Kamis."

"Pertemuan apa?" tanya Yuni.

Rendra diam sebentar. "Kelompok yang lebih serius."

"Serius bagaimana?"

"Serius dalam arti tidak hanya mendiskusikan."

Yuni berjalan dua langkah sebelum berkata: "Berbahaya?"

Rendra tidak langsung menjawab. Itu sendiri sudah jawaban.

"Lebih berbahaya dari diskusi biasa, ya," katanya akhirnya. "Tapi tidak lebih berbahaya dari diam ketika seharusnya tidak."

Yuni tidak berkata apa-apa sampai mereka sampai di persimpangan gang.

"Sampai Kamis," kata Rendra.

"Kamu bilang kamu tidak bisa Kamis."

"Mungkin. Tapi kalau bisa, aku akan datang." Ia menatap Yuni  langsung, bukan sekilas. "Aku tidak pergi tanpa bilang. Aku selalu bilang." Yuni mengangguk. Ia percaya itu. Atau mencoba percaya. Ia berjalan ke kanan tanpa menoleh.

 

* * *

Surat ke-delapan ditulis malam itu.

 

Januari 1998

Rendra,

Kamu bilang kamu selalu bilang. Aku percaya itu. Tapi ada perbedaan antara bilang dan menjelaskan, dan aku tidak selalu tahu apakah aku berhak meminta yang kedua.

Aku tidak tahu persis apa yang sedang kamu lakukan. Aku tahu cukup untuk tahu bahwa itu bukan sekadar diskusi lagi. Dan aku tahu cukup tentang dirimu untuk tahu bahwa kalau kamu sudah memutuskan sesuatu, tidak banyak yang bisa mengubahnya.

Aku tidak mencoba mengubahnya.

Aku hanya ingin kamu tahu: aku di sini. Apapun yang terjadi setelah ini, aku di sini.

Yuni

 

 

* * *

Februari berlalu dengan ketegangan yang naik perlahan seperti air banjir. Kampus mulai ramai dengan diskusi-diskusi yang tidak lagi hanya di warung kopi tapi di koridor, di kantin, di sudut-sudut taman. Poster-poster mulai muncul tidak di tempat resmi, tapi di tiang-tiang listrik, di papan pengumuman yang tidak dijaga ketat. Sebagian dicopot dalam semalam. Sebagian tetap ada cukup lama untuk dibaca banyak orang.

Ibu Yuni menelepon ke Warung Telekomunikasi langganan Yuni yang menyediakan fesilitas menerima telpon

"Kabar dari sana bagaimana, Yun?"

"Baik-baik saja, Bu."

"Di berita kelihatannya tidak baik-baik saja."

"Kampus masih aman. Aku baik-baik saja." Jeda pendek. "Jangan ikut-ikutan yang aneh-aneh, ya."

"Tidak, Bu."

Yuni meletakkan gagang telepon dan berdiri sebentar di bilik telepon yang bau plastik panas karena kena matahari seharian. Di luar, kehidupan kampus berjalan seperti biasa  mahasiswa lewat, ada yang buru-buru, ada yang santai, ada yang berdiri berkelompok berbicara dengan serius. Tidak aneh-aneh.

Tapi apa yang aneh dan apa yang tidak, Yuni tidak selalu bisa membedakan lagi.

 

* * *

Maret 1998 Rendra mengajak Yuni jalan ke Pasar Besar.  Bukan untuk belanja  atau bukan hanya untuk belanja. Mereka berkeliling selama hampir dua jam, melihat-lihat kios yang mulai banyak yang tutup lebih awal atau memajang harga dengan angka yang membuat Yuni menghitung ulang kiriman bulan ini di kepalanya.

Di warung makan kecil di sudut pasar, mereka duduk dengan dua gelas es teh dan nasi pecel yang harganya sudah naik tiga ratus rupiah dari terakhir Yuni ke sini.

"Aku mau tanya sesuatu," kata Rendra.

Yuni menunggu.

"Kalau aku bilang ada sesuatu yang perlu dilakukan sesuatu yang mungkin tidak aman kamu mau aku cerita atau tidak mau tahu?"

Pertanyaan yang aneh. Atau mungkin tidak aneh mungkin justru pertanyaan paling jujur yang pernah seseorang ajukan kepada Yuni.

"Aku mau tahu," kata Yuni.

"Bahkan kalau tahu itu membuat kamu khawatir?"

"Aku sudah khawatir. Lebih baik khawatir dengan informasi daripada tanpa."

Rendra menatapnya sebentar. Kemudian mulai berbicara pelan, dengan mata yang sesekali melihat ke sekitar tapi tidak dengan cara paranoid, lebih seperti kebiasaan baru yang sudah terbentuk tanpa ia sadari.

Ia bercerita tentang kelompok yang lebih terorganisir yang ia ikuti sejak Januari. Bukan kelompok yang resmi, tidak ada nama yang bisa disebut, tidak ada struktur yang kaku. Tapi ada rencana untuk terlibat lebih langsung ketika saatnya tiba. Ada kemungkinan turun ke jalan. Ada kemungkinan hal-hal yang lebih dari itu.

"Aku tidak memintamu untuk setuju," kata Rendra. "Aku hanya tidak mau kamu tidak tahu."

Yuni memainkan sedotan es tehnya. Melihat ke meja. Lalu ke Rendra.

"Aku tidak bisa bilang aku tidak takut," katanya.

"Aku juga takut," kata Rendra. Pelan. Seperti pengakuan yang berat. "Tapi ada hal-hal yang lebih berat dari takut."

Mereka makan siang dengan bicara tentang hal-hal lain setelah itu  tentang ujian akhir semester yang semakin dekat, tentang perpustakaan yang jam bukanya dikurangi karena pemadaman listrik yang semakin sering, tentang Fitri yang katanya mau pulang ke Sidoarjo lebih awal dari rencana karena keluarganya khawatir.

Tapi di bawah semua percakapan itu, ada sesuatu yang sudah diletakkan di meja dan tidak bisa diambil kembali.

 

* * *

Surat ke-sebelas ditulis akhir Maret, setelah malam yang panjang. Malam itu ada kabar dari Jakarta  lebih besar dari biasanya, lebih dekat. Rendra datang ke diskusi dengan wajah yang berbeda; bukan tegang, tapi seperti orang yang sudah di sisi lain dari sebuah keputusan. Diskusi itu tidak tentang buku. Tentang apa yang akan terjadi dan kapan. Yuni pulang sendirian malam itu Rendra tinggal bersama yang lain.

Maret 1998

Rendra,

Malam ini kamu tidak pulang bersama aku. Itu pertama kalinya sejak Oktober.

Aku berbaring di kasur dan mendengar Fitri tidur dan Lastri balik-balik posisi dan aku tidak bisa tidur bukan karena berisik tapi karena terlalu sunyi di bagian tertentu.

Aku tidak menyesal mengetahui apa yang kamu ceritakan di Pasar Besar. Aku berjanji aku tidak akan menyesal. Tapi malam ini aku izinkan diri aku takut sebentar  bukan untuk selamanya, hanya malam ini.

Besok aku akan baik-baik saja lagi. Aku janji.

Yuni

 

* * *

April datang dengan hujan yang tidak bisa diprediksi  kadang pagi, kadang malam, kadang dua kali sehari. Yuni dan Rendra masih bertemu. Masih jalan pulang bersama kalau sempat. Masih ada momen-momen kecil yang terasa normal Rendra membawa dua kopi dari warung karena ia lewat, Yuni meminjami catatan kuliah yang Rendra lewatkan karena ada pertemuan.

Tapi ada sesuatu yang berubah di bawah permukaan semua kenormalan itu. Rendra lebih sering diam. Bukan diam yang kosong  diam yang penuh, diam orang yang sedang membawa sesuatu di dalam yang tidak selalu bisa ia bagi. Yuni belajar membaca diam itu. Belajar tidak mengisi setiap sunyi dengan pertanyaan.

Ada kesepakatan baru yang tidak dibicarakan: bahwa ada hal-hal yang Yuni tidak perlu tahu untuk melindungi keduanya. Bahwa ada batas antara bersama dan terlibat sepenuhnya. Bahwa cinta  atau apa pun nama yang tepat untuk apa yang ada di antara mereka  tidak harus berarti tidak ada rahasia.

Yuni tidak selalu nyaman dengan kesepakatan itu. Tapi ia menerimanya. Karena alternatifnya adalah meminta Rendra menjadi orang yang berbeda. Dan itu tidak pernah menjadi bagian dari apa yang ia inginkan.

 

* * *

 

 

 

Suatu Selasa malam di pertengahan April, Rendra mengetuk pintu kamar Yuni. Ini tidak biasa  mereka biasanya bertemu di tempat-tempat bersama, bukan di kamar. Yuni membuka pintu. Rendra berdiri di luar dengan jaket yang sedikit basah karena hujan tipis yang rupanya turun di luar dan Yuni tidak mendengar dari dalam.

"Boleh masuk sebentar?"

Fitri dan Lastri tidak ada, Fitri ke wartel, Lastri ke kamar temannya di lantai atas. Yuni membuka pintu lebih lebar.

Rendra masuk. Duduk di kursi meja belajar  satu-satunya kursi selain kasur. Yuni duduk di tepi kasurnya. Mereka diam sebentar. Di luar hujan mulai turun lebih deras.

"Aku mungkin tidak ada beberapa hari ke depan," kata Rendra akhirnya. "Kalau kamu cari dan tidak ketemu, jangan khawatir dulu."

"Jangan khawatir dulu berarti khawatir setelah berapa hari?" Sudut bibirnya naik sedikit. "Seminggu. Kalau lebih dari seminggu, kamu boleh khawatir."

Yuni mengangguk. Menatap tangannya di atas lutut.

"Rendra."

"Hm."

"Hati-hati."

Kata yang paling sederhana. Kata yang tidak cukup untuk semua yang ingin ia katakan tapi yang paling mendekati apa yang bisa ia berikan malam itu.

Rendra menatapnya,  lama, lebih lama dari biasanya. "Aku tahu," katanya. "Aku selalu hati-hati."

Ia pergi lima menit kemudian. Suara langkahnya di koridor, lalu di tangga, lalu tidak ada. Yuni duduk di tepi kasurnya dan mendengarkan hujan.

Ia tidak menulis surat malam itu. Ada hal-hal yang bahkan menulis tidak cukup untuk menampungnya. Ia hanya duduk. Mendengarkan. Menunggu suara langkah yang tidak kembali malam itu.

 

* * *

 

Rendra kembali empat hari kemudian. Ia mengetuk pintu kamar Yuni pagi-pagi, sebelum Fitri dan Lastri bangun. Yuni membuka pintu dan melihat Rendra berdiri dengan wajah yang kelelahan tapi utuh tidak ada yang berbeda secara fisik, hanya ada sesuatu di matanya yang seperti orang yang sudah melihat sesuatu dan tidak bisa tidak melihatnya.

Lihat selengkapnya