Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #9

Ketika Ketakutan dan Keraguan Bertemu

“Nyalimu besar juga, Jia,” ucap Rusy sembari memelototiku. Aku meronta, meminta tanganku kembali, tetapi Rusy yang jauh lebih besar dariku berhasil membuatku terhuyung ke arahnya. Spontan tanganku yang masih bebas mendarat di dada Rusy―sebagai penahan. Namun, itu adalah refleks yang salah sebab kini Rusy mendapatkan kedua tanganku. “Sekarang aku ingat di mana aku pernah mendengar margamu sebelumnya. Ya, sekilas kamu mirip dengannya. Anekke Pabst. Bagaimana kabar kakakmu itu? Apakah dia merindukan belaianku?”

Refleks yang lain ialah meludahi wajah Rusy. Pria itu menyeringai, tetapi jelas kelihatan bahwa dia jijik. Seperti diriku yang begitu jijik dengannya mengingat perbuatan yang dilakukannya pada kakakku. Rusy melepas salah satu tanganku untuk menyingkirkan air liurku dari wajahnya. Aku berusaha melepaskan diri, tetapi Rusy sama sekali tidak berkutik. Pikiranku dirundung rasa takut. Cemas apabila hal yang serupa juga terjadi padaku. Tanpa pikir panjang aku segera melolong, memanggil-manggil Marius agar datang membantuku.

“Diam kamu!” Rusy mengguncang-guncang tubuhku sebelum akhirnya mendorongku hingga terjatuh ke atas kerikil. “Dasar berisik! Entah apapun rencanamu ikut pendakian ini, sekali saja kamu mengatakan hal yang tidak-tidak di depan yang lain, kupastikan hidupmu hancur… dan bukan hanya kamu saja!”

“Aku tidak takut kamu menghancurkan hidupku atau keluargaku. Justru itu, aku akan semakin gencar membeberkan semua kebusukanmu, Rusy.”

“Siapa bilang aku ingin menghancurkan keluargamu?”

“Lalu, siapa?”

“Kamu tahu sendiri jawabannya.” Rusy melenggang pergi melewatiku. Sedangkan aku menunduk, menelaah setiap untaian kalimat Rusy untuk menemukan ujungnya. Rusy tidak akan menghancurkan hidup pacarku karena gebetan saja aku tidak punya. Mungkinkah dia ingin menindas kakakku lagi? Namun, dia adalah saudara perempuanku yang berarti anggota keluargaku juga. Lantas, nama itu terbesit.

Aku langsung berdiri dan mengejar Rusy meski sempat gontai karena beban di punggung. “Gila kamu, Rusy! Dia itu adikmu sendiri!”

“Aku bahkan bisa melenyapkan Ario kalau aku mau. Coba saja tantang aku!”

Rahangku hampir lepas saking terkejutnya dengan isi pikiran Rusy. Barangkali, apa yang dikatakan Cayo benar adanya. Ada sesuatu di balik ritual pendakian tahunan ini. Aku merangkul diri, menghalau rasa dingin sekaligus menutupi jiwaku yang hampir melompat dari raga. Bagaimanapun, semengerikan apapun Rusy nantinya, aku harus tetap memberinya sedikit pelajaran.

Lihat selengkapnya