Belakangan ini pola tidur Mily memang sedang sangat berantakan. Kadang sulit tidur. Kadang ketiduran. Kadang bermimpi. Kadang tidak ingat sama sekali semalam bermimpi apa. Nah, hari ini Mily tidak berhasil mengingat mimpinya semalam. Tau-tau, begitu hari berganti, sebuah kabar mengejutkan membuatnya membelalakkan mata sambil berkata, “Mimpi apa gue semalem?”
Bayangkan! Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba kamu dapat warisan. Mily bukan tidak senang, melainkan bimbang. Pasalnya, Mily tidak mengenal orang yang memberinya warisan berupa bangunan kos-kosan dan seisinya.
“Tunggu, Mbak. Saya masih nggak paham. Sebenarnya apa yang terjadi?”
Mily memijat keningnya. Semalam dia bergadang untuk mengerjakan bab satu proposal skripsi dan baru sempat tidur pada pukul tiga pagi. Niatnya untuk bangun jam sembilan pagi harus dikubur dalam-dalam karena panggilan dari ibu kos yang suaranya hampir menyaingi toa. Kini, kantuk Mily berubah menjadi cenat-cenut di kepala. Apalagi setelah dia bertemu dengan seorang wanita dewasa yang menyampaikan kabar bahwa Mily mendapatkan warisan dari seorang kakek bernama Wira–yang entah siapa.
Wanita dewasa yang memperkenalkan diri sebagai Raina dan mengaku sebagai orang kepercayaan kakek Wira itu menyodorkan amplop cokelat berukuran besar yang masih tertutup rapat.