Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #21

Ada Banyak Cara untuk Menghukum Seseorang

Tubuh lelaki itu seakan-akan hampir jatuh acapkali dia menginjakkan kaki di tanah yang berlapis salju. Langkahnya padahal pelan seperti tentara yang berjuang menanggung sakit di badan, tetapi harus tetap maju. Dengan kondisi badai seperti ini, aku memakluminya. Akupun sama seperti Rusy, kesusahan untuk mempertahankan tubuh tetap berdiri tegak. Setidaknya, lelaki itu sama sekali tidak menyadari keberadaanku.

Sesekali Rusy berhenti, di tengah perjalanan panjang yang melelahkan ini, untuk melihat sekitar. Maka aku akan melemparkan tubuhku ke tanah, meringkuk agar dikira batu. Lalu, Rusy kembali berjalan. Menurutku, dia telah kehilangan orientasi.

Aku mengecek kompas. Kata Marius, aku harus mengikuti arah barat daya untuk sampai ke Knorrhütte. Aku memang tidak pintar membaca kompas. Jadi, aku hanya mengikuti arah yang ditunjuk jarum penunjuk dan tidak bergeser jauh dari simbol “S”. Melihat arah berjalan Rusy, jelas dia sudah melenceng cukup jauh. Tidak, aku tidak akan memperingatkannya. Pun tidak akan berpisah jalan darinya. Aku harus tetap mengekorinya ke manapun dia pergi hingga maut memisahkan.

“Sisakan napas terakhirnya untukku!”

Mungkin, tidak akan ada kesempatan bagi Ark untuk menjemput napas terakhir Rusy apabila dia terperosok ke jurang. Karena aku akan meninggalkannya dalam keadaannya. Apapun itu. Jikalau dia selamat dan kembali melanjutkan hidup, kuharap kecelakaannya bisa menjadi pengingat agar menjadi pribadi yang lebih baik. Itupun jika dia memiliki kapasitas untuk berubah. Jika tidak, maka aku akan datang kembali kepadanya dan membawa murka.

Tetapi Marius pasti akan menahanku, kalau dia tahu aku menjalankan niat jahat pada Rusy. Marius itu terlalu baik. Dia pasti menyuruhku untuk menyerahkan semuanya pada semesta, biar karma datang sendiri kepada Rusy. Bagaimana mungkin aku bisa ikhlas sedangkan nasib kakakku merana karena Rusy?

Aku terkesiap, seketika melemparkan tubuh ke samping. Terguling sebentar, lalu meringkuk. Wajahku membelakangi Rusy, membuatku bertanya-tanya apakah aku ketahuan. Suara angin mengaburkan suara apapun, apalagi langkah kaki. Aku memasang telinga baik-baik. Akhirnya mendengar suara auman Rusy. Dia menggerutu, mengapa belum juga menemukan Knorrhütte sambil sesekali menyumpahi Ark yang menipunya. Dia protes, katanya badai tidak akan datang. Nyatanya, pendakian itu gagal total. Mereka tidak jadi melihat matahari terbit. Justru harus menyaksikan longsoran salju hampir menenggelamkan mereka. Aku penasaran, apakah Rusy juga akan semarah itu kalau tahu bahwa Ario sudah mati.

Setelah semua seruan itu, Rusy kembali melangkah gontai. Terkadang, salju turun dengan gemulainya, memberikan jarak pandang yang jauh bagi kami. Rusy berhasil menemukan arah yang tepat ke Knorrhütte setelah melihat pucuk bangunan itu di kejauhan. Kompasku sependapat dengan arah langkah kakinya. Aku harus diam di tempat saat itu terjadi, menyaksikan punggung besar Rusy semakin mengecil. Lalu, badai akan datang kembali, mencecarkan salju yang baru terhampar kembali ke udara. Pandangan kami kembali buruk. Rusy masih melangkah ke arah yang diyakininya sedangkan aku harus sesekali berlari demi memperpendek jarak. Sumpah! Perburuan ini seperti sebuah permainan yang seru sebab nyawaku belum tentu menjadi taruhan. Aku bisa berkilah kalau pada akhirnya Rusy menangkap basah aku telah membuntutinya.

Langkah demi langkah, mungkin sudah setengah jam lebih, tetapi Knorrhütte seperti semakin menjauh. Aku mengecek kembali kompasku. Arahnya sudah benar. Barangkali karena whiteout inilah semua tampak melambat. Warna putih salju berpadu dengan warna putih langit. Guguran bulirnya pasti telah bertumpuk di atap Knorrhütte, membuatnya juga berwarna putih. Seharusnya, aku dan Marius sudah dalam perjalanan ke Reintalangerhütte. Tidak terdampak salju. Menunggu yang lain di sana seperti kata Marius. Namun, karena aku yang telah memanipulasi Marius untuk tidak turun, dengan kebohongan bahwa badai akan menghantam dan harus memperingatkan yang lain, maka di sinilah aku, membuntuti Rusy. Tapi jika aku menjadi Marius, tentu aku tidak akan semudah itu dibohongi.

Aku tercekat. Tanganku menutup seluruh bibir. Apakah Marius sejatinya sudah tahu agenda tersembunyiku?

Aku kembali mengaitkan netraku pada punggung Rusy. Hei! Bukankah itu atap Knorrhütte? Hatiku membuncah kegirangan. Sekarang, pikiranku yang mereka-reka hendak kuapakan Rusy. Sebab sudah jelas kalau aku kalah secara fisik. Selintas aku kecewa karena Rusy tidak terperosok ke dalam jurang.

Lihat selengkapnya