Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #20

Akhir Sebuah Takdir

Tatapan mata yang terikat antara aku dan Jia seperti mengutarakan cerita tak tertulis yang dituturkan sepanjang waktu. Seolah saling mengerti makna dalam pancaran mata, aku dan Jia saling memunggungi. Masing-masing melangkah menuju tujuan. Ada pertanyaan tak terjawab. Tanpa itupun, aku mengerti. Tapi untukku, akan ada rasa yang mengganjal.

Aku menghentikan langkah, menatap punggung yang menggebu itu. “Sisakan napas terakhirnya untukku!”

Jia menghentikan langkah. Di antara deburan salju yang menggelora di udara, aku dapat melihatnya mengangguk. Jia kembali menyusuri jalanan bersalju menuju Knorrhütte. Aku kembali ke stasiun Gletscherbahn. Tanganku bersemayam nyaman di dalam saku jaket, tetapi salah satunya erat memegang pisau lipat itu.

Gempuran salju yang terus-menerus hampir membuatku tersesat. Semuanya putih. Warna stasiun yang perak itu seperti menyatu dengan warna salju. Beruntung aku bertemu dengan Lans dan Cayo yang sedang menyeret tubuh kaku Ario menggunakan tandu lipat portabel yang mereka temukan di dalam stasiun.

“Apa kamu kembali untuk mencari Ziemo?” teriak Lans. Suara angin sedikit banyak meredam suaranya.

“Aku hendak menuju ke Knorrhütte untuk menyusul Rusy tapi kakiku menyulitkanku.” Aku tidak berkilah. Semula memang itu rencanaku. Memberitahu Rusy kabar kematian adiknya. Namun, Cayo lebih tahu.

“Aku akan bilang ini padamu―untuk kedua kalinya―tetaplah di bangsal peristirahatan. Sesudah kami mengantar jasad Ario ke Knorrhütte, kami akan menjemputmu.”

Aku mengangguk. Mereka kembali menyeret tali yang menggerus bahu mereka, tetapi Cayo memperlambat langkahnya dan berbisik kepadaku. “Semoga kamu tidak bertemu dengan Ziemo. Dari teriakan yang kudengar, dia benar-benar marah padamu.”

Aku meminta Cayo menunjukkan lokasi terakhir dia melihat Ziemo. Katanya, Ziemo berkeliaran di luar stasiun, lalu masuk ke area bangsal saat dia akhirnya bertemu dengan Lans. Katanya juga, Lans seperti bunglon yang langsung beralih rupa begitu melihatnya. Akupun menyuruh Cayo untuk berhati-hati pada lelaki itu. Dia bilang, Lans hanya peduli pada hal yang menguntungkannya. Lalu, aku kembali menyusuri jejak yang ditinggalkan oleh tandu pengangkut jasad Ario. Lima menit kemudian, jejak itu memudar dan perlahan hilang akibat tertimpa salju baru. Dalam keadaan badai, situasi bisa berubah seketika. Terutama datangnya longsoran salju kedua. Tentu aku tidak ingin terperangkap di dalam stasiun sambil menunggu Cayo dan Lans. Tatkala aku pada akhirnya sampai di stasiun, aku mencari perlengkapan P3K. Beberapa potong kain―dari jaket yang kucabik-cabik, yang ditinggalkan di dalam sebuah ruangan staf―kubalutkan ke seluruh tungkai kaki. Kupastikan semuanya erat usai kuberi beberapa tetes obat luka. Berharap rasa sakitnya berkurang. Tak lupa aku meminum obat pereda nyeri sebab perjalananku masih panjang.

Keluar dari ruangan staf, aku melipir di sepanjang koridor sembari sesekali mengamati sekitar dan membuka pintu-pintu yang tertutup dengan hati-hati. Kakiku masih dilanda perih akibat obat luka itu, jadi aku merambat di sepanjang dinding hingga sampai ke bangsal peristirahatan. Lengang. Area ini cukup terbuka. Di salah satu sudutnya, retakan tercipta seakan salju menggedor dan tidak sabar mengintip masuk. Kupastikan, Ziemo ataupun bayangannya tidak ada di area ini. Aku masih tertatih saat menyeberangi bangsal menuju bingkai tak berpintu yang memperlihatkan lorong lain. Di sana gelap dan menakutkan, tetapi rasa penasaran mendorongku melangkah lebih jauh. Ketika hampir sampai, aku mengeluarkan pisau lipat, mengacungkannya ke bawah.

Aku melongokkan kepalaku ke dalam, tetiba melihat bayangan yang besar langsung menerjang. Itu Ziemo! Dia sudah menantiku. Mungkin telah melihat bayanganku yang menggenggam pisau sebab dia terus menyerang tanganku sehingga benda tajam itu terlepas. Aku terpental ke belakang.

“Kamu… berusaha melukaiku?”

“Kamu yang memulainya! Bilang mau membunuhku.”

Lihat selengkapnya