“Kaiang igak akang kuiakang eiu haka!”
Gerundelan yang tidak jelas itu masih bisa menarik perhatianku. Aku tahu maksudnya: “Kalian tidak akan kubiarkan begitu saja!” Ya, kurang lebih begitu.
“Ayo, Jia! Serahkan semuanya pada polisi. Biar mereka yang urus. Toh, kita sudah punya buktinya.” Marius bersikukuh dengan sarannya. Aku masih belum merasa lega.
“Biar kutanamkan satu-dua pukulan.” Aku menjurus pada Rusy, menampar pipinya dan menendang perutnya.
Lelaki itu terbahak. “Teus, Jia, teus! Impahkang hemua kekehalangmu!” Maksudnya: “Terus, Jia, terus! Limpahkan semua kekesalanmu!”
Alhasil, kutanamkan pucuk sepatuku di antara kedua paha Rusy. Lelaki itu meraung, tetapi segera mengubahnya menjadi tawa.
“Dia tidak akan memohon ampun seberapa banyakpun kamu memukulnya.”
“Bisa… kalau kutusuk lehernya dengan pisau.”
Marius membelalak. “Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu!” Tangan Marius mencengkeramku erat. Amarah menggelora di sorot netranya. Dia menekankan bahwa Rusy sudah sekarat dengan luka-luka pada tubuhnya.
“Oh, aku tidak apa-apa mati. Yang penting bukan karena pukulan atau tusukan dari adik Anneke Pabst ini,” cerocos Rusy dalam kalimat yang tidak jelas sebab mulutnya tersumpal kain. Air liurnya sampai membasahi kain itu.
Aku geram, sudah bersiap menimpali Rusy dengan tendangan maut. Lagi-lagi, Marius menghentikanku dengan tangannya. Marius ini sama saja. Dengan sebelah tangan yang sehat, mengapa masih bisa menghalauku. Apakah aku selemah itu?
“Kumohon, Jia, ayo pergi dari sini!”
Panas seketika melanda tubuhku saat menyaksikan Rusy masih bisa tertawa sementara aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku ingin sekali melukainya―mengebirinya―setidaknya meninggalkan sesuatu yang akan selalu dia ingat jika berhasil bertahan hidup. Marius tidak mengizinkan. Jadilah aku pergi meninggalkan Knorrhütte dan lelaki biadab itu.