Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #2

Soal Jumlah Itu Berbahaya

Perjalanan menuju salah satu puncak Alpen―yang sekarang hendak kutuju, yaitu Zugspitze―dimulai dengan sedikit drama. Ziemowit Unkle merapatkan tubuhnya pada Ario―yang merupakan adik kandung Rusy―memborbardir dengan berbagai pertanyaan yang semuanya menjurus pada harta warisan milik kakek mereka. Aku yang berjarak tiga orang dari mereka mulai merasa dag-dig-dug, takut kalau-kalau amarah Rusy meletup. Sebab lelaki yang berjalan di paling depan itu menunjukkan pundak yang naik-turun seakan sedang berusaha mengendalikan emosi.

Aku mengedikkan mata pada Marius. Dia membalas dengan senyum seolah berkata itu bukan masalah yang besar. Seharusnya, aku juga tidak perlu takut. Bagaimanapun, jika amarah Rusy meletup, itu hanya akan tertuju pada Ziemo―dan semakin menunjukkan jati diri Rusy yang sebenarnya. Namun, sungguh, apapun tentang warisan itu mematikan. Aku telah banyak mendengar tentang kasus pembunuhan terhadap saudara hanya karena harta warisan.

“Hei, bagaimana pendapat kalian tentang hakku yang diberikan tidak genap? Bukankah aku juga cucu keluarga ini? Apa karena dalam tubuhku mengalir darah Polandia, jadi aku tidak berhak mendapat hakku seutuhnya?”

“Astaga, Ziemo! Itu sudah dua tahun yang lalu.” Pada akhirnya Rusy mengambil beberapa langkah mundur, memasangkan wajahnya ke hadapan Ziemo. “Lagipula, kamu ‘kan juga sudah menandatangani surat perjanjian. Yang artinya… kamu setuju.”

Ziemo berdeham. “Maaf, ralat, hampir dua tahun.”

Air muka Rusy berubah keruh, mengkerut seperti muka singa yang sedang berhadapan dengan lawannya. “Ya… hampir dua tahun dan kamu masih saja membahasnya.”

Zrelaksuj się, bracie*! Aku hanya bilang. Tidak bermaksud apa-apa.”

“Yang berlalu biarlah berlalu, Ziemo.”

Ziemo mengangkat kedua tangannya setinggi bahu. “Tapi karena itu aku jadi berpikir untuk lebih berhati-hati mengurus keuanganku.”

“Bagus! Dan tolong gunakan bahasa Jerman supaya aku paham setiap perkataanmu.”

“Aha! Ketika di Roma, kamu harus berlagak seperti orang Roma, bukan? Ich verstehe das sehr klar**.”

Lihat selengkapnya