Wie der herannahende Sturm

Lyle Rivulet
Chapter #24

Target Terakhir

Salju telah menumpuk setinggi lima sentimeter di pelataran Knorrhütte dengan cekungan-cekungan bekas jejak kaki di depan pintunya. Cekungan yang samar. Aku membuka sedikit pintu itu, langsung disambut dengan gerundelan tidak jelas. Baru kubuka pintu itu selebar tubuhku. Di sana, bersandar dan terikat di salah satu pilar, ialah Rusy. “Oh… hai, Rus!” Aku masuk dan menutup pintu, lalu berhadapan dengannya.

“Kenapa? Aku tidak mendengarmu dengan baik.”

Rusy menggerundel. Kurang lebih dia berkata seperti ini, “Cepat, lepaskan ikatanku! Aku harus memberi pelajaran pada saudara-saudaraku yang kurang ajar itu.”

“Yah… sayangnya aku tidak bisa melakukan itu.”

Rusy melotot, bertanya dengan ketus, apakah aku ini minta dihajar. Aku menjelaskan padanya betapa babak-belurnya raga ini. Tentu, dengan nada bahagia. Aku melangkah ke belakang tubuh Rusy demi memastikan bahwa ikatannya sangat erat. Takut sekali kalau nanti dia meloncat seperti bayi baru lahir saat kueksekusi. Sesaat aku mendengarnya mengucapkan syukur kepada Tuhan. Otomatis tangan ini menggampar kepalanya.

“Jangan berkata sembrono kepada Tuhan! Kamu hanya akan membuat telinga-Nya iritasi.”

“Sialan kamu, Ark! Berhenti bermain-main dan lepaskan aku!” Kurang lebih begitulah yang dia katakan.

Aku pura-pura mengorek telingaku, memperjelas betapa buruknya ejaan dan artikulasi Rusy. Dia berontak. Kakinya yang berisi itu menjulur, hendak mematukku. Seperti kucing aku melompat mundur. “Woahaha… maaf, Rus, tapi itu kaki atau penumbuk kentang tradisional?”

Wajah Rusy memerah. Dia meronta-ronta sekuat tenaga. Tali yang mengikatnya juga tampak longgar, bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti pergerakan Rusy. Khawatir hewan buas itu lepas, aku langsung menyumpalkan kain itu masuk lebih dalam ke rongga tenggorokannya. Rusy menggeru, meronta menggebu-gebu. Bisa kulihat pergelangan tangannya juga mulai leluasa, sedang menggapai-gapai tali untuk melepaskannya. Demi melemahkan Rusy, aku menendang perutnya.

“Untuk ingatan yang sulit untuk kulupakan!”

“Untuk hari itu di dalam gua!”

“Untuk bayangan yang tak pernah lenyap!”

Bertubi-tubi aku menyarangkan tendangan sembari masih mendorong masuk kain penyumpal. Nyatanya, Rusy masih bisa tertawa. Sungguh, seperti setan yang kesetanan!

Lihat selengkapnya