Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #1

Apapun Tentang Warisan Itu Mematikan

Ruskin Unkle bukanlah sesosok pria empat puluhan yang rupawan, meski tidak memiliki seorang istri. Ketika pria lain yang seusianya―yang memiliki karier di bidang bisnis―juga sibuk menjaga bentuk tubuh, Rusy seolah tidak peduli dengan perutnya yang condong keluar. Anehnya, lelaki itu tetap bisa mendaki gunung-gunung dengan begitu energik. Barangkali tenaganya ada pada otot-otot lengannya itu. Kudengar, dia suka mengangkat dumbbell saat sedang duduk saja di kantor. Tentu, sembari melayangkan mata rubah hijaunya kepada sang sekretaris atau perempuan manapun yang lewat di depan kaca ruangannya yang didesain hanya bisa dilihat dari dalam. Entah, bagaimana bisa ada yang tertarik pada orang yang juga tidak merawat rambutnya dengan benar. Rambut pirang sebahu itu seperti tidak pernah disisir. Hanya diikat, lalu diurai, lalu diikat lagi. Mungkin, memang benar kata orang-orang, uang adalah daya tarik Rusy. Sebagai cucu pertama perusahaan real estate, dia mewarisi sebagian besar kekayaan yang diturunkan oleh kakeknya. Itu belum termasuk harta orang tua dan miliknya sendiri. Jika aku adalah gadis gila, maka aku juga akan menghalalkan segala cara untuk turut menikmati kekayaan Rusy―termasuk tidur dengannya.

Namun, aku tidak gila! Aku terlalu waras untuk menyadari bahwa seorang Ruskin Unkle adalah binatang yang biadab. Melihat wajahnya saja aku sudah muak, apalagi ketika dia tersenyum, seolah isi lambungku diguncang-guncang begitu hebat sampai memuntahkan darah sekalian. Sebab saat sudut bibirnya melengkung ke atas―meski itu sebuah senyum yang ramah―aku selalu mengartikannya sebagai senyum yang menjijikkan.

“Oh hei… Marius! Bagaimana kabarmu belakangan ini? Aku sangat senang mendengarnya saat kamu bilang akan ikut pendakian tahun ini!”

“Kabarku selalu baik, Rusy. Tapi maaf sekali aku memberitahumu secara mendadak kalau―”

“Ah, ini pasti orangnya!”

Sepasang mata rubah hijau itu tetiba mengikatku dalam pertukaran pandang yang intens. Seketika tubuhku bergidik. Segera kuikatkan kedua tanganku di belakang tubuh, saling meremasnya dengan kuat. Aku hampir tidak bisa mengontrol rasa muakku. Tenang, Jia, tenang… kamu sudah melatih dirimu dengan sangat baik. Aku mengubah getaran di tubuh ini menjadi sebuah tipu muslihat. “Seperti mimpi!” seruku. “Aku tidak pernah menyangka akan bertemu Sang Legenda Real Estate, sampai-sampai aku gemetar saking gugupnya.”

Rusy tertawa kecil. “Tidak perlu menyanjungku begitu! Kita ini saudara, jadi yang wajar saja di antara kita. Tapi… jujur, aku tidak mengingat namamu.”

“Yah, kita bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.”

“Oh ya? Berarti ini perdana! Izinkan aku memperkenalkan diri dengan benar.” Lelaki itu mengulurkan tangannya, sementara aku menelan ludah dengan perlahan agar rasa jijikku tidak terlalu kentara sebelum menjabat tangan itu. “Namaku Ruskin Unkle, tetapi kamu bisa memanggilku Rusy―panggilan ini khusus di antara keluarga saja.”

“Senang berkenalan denganmu, Rusy. Aku putri dari saudaranya ibu Marius. Ehm… bisa dibilang cukup jauh. Gianna Pabst.”

“Bagaimanapun, kita tetaplah bersaudara.” Rusy menyambung pernyataannya dengan tawa usai memanyunkan bibir. Namun, untuk sepersekian detik, aku menyadari sesuatu. Sebuah gelagat seakan dia pernah mendengar nama margaku.

Lihat selengkapnya