Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #10

Tabuhan Penambah Pilu

Setengah jam sudah berlalu semenjak taruhan itu dibuat. Rusy dan Ziemo mondar-mandir dalam arah yang berlawanan. Saling mengamati seperti dua koboi yang hendak memantik pistol mereka. Ario lebih memilih merawat Marius. Dia sudah dicekoki Rusy untuk melatih kemampuan medisnya yang abal-abal, tetapi dalam situasi sekarang, kemampuannya itu cukup membantu. Kulihat Marius sudah lebih stabil. Darah tidak lagi mengalir melewati celah jemarinya. Luka itu sudah terjahit rapi, meski bagian dalamnya belum terkontrol dengan benar. Aku bingung, mengapa orang-orang ini lebih mementingkan ego mereka untuk tetap naik ketimbang memanggil bantuan untuk Marius. Namun, lelaki itu sendiri tidak mau ditolong. “Aku pernah terluka lebih parah dari ini, Jia. Aku tahu batasku,” ucap Marius, yang membuatku seketika meninggalkan ruangan dan mencari kamar paling sudut yang berada di lantai dua.

Dalam ruangan ini, aku tak lagi dapat mendengarkan suara mereka. Hanya bunyi derak kayu yang mendayu-dayu seram. Di luar jendela, kabut tampak menggelayut rendah. Awan yang semula berwarna seperti timah kini menjadi lebih putih. Namun, netraku bisa menangkap pergerakan koloni titik-titik air itu dengan jelas. Angin seakan mengarahkan mereka untuk menyerang pondok ini. Sekilas berlalu, pucuk-pucuk gunung mulai kelihatan lagi. Tidak lama setelahnya mereka menghilang. Alam seperti sedang memutar film nostalgia yang mengingatkan seseorang bahwa dunia itu kecil.

Dunia yang kejam.

“Ssstt, jangan bilang siapa-siapa tentang kejadian hari ini.”

Kalimat itu kembali menyerang memoriku. Napasku tertahan kala melihat ujung roknya masih merembeskan darah yang segar. Dia lantas menyuruhku duduk demi bisa menyandarkan kepalanya ke pangkuanku. Aku tanya bagian mana yang sakit. Namun, dia hanya cekikikan.

“Kamu… harus menjadi perempuan yang kuat, Jia, agar tidak seorangpun dapat menyentuhmu.”

Aku mengingat baunya. Darah yang segar bercampur bau kotoran kuda yang berkeliaran di belakang kami. Kurasa, aku tidak menangis saat itu. Tidak yakin apa yang kukatakan selanjutnya. Mungkinkah aku mengajaknya bermain? Sebab dia lalu bangkit dan mengulurkan tangannya padaku. Kupinang jemari yang kurus itu dan dia tertawa. Dia mencoba melompat-lompat kecil, tetapi langkahnya kadang tertahan oleh sesuatu. Maka dia akan menyeret kaki, keluar dari kandang kuda, dan menuju ilalang yang tumbuh setinggi dadaku. Tanpa melepas pegangannya.

Kurasa, tangan itu mencengkeramku erat sebab masih kuingat rasa takutku. Takut apabila dia marah dan tidak mau lagi bermain denganku.

Namun, dia tetap tertawa di sela permainan petak umpet kami sampai akhirnya ayah datang. Wajahnya memerah dengan bola mata yang hampir keluar dari rongganya. Keringat sebesar jagung bercucuran dari pelipisnya. Dia jatuh bersimpuh di hadapan gadis itu. Kedua tangan menggenggam bahunya. Dari bibirnya meluncur kekhawatiran. Gadis itu tidak menjawab. Ayah pun menggendongnya dalam pelukan, menyuruhku untuk mengikuti menuju rumah.

Di dalam rumah, ibu menangis histeris. Meraung-raung seperti orang yang habis kehilangan seseorang. Dia memeluk gadis itu erat, lalu mencengkeram rok yang bernoda darah itu. Ayah yang menghilang sekejap, datang dengan jaket bikers-nya. Sekumpulan kunci dalam genggaman. Dia memanggil ibu―yang ialah nenekku, meminta beliau untuk menjagaku. “Jangan biarkan siapapun mendekat!” katanya. Dipanggilah pula pamanku yang masih muda usianya. Dia sedang bersama dengan teman-temannya. Ayah membisikkan sesuatu yang tidak kumengerti, tetapi tercetak jelas pada wajah paman dan teman-temannya. Sesuatu yang mengejutkan.

Lihat selengkapnya