Napasku terasa berat seperti ada yang mengganjal di leher. Sejenak ruangan yang sudah sendu ini menjelma gelap, lalu terang, lalu gelap lagi. Begitu seterusnya. Aku mengubah arah pandangku. Di sana, ada wajah yang menyeramkan. Kedua netranya membulat, penuh dengan ambisi. Awalnya, aku tidak tahu mengapa. Lalu, aku ingat. Apa yang mengganjal di leherku tidak lain adalah tangan Ziemo. Seluruh uratnya menegang seiring hasratnya untuk menghabisiku.
Aku berusaha menyerap oksigen dalam-dalam tetapi rasanya justru semakin tercekik. Ketidaksadaran itu hampir menyambangiku. Aku menolak kedatangannya dengan menggoyang-goyangkan tangan dan kakiku seaktif mungkin.
“Nah, begitu… menggeleparlah, Ark! Terima kematianmu!”
Barangkali aku memang ditakdirkan untuk mati. Namun, semesta sepertinya tidak berkenan. Di saat aku sudah benar-benar gelagapan dan segelintir oksigen menyerah memberikan suplai kehidupan, ujung jariku bersentuhan dengan sebuah benda yang dingin. Sesuatu yang mampu mengantarkan suhu dengan sangat baik. Sebuah logam.
Bergegas jemariku menariknya mendekat. Telapak tanganku memeluknya seperti sebuah jiwa yang hilang. Aku merabai permukaannya, memetakan wujudnya dalam benak. Ia memiliki sudut yang runcing. Dengan secuil keinginan untuk tetap hidup, aku menghunjamkan logam itu―di bagian runcingnya―ke sisi tubuh Ziemo. Suara Ziemo tercekat tetapi tangannya masih melekat pada leherku. Aku menarik lagi benda logam itu dan menghunjamkannya lagi ke tubuh Ziemo. Berulang kali kulakukan sampai cengkeraman tangan Ziemo lemas. Lelaki itu sempat bertukar pandang denganku. Seperti bertanya “kenapa” atau “kamu berhasil mengalahkanku” sebelum akhirnya tumbang menjatuhiku.
Aku mendorong tubuh Ziemo, membebaskan diriku yang pada akhirnya bisa bernapas lega. Sesekali aku terbatuk sebab rasa tersumbat itu masih tertinggal. Aku melirik pada tubuh Ziemo yang kini dalam posisi telentang. Netranya kosong menatap langit-langit. Akupun merasa lelah yang teramat sangat. Kantuk yang teramat kantuk.
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur. Di luar, langit masih kelihatan cerah―meski sendu terlihat―dan angin masih mengacak-acak butiran salju. Aku duduk sejenak, menikmati pegal dan nyeri di sekujur tubuhku. Beberapa bercak darah membentuk lukisan di sekitar tubuhku. Aku melihat lenganku sendiri menganga. Dagingnya kelihatan. Darah sudah sedikit membeku di ujung-ujungnya, tapi di bagian tengah, darah masih sesekali mengucur. Aku meraih segenggam salju dan menimpakannya ke atas lukaku. Baru menyadari jika area tempatku berada sudah terpapar salju cukup banyak. Apa longsoran salju lain telah terjadi?