Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #16

Terbitnya Malapetaka di Gletscherbahn

Angin sembirit menabrak tubuhku. Aku melihat sekeliling, membaca apakah tanda-tanda badai itu akan menampakkan dirinya. Selagi netra mengembara, debum itu mengembalikan perhatianku pada dua sosok yang kini berbaku hantam. Ziemo―yang sepertinya telah lebam terlebih dulu―membenamkan tinju dengan mudahnya ke pipi Rusy, semakin meletupkan amarah lelaki itu. Sudah tiga atau empat kali hantaman, Ario tergopoh maju, hendak melerai keduanya. Sayangnya, tubuh yang kerempeng itu justru mental. Raga Ario terhuyung ke belakang menuju bibir tebing. Sebelah kakinya terayun maju-mundur, menjaga keseimbangan. Satunya lagi telah mengudara. Namun, gravitasi menang atasnya. Raga Ario terjun bebas menuruni tebing.

“Ario!” teriakku, seketika mengundang perhatian Rusy sebab dia segera berlari mengikuti jejak hilangnya saudaranya itu. Rusy bersimpuh di tepi tebing dengan kedua telapak tangan mendarat di sisi kepalanya. Cayo ikut melihat situasi di bawah. Mereka berbincang, apakah tubuh Ario kelihatan dari bawah sana.

Menggunakan kesempatan itu, Ziemo memberi kode pada Lans untuk mengikutinya. Mereka kabur menuju stasiun Gletscherbahn, meninggalkanku yang bimbang. Apakah harus mengikuti mereka atau memberi dukungan pada Rusy?

Langkahku memutuskan untuk mengikuti Rusy. Netraku mencari keberadaan tubuh Ario dengan bantuan senter kepala. Entah sejak kapan, kabut telah teranyam di belakang kami, menutupi seluruh pandangan kami dari Ario dan segala keadaannya kini. Aku melirik pada jam tangan. Masih pukul enam pagi.

“Seseorang harus turun dan membantunya.” Suara Rusy serak. Tidak kusangka bahwa ada sejentik kepedulian terhadap saudara kandungnya itu. Selama ini yang kulihat adalah betapa kerasnya Rusy pada Ario. Lihat saja! Tubuh saudaranya itu sampai kerempeng seperti orang yang terlalu banyak tekanan.

“Oke, aku akan turun.” Aku menawarkan diri.

“Tunggu! Aku butuh kamu di atas.” Tetiba Rusy menghentikan raga yang sudah mulai beranjak menuruni tanjakan yang curam.

“Di bawah sana berkabut. Hanya aku di sini yang lebih paham tentang situasi saat ini. Ario pun bisa melakukan pengecekan terhadap tubuhnya sendiri nanti.”

“Ya, kalau dia masih hidup.” Cayo menyela, langsung dipelototi oleh Rusy.

“Lans dan Cayo bisa turun―”

“Menyisakan kamu dan Ziemo untuk berkelahi.” Cayo kembali memotong.

Tetapi perhatian Rusy telah berpindah ke hal lain. Netranya mencari-cari sesuatu di balik bayang-bayang stasiun Gletscherbahn yang gelap. Dia menyadari bahwa dua sepupunya yang lain sudah tidak ada di sana.

“Rusy, aku akan turun dan menolong Ario. Itu adalah skenario terbaik saat ini.” Aku kembali menyarankan. Kali ini langsung disetujui. Aku tahu bahwa Rusy ingin mencari Ziemo dan menyelesaikan perkelahian mereka. “Cayo, sebaiknya kamu jaga Rusy agar tidak pergi ke mana-mana.”

“Aku tidak akan ke mana-mana.” Seolah menjawab kegelisahanku, Rusy menekankan.

Lihat selengkapnya