Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #17

Ia yang Akhirnya Mengamuk

Kosong.

Hanya ada jejak-jejak kaki yang tercetak di atas lapisan salju.

Seakan dunia memusuhiku dan membiarkanku sendiri untuk mati.

Jika aku masih Ark yang dahulu, tentu aku akan langsung bersimpuh dan menangis. Namun, aku sekarang adalah Ark yang penuh dendam. Maka kuikuti jejak-jejak itu menuju stasiun Gletscherbahn. Bukan untuk menyampaikan kabar kematian Ario seperti yang kujanjikan pada Jia, melainkan untuk mulai berburu. Aku mendorong pintu kacanya tanpa suara, melongok ke kanan dan ke kiri demi mencari sekelebat bayangan lewat atau siluet yang berdiam diri. Nihil. Meja resepsionis melompong seperti puncak Zugspitze yang senyap tanpa kehidupan. Pagi memang masih gelap, tetapi di kejauhan itu, langit tampak seperti disentuh warna putih. Aku membuka pintu yang lain―yang langsung memutusku dari dunia luar. Hanya seremang cahaya dari lampu kepala sebagai teman. Masih nihil.

Aku membuka pintu yang lain. Sebuah aula yang luas dengan atap melengkung sehingga membentuk ruangan setengah lingkaran. Dua rel memanjang, saling bersisian. Dua kereta gantung terparkir di masing-masing rel. Dua buah pintu rel yang tertutup di ujungnya. Dua buah suara.

“Aku tekankan sekali lagi kalau salah satu anggota kami jatuh ke bawah. Saudara sepupu kami tergelincir ke jurang. Hanya Tuhan yang tahu kondisinya saat ini. Dan Rusy… oh, Rusy… entah apa yang akan dia lakukan kepadaku. Sebab akulah yang menyenggol Ario sampai dia terhuyung dan… lenyap… dari pandangan kami. Mungkin… mungkin dia akan membunuhku. Tapi kalian harus tahu! Rusy memang orang seperti itu. Dia bisa kejam bahkan pada perempuan. Jangan pernah percaya pada senyumannya! Itu senyuman yang mematikan!”

“Kita tidak harus membeberkan semuanya bukan?”

Pertanyaan itu membuat suasana hening. Hanya lenguhan Ziemo yang sempat terdengar. Sementara itu aku mematikan lampu kepala, lalu mencari posisi yang nyaman untuk menguping. Aku berjinjit, berjalan selambat mungkin menuju salah satu sisi kereta gantung. Aku menyeret tubuhku ke bawah, meringkuk demi mempertahankan suhu tubuh juga. Mendadak, udara terasa lebih dingin.

“Kalau perlu semuanya, agar korban-korban Rusy bisa beristirahat dengan tenang.”

“Anneke Pabst.”

“Ah! Kamu ingin aku memulai dari situ?”

Lihat selengkapnya