Sungguh, ia begitu dekat. Seakan tinggal selangkah lagi.
Sepuluh meter kemudian, kami tak juga sampai. Dan ia menghilang dari pandangan.
Puluhan langkah kemudian, ia timbul-tenggelam. Seakan ingin bermain petak umpet bersama kami. Lalu, kami mendengar suara itu.
Aku dan Ark bertukar pandang. Kuyakin, pikiran kami bersepakat tentang bunyi-bunyian itu. Sebab kami akrab dengan keduanya.
“Warisan lagi yang kamu bahas! Kamu sudah menandatangani kontrak denganku ya dan itu sudah hampir lunas.”
“Kurang, jika kamu hitung bersama potongan administrasinya. Jumlah itu bukan hal sepele untukku. Aku bisa membawa pacarku ke Hawaii dengan itu.”
“Hah, sejak kapan anggota keluarga Unkle itu miskin? Apa uangmu dihabiskan ibumu untuk membayar gigolo?”
“Jangan bawa-bawa ibuku ya! Dia wanita terpandang!”
Begitu aku dan Ark sampai ke ujung bukit yang menutupi pandangan kami dari sumber suara itu, kami menyaksikan tangan Ziemo sudah mencengkeram kerah jaket Rusy. Sementara yang lain hanya diam menyaksikan. Tak satupun berusaha melerai. Aku mencoba memberi kode pada Marius untuk segera bertindak, tetapi yang menangkap mataku justru Cayo. Dia mengedikkan dagu. Aku melotot, lalu ganti mengedikkan daguku ke arah kedua orang itu. Cayo hanya mengangkat bahu.
Aku memutar bola mata. Pada fase ini, mereka bisa saja saling pukul dan membuat beban orang yang terluka bertambah. Lagipula, aku tidak ingin Rusy menjadi makanan empuk Ziemo. Aku ingin dia untukku sendiri.
Akupun menyiku lengan Ark, memberi kode agar dia bertindak. Toh, dia ini adalah kesayangannya Rusy, bukan? Pria itu selalu membelanya mati-matian. Namun, Ark malah berbisik kepadaku, “Biarkan saja. Itu urusan mereka.”
Aku membelalak, ganti berbisik kepadanya. “Kalau mereka terluka bagaimana? Marius saja belum ditangani dengan baik.”
“Berarti sudah saatnya menelepon Bergwacht*.”