Di kejauhan, kulihat pondok itu bertahta di antara gerombolan bukit yang gersang dan berwarna semu. Ia hampir-hampir tak terlihat sebab warnanya senada dengan bebatuan yang membelenggu di sekitar. Namun, ia ada di sana sejauh mata ini memandang.
Kami mulai mendaki jalan yang menanjak. Pada suatu titik bertemu kembali dengan sungai Partnach yang gemericik, mengundang jiwa yang bosan dengan kesemuan alam. Langkah kaki kami mendampingi arus sungai yang lemah, yang kemudian hilang di bawah tanah. Lagi, kami harus akrab dengan kesemuan alam yang tak lagi terjamah hijaunya cemara atau sekadar guguran daun musim gugur yang memberi kesan nostalgia. Di sini, semuanya benar-benar usang seakan waktu yang menarik jiwa menuju pungkasnya.
Tetiba seseorang mengaduh, di kala aku sedang mencegat napas agar tidak enyah dari paru-paru. Bunyi gemerosok yang bertubi-tubi mengantarkan segelintir kerikil longgar dan batu tajam kepadaku. Sesuatu yang tidak kupesan. Barulah sosok si pemicu bunyi itu menampilkan batang hidungnya. Tepat di depan kakiku. Hampir merobohkanku seperti bola bowling. Setelah kuamati, sosok yang jatuh itu tidak lain adalah Marius―dalam posisi melintang, dengan kaki kanan dipegang oleh Ark dan tali tas ransel digenggam oleh Cayo.
Marius mengerang seakan menahan sakit tak terperi. Aku bergegas bersimpuh di sisinya. “Marius! Ada yang terluka?”
Ark membantu Marius untuk duduk. Sekilas dia melirik ke arahku, lalu menyunggingkan senyum yang begitu licik. Lama-lama, aku ingin sekali menimpuk kepalanya dengan batu. Sungguh, aku sama sekali tidak pernah menyenggolnya, tetapi mengapa perlakuannya justru seperti itu.
Marius kembali mengerang. Aku melihat setetes warna merah mengucur dari sela jemari tangan kanannya. Aku hendak mengeluarkan P3K dari dalam tasku, tetapi Ark lebih dulu meminta yang lain memberinya obat merah.
“Marius, apa yang terjadi? Kenapa bisa menggelinding?”
Marius menyemburkan tawa menanggapiku. Kontan aku menepuk lengannya, membuatnya tersedak di sela tawanya itu.
“Bisa-bisanya masih tertawa di saat aku panik!”
“Batu yang kupijak rapuh rupanya. Tiba-tiba saja pandanganku berputar-putar seperti naik tornado di pasar malam waktu itu.” Marius lalu mengangkat tangan kanannya. “Kurasa, hanya ini yang sakit.”
Aku menepuknya sekali lagi. “Rasakan dengan benar! Karena kita sedang berada di atas gunung. Tidak ada rumah sakit di sekitar sini dan tidak ada tenaga profesional yang menolong.”
“Maksud Jia, jangan menjadi beban Marius!” komentar Ark.