Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #5

Bidak-bidak Catur

Pucuk Reintalangerhütte telah terlihat. Ia seperti pucuk piramida tetapi berada di belantara alam yang melankolis. Kabut tipis tampak menggantung di antara pegunungan, membungkam semarak nyala api dalam kesenduan. Seakan kesuraman itu ingin memakan segala yang hidup hingga yang tersisa benar-benar hanyalah hampa.

Grüβ Gott*!” teriak seseorang yang bergegas keluar dari dalam pondok. Dua orang lain pun ikut keluar, lantas menyapa kelompok kami satu persatu. “Kalian datang dari mana?”

“Sebenarnya aku lahir di sini, di Oberstdorf, tapi besar di Berlin.” Rusy menyahut.

“Kalian jauh-jauh ke mari pasti ingin sampai ke Zugspitze, gell**?”

“Tentu saja.”

“Mereka juga mau ke sana.” Orang itu menunjuk kepada dua orang rekannya. “Dari Amerika, ingin menjelajahi semua puncak Alpen. Tapi jam tanganku berkata cuaca akan memburuk.”

Ketika aku berada dekat dengan mereka, kudapati netra Rusy seakan terpikat dengan benda yang melingkar di tangan orang itu. “Alat yang canggih.”

“Ya, ini Garmin Fenix 7. Sangat membantu membangun reputasiku.”

“Tapi tanda-tanda alam juga bisa membentuk alarm palsu bukan?”

“Benar, makanya aku memutuskan untuk singgah dulu di sini dan melihat situasi dua jam ke depan. Kalian akan ke Zugspitze hari ini juga?”

“Kami akan menghabiskan malam terlebih dahulu di Knorhütte.”

Si pemandu melemparkan tatapannya ke tebing tinggi yang berada tepat di sebelah Reintalangerhütte. “Sepertinya tidak apa-apa kalau ke sana. Tapi karena sudah mendekati musim dingin, tidak akan ada staf.”

“Kami membawa perbekalan yang cukup.”

“Ngomong-ngomong soal itu, kami sedang memasak goulash***. Makanlah dengan kami. Porsinya cukup untuk kita semua.”

Lihat selengkapnya