Aku merasakan rasa sesak yang teramat sangat. Seperti dicekik. Tetapi bukan bersumber di leher, melainkan dari belakang tubuhku. Sesaknya menyumpal di dada. Aku terengap-engap. Namun, sepertinya oksigen berencana meninggalkan paru-paruku. Aku mencoba menggerakkan lengan-lengan serta kakiku. Barulah sistem saraf tubuhku mengirim sinyal yang lemah. Dingin kurasakan, membelenggu jemariku hingga terasa kebas. Kakiku… oh, sepertinya terjepit sesuatu. Aku menarik tangan, hendak membebaskan kakiku itu. Berhasil memang, tetapi hanya sampai ke dada. Setidaknya, aku masih bisa merasakan tanganku yang satu itu, merasakan kebasnya jari-jari. Aku mencoba menarik tangan satunya. Sungguh mudah. Ia hanya sejengkal jauhnya dari wajahku. Barangkali. Entahlah, salju-salju ini mematahkan orientasiku atas ruang.
Sekali lagi, aku mencoba membebaskan kakiku. Kini dengan kedua tangan. Masih tidak berhasil. Benda yang menghimpitku inilah penghalang terbesarnya. Pula tumpukan salju yang menggenang di wajahku, menghalangi oksigen yang ternyata masih setia untuk mengirimkan bantuannya. Hingga yang tersisa hanyalah kedip-kedip. Tanda kesadaranku yang mulai menghilang. Pada akhirnya, aku berhenti berusaha. Terkulai lemas karena keadaan. Sungguh, aku bahkan tidak sempat memikirkan hal-hal yang lain. Hanya keinginan untuk hidup.
“Lepaskan celanamu, Ark! Cepat lepaskan! Berapa kali lagi harus kukatakan?”
Aku merasakan tangis merembesi pipiku. Di tangannya ialah ranting pohon. Sedangkan tangan-tangan yang lain sibuk dengan tabung kecil―kupikir awalnya itu adalah pasta gigi sampai keluarlah isinya.
“Tidak usah pakai itu. Yang alami lebih bagus.”
“Rus, punyalah sedikit hati nurani. Tanpa ini lubang pantatnya langsung robek.”
“Itu tujuan kita bukan?”
Mereka terbahak. Tawa yang begitu licik. Aku berlutut. Menangkupkan kedua tanganku. Memohon ampun. Namun, tangan-tangan itu masih saja merakit. Sesuatu yang seperti selaput ditutupkannya pada ranting pohon itu dan dilumuri cairan dari tabung itu.
“Ini akan terasa enak. Nikmatilah!”
Kedua pasang tangan melucuti pakaianku hingga aku berakhir setengah telanjang. Mereka menunggingkanku yang mencoba membebaskan diri. Jelas, aku kalah tenaga. Dan benar-benar lemas saat benda rakitan itu perlahan menyusup ke dalam tubuhku. Rasanya teramat sakit. Tubuh ini mengingatnya. Luka yang membuatku beberapa kali menyayat diri saking jijiknya terhadap tubuh sendiri.
“Aku pikir ranting ini seukuran milikku.”