Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #3

Bernapas Sebelum Tancap Gas

“Semuanya istirahat lima menit!” perintah Rusy disambut dengan tas-tas ransel yang bergelimpangan di atas tanah berkerikil. Masing-masing membuka tasnya, menggapai perbekalan yang sudah dikemas dalam kotak atau kantong plastik beritsleting. Ada yang membawa cokelat, ada yang membawa kue kering. Hanya Rusy yang memakan roti lapis isi keju yang dibaginya bersama Ario.

“Maaf, aku tidak punya roti lapis.” Marius menghampiriku sembari menyodorkan camilan energy bar. Dia duduk di sebelahku usai aku meminang makanan itu.

“Ini lebih baik daripada roti lapis, mengingat perjalanan kita yang masih panjang.”

“Masih kuat untuk melanjutkan?”

“Tentu,” jawabku sembari menggigit makanan berenergi dengan netra yang terpaut pada Rusy. Aku hampir tersedak sebab di saat yang bersamaan Ark juga sedang memandangi pria berperut buncit itu. Aku bergegas mengalihkan pikiranku yang sempat syok ini. “Apa menurutmu Rusy bisa mengalahkan puncak Alpen?”

Tawa menggelincir dari bibir Marius. Mungkin, pertanyaanku terlalu lucu untuknya sebab tubuhnya turut berguncang hebat―terlihat dari bahunya yang memantul-mantul. “Jangan salah! Perutnya itu tidak bisa menghalangi niatnya. Paling hanya terasa mengganjal saat kakinya terangkat ke atas. Tapi kurasa itu juga bukan halangan sebab dia memang sudah punya hal yang mengganjal sedari lahir.”

Aku membelalak―hal yang biasa kulakukan saat tidak mengerti sesuatu. Marius sudah hapal dengan gesturku ini. Dia lantas menunjuk ke arah bawah, tepat di antara kedua kakinya.

“Marius!” Suaraku lantang dan sebuah gamparan tahu-tahu sudah mendarat di lengan pria itu. Marius ganti membelalak, tetapi tidak menghentikan tawanya. Saking kesalnya dengan respons Marius, kuberi dia gamparan berulang di sekujur tubuh.

“Hei, hei, ada masalah apa ini?”

Rupanya, kehebohan kami menarik perhatian Rusy. Dia masih dalam memproses gigitan roti lapis terakhirnya. Cairan berwarna kuning―barangkali dari lelehan keju yang ada dalam roti lapisnya―tertoreh di sudut bibirnya. Namun, Rusy sadar diri akan hal itu dan mengusapnya dengan punggung telunjuknya. Netraku mengamati jemari yang kini ternoda oleh lelehan keju. Aku bersumpah tidak akan menjabat tangan Rusy ataupun bersedia dekat-dekat dengannya sampai kulihat dengan mata kepalaku sendiri dia mencuci tangan. Namun, lagi-lagi Rusy sadar diri dan bergegas saling mengusapkan kedua tangan.

“Ah, tidak… aku hanya sedang menggoda Jia.”

“Aku tidak tahu kamu sedekat ini dengan Nona… Pabst.” Netra Rusy melirik sekejap ke arahku. Tatapan sepersekian detik yang mencakar seperti elang.

“Ya… setelah dia memberi komentar di postingan Instagramku kalau puisiku terlalu dangkal. Semenjak itu―”

Lihat selengkapnya