Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #4

Mata-mata Memata-matai Mata-mata

Vegetasi pohon cemara dan pepohonan lain yang tidak kuketahui pasti namanya mulai membingkai perjalanan kami. Langkah-langkah kaki ini masih mengikuti jalur sungai yang berkelok. Kontrasnya warna putih dari tanah berpasir dan warna biru pastel serta kerumunan cemara yang masih hijau membuat pendakian terasa lebih magis. Aku seakan dibawa menuju alam yang berbeda, membuat jiwa tidak ingin kembali apabila pepohonan lain yang menguning daunnya tidak mengingatkan. Guguran-guguran daun kuning memberi nuansa cacat yang justru membuat aura pegunungan Alpen ini terasa lebih dramatis. Ada yang menyadarkan bahwa sejatinya musim dingin akan segera tiba dan suhu di atas sana akan jauh lebih dingin lagi.

Aku menggenggam erat tali tas ranselku, mendekap diri tatkala membayangkan rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.

“Dingin?” Suara yang sejatinya tidak ingin kudengar saat ini malahan muncul dari belakang.

Aku mendapati Rusy, dengan tampang seriusnya, tengah menancapkan sorot matanya padaku hingga rasanya seperti ditelanjangi. “Tidak begitu. Aku sudah mengenakan pakaian rangkap.”

“Tidak pengap?”

Aku menggeleng. “Lebih baik terlalu hangat jika berada di sini. Kanan-kiri tebing besar, membentang seperti tembok sehingga angin terasa hanya berlalu melewati dua arah. Tidak menyebar ke mana-mana. Tapi, ya… akan jauh lebih dingin di atas.”

“Tentu. Jika kamu merasa kedinginan, aku siap untuk berbagi kehangatan.”

Kata-kata itu seperti pedang yang menancap ke relung hatiku, menohok perasaanku yang paling rapuh. Aku mencoba menguasai diri. Mungkin, Rusy memang sudah mengendus aroma yang kututupi dengan dalih ingin mencoba mendaki.

“Tidak perlu. Aku sudah membawa jaket tambahan.”

“Ah ya… barangkali kamu juga butuh selimut, aku membawa ekstra.”

“… untuk di pondok nanti.”

“Untuk di pondok nanti.” Rusy mengulangi kalimatku.

Lalu, suasana menjadi hening di antara kami berdua. Terlalu hening, sampai-sampai aku bisa mendengar denting lonceng yang dikalungkan pada sapi-sapi di kejauhan. Barangkali, pikirankulah yang telah melayang ke mana-mana dan bunyi lonceng itu membawaku jauh pada suatu ingatan. Pada hari Minggu, ketika lonceng gereja dibunyikan, seorang gadis muda berlari pulang dengan air yang bersimbah di pipi sementara darah bersimbah pada gaun merah mudanya. Dia menarikku menuju kandang kuda, merapat di sudutnya. Dia terduduk pada tumpukan jerami sembari meringis. Tatkala kutanya mengapa, jawabnya hanyalah tidak apa-apa. Dia melekatkan jari telunjuknya ke bibir, tersenyum. Namun, pada ujung bibirnya itu kulihat getaran yang hebat. Kalimat “jangan bilang ke siapapun” itu meyakinkanku―yang pada waktu itu belum mengerti makna di balik gerak-geriknya―untuk tidak pernah mengungkapkannya. Sebuah rahasia yang baru kupahami seiring berjalannya waktu.

Terkutuk memang! Bahkan setelah semuanya itu, sang pelaku masih bisa mendekatiku dengan kata-katanya yang menjurus. Aku memutar bola mata, mengalihkan pandangan ke arah lain untuk membuang kekesalanku. Sialnya, jangkar netraku tertambat di titik yang salah. Sepasang mata biru langit mencengkeramku. Lembut, tetapi mematikan. Sebab seluruh bingkai wajahnya kelam bagaikan tak tersentuh cahaya matahari.

Seketika aku merasa gugup. Mengapa Ark melihatku sebegitunya? Gelisah membuatku menggaruk belakang leher tanpa sengaja. Lama-lama tubuhku terasa panas apalagi setelah Rusy menceletukkan sesuatu yang membuat duniaku mendadak runtuh.

Lihat selengkapnya