Aku membuka peta wilayah Alpen. Ario membantu penerangan dengan cahaya lampu kepala yang menyorot dari dahinya. Sebenarnya, aku juga memakai itu. Baru sadar belum menyalakannya. Dari samping tubuhku, Lans sudah mulai merekam. Agaknya dia memberiku kode. Mungkin. Tangannya hanya membentuk siluet dalam kegelapan pagi ini. Aku menelusuri peta dengan ujung jari, mencari ke mana kami harus melangkah untuk bisa mencapai Zugspitzplatz―sebuah dataran tinggi di bawah puncak. Begitu paham, aku langsung mengarahkan telunjuk ke satu titik agar mereka mulai bergerak ke arah itu. Selagi mereka berderap, aku melipat peta dan memasukkannya ke saku celana.
“Harusnya tadi kamu mengucapkan dialog. Kamera sudah rolling, Ark. Aku bahkan sudah memberi kode.”
“Kode? Mana bisa aku melihatnya. Barangkali hanya di dalam pandanganmu matahari telah bersinar.”
“Tanpa kode pun, kamu harusnya sudah hapal itu. Kita tidak sekali-dua kali melakukan ini, Ark. Bitte*.”
Aku memilih untuk tidak berdebat. Ada sekelompok orang yang harus kupandu melewati kegersangan Zugspitzplatz. Bahkan ke kematian mereka. Orang terdepan sepertinya tidak yakin ke mana harus melangkah. Dia berhenti, menanti. Aku pun bersuara―seperti yang diminta Lans―menginstruksikan orang-orang itu untuk berbaris di belakangku. Semula, jalur menurun ringan. Tampak tiada beban, lalu ujung-ujung runcing mencoba menerobos alas sepatu kami. Seperti sedang menjalani terapi akupuntur murahan. Sama sekali tidak berefek. Langkah kaki kami berperang melawan gemerisik kerikil dan embusan angin dingin. Bunyi “krak, krak” dari sepatu bertarung dengan serak suara angin.
“Teman-teman, bisakah kita berhenti sejenak?”
Apa? Baru saja beberapa langkah seseorang sudah menyerah. Aku menoleh ke belakang dengan malas-malasan. Ario punya ide rupanya. Dia meminta Rusy berjalan sendirian menuju arah kamera dengan latar Knorrhütte yang perlahan mengecil di belakang. Cahaya dari lampu teras seakan sudah menyerah dengan udara malam ini. Sayu redupnya. Sama seperti bahu Rusy yang tampak kusut karena memeluk diri sendiri. Dia bermonolog seperti adatnya. Bisa kupastikan, ialah monolog terakhirnya.
Kami melanjutkan perjalanan melewati lautan kerikil dan batu yang tiada habisnya. Sesekali ada yang tergelincir sebab sisa salju yang kemarin sore datang melanda, memilih membeku menjadi lapisan tipis di permukaan bebatuan. Aku melemparkan sorot lampu kepala ke sekeliling. Pemandangannya sangat terbuka dan tiada satupun yang hidup, kecuali anak-anak manusia yang sedang diantar oleh sang pencabut nyawa menuju peristirahatan terakhir mereka.
Menurut estimasi waktu yang kuperhitungkan, jalur ini bisa dilalui hanya dalam satu jam. Aku membuatnya lebih lama dengan sedikit menyerong ke sana ke mari. Pun mereka juga sesekali berhenti untuk “syuting.” Mereka sungguh menguntungkanku yang sedang menanti hadirnya tanda-tanda badai. Aku melihat ke arah jam pintarku. Tekanannya masih dalam kategori normal.
Selintas waktu, kakiku yang semula berdecit-decit menahan agar tidak terperosok ke depan mulai mendapat pijakan yang nyaman meski kerikil longgar masih bernaung di bawah alas sepatu. Raga terasa lebih berat dibawa. Napas apalagi. Angin beku pun kuhirup dalam-dalam. Menyakiti hidung memang, tetapi lebih baik begitu daripada napas terhalang. Lagipula, datarannya tidak begitu curam.
“Hei, Pemandu! Apa kamu sudah bisa melihat Gletscherbahn-nya?” Kudengar suara agak jauh dari kupingku.