Seharusnya aku tidak perlu membuang energiku untuk Jia. Bagaimanapun, ini adalah peperanganku. Meminta bantuan pada orang lain sama saja tidak bisa menikmati kemenangan seratus persen. Mulai detik ini, aku harus fokus dengan misiku. Sebentar lagi, badai akan tiba. Aku harus membuat Rusy keluar dari pondok agar aku bisa menjalankan rencanaku.
Hmm… kelihatannya mereka sudah selesai bertengkar.
Bunyi tap-tap ialah langkah kakiku yang menuruni tangga. Dengan tidak terburu-buru, aku memasuki bingkai pintu yang mengarah ke ruang perapian dari lantai dua. Ternyata dua orang itu masih berseteru rupanya. Hanya saja, kali ini dalam ketenangan. Mereka berdiri berhadapan, saling memandang. Salah satunya menyilangkan kedua tangan di depan dada, yang lain memasukkan tangannya ke saku celana. Sungguh, perang psikologi yang melelahkan.
Namun, peperangan yang kulalui jauh lebih melelahkan daripada ini. Aku masih ingat betul. Tiga hari sesudah ulang tahunku yang ke delapan, mereka mendatangiku. Kupikir, mereka hendak memberi kejutan. Sebuah hadiah besar yang selalu kuimpikan. Bayangkan, saudara-saudara sepupuku adalah orang-orang yang kaya. Mereka bisa saja membelikanku kuda agar aku bisa memenuhi mimpiku melaju di pacuan. Akhirnya, aku bisa berlatih menaiki hewan bersurai indah itu. Mungkin, mereka juga membuatkan sekalian arena untukku berlatih. Kurasa, harapanku ketinggian ketika itu.
Mereka membawaku ke gua di dalam hutan. Lokasinya di pinggir kota, jauh dari keramaian. Katanya, aku harus membuktikan diri kalau aku juga bagian dari keluarga Unkle.
“Ibuku ‘kan bibi kalian,” kataku polos. Secara teori, memang benar adanya. Ibuku adalah anak terakhir dan putri satu-satunya. Jarak usianya dengan ayah Rusy sangat jauh sebab kakek dan nenekku menikah sangat muda. Terlalu muda untuk menikmati hidup dalam kebebasan. Kata ibuku, mereka sengaja dijodohkan untuk menjaga harta kekayaan keluarga masing-masing. Lalu, mereka mempunyai tiga anak laki-laki di usia pernikahan yang seumur jagung. Bertahun-tahun kemudian, saat nenekku sudah hampir mendekati usia tidak produktif, dia berdoa agar dikarunia anak lagi. Perempuan, pintanya, dan itu terkabul. Jadi, ibuku notabene adalah miracle baby dalam kehidupan pernikahan mereka.
Bertahun-tahun kemudian, setelah ketiga anak laki-laki menikah dan mempunyai keturunan masing-masing, nenek meninggalkan mereka. Barulah ibuku menikah dan melahirkan aku, Ark Kahler. Harapannya, aku bisa menjadi bahtera yang mengarungi lautan dengan beribu kekayaan. Tidak kalah dari Rusy, Ario, Ziemo, dan Marius. Sepertinya, harapan ibuku itu mengganggu mereka. Kata Rusy, aku adalah bahtera yang tidak mengusung nama besar Unkle. Pada waktu itu, aku tidak begitu mengerti maksud perkataannya.
Sama seperti ketika mereka merundungku habis-habisan, bahkan sebelum aku bisa berjalan dengan lancar. Ibu bercerita kalau Ario pernah sengaja menyudutkanku ke ujung tangga di lantai dua, mengejutkanku berulang kali agar aku kaget dan tidak sengaja meluncur dengan bebas ke tepian anak-anak tangga. Semenjak itu, Ibu trauma untuk memiliki anak lagi. Dia ingin melindungiku mati-matian dalam diam sembari berupaya memberiku dunia agar bisa terbebas dari para saudara sepupuku. Tetapi aku sungguh bebal karena aku tidak mengerti.
Aku terlalu nyaman dengan pemikiran bahwa mereka adalah kakak-kakakku yang seru untuk diajak bermain. Mereka tidak akan menyakitiku. Tetapi perjalanan menuju gua itu menjadi titik balik yang menyadarkanku. Dalam temaram, ketakutan memperkenalkan dirinya dan memberiku sebuah hadiah yang besar. TRAUMA.
Aku ditinggalkan di teras rumah sehabis “permainan” itu dengan celana yang berlumurkan merah. Aku ingat wajah ibu menampilkan rentetan ekspresi yang bergulir cepat―kaget, menangis, marah―sebelum membawaku menuju rumah sakit. Lalu, menuju kota lain yang jauh dan tak pernah kembali. Namun, aku memang bebal. Kali ini dengan pikiran yang lain―bahwa mereka adalah kakak-kakakku yang pantas untuk dihukum.