Mily kembali tidur dini hari. Kali ini penyebabnya bukan proposal skripsi, melainkan permasalahan warisan yang menimbulkan perdebatan antara logika dan isi hati. Pagi ini Mily terbangun dalam kondisi kusut. Kusut pakaiannya, kusut pula mukanya. Lingkaran di sekitar matanya makin menggelap. Akibat kurang tidur, juga terlalu banyak menatap layar.
Sebagai mahasiswa semester enam, yang ada di pikiran Mily cuma satu: ingin cepat lulus. Karenanya, Mily sering gila-gilaan dalam mengerjakan tugas agar segera selesai dan mendapatkan hasil yang bagus. Di semester enam ini mata kuliah yang diambil tidak sebanyak mata kuliah di semester-semester sebelumnya. Namun, beban tugasnya jauh lebih berat. Itulah mengapa, Mily jadi hobi bergadang, jarang makan, dan tidak lagi terlalu memikirkan penampilan.
Poin terakhir dibuktikan dengan penampilannya sekarang. Mily hanya memakai hoodie abu-abu, celana gombrang, dan kacamata yang bertengger di hidungnya. Dia bahkan tidak repot-repot memulas riasan di wajahnya. Penampilan Mily sama sekali tidak menarik, tapi dia tidak peduli. Agendanya pagi ini adalah mengumpulkan tugas ke kampus sebelum pukul delapan pagi, lalu menemui Rania.
Hari ini adalah waktunya Mily mengunjungi rumah dan kos-kosan warisan Kakek Wira.
^^^
Pukul sepuluh pagi Mily sudah berada di jalan 2AM. Cewek itu celingukan mencari Kos Dharmawangsa, tempat dia akan bertemu dengan Rania dan Pak Tedjo. Di sepanjang jalan 2AM, Mily banyak menjumpai kos-kosan. Rata-rata memang bangunannya bagus dan terawat. Mily jadi penasaran yang mana Kos Dharmawangsa, sekaligus cemas kalau-kalau Kos Dharmawangsa tidak seperti bayangannya.
“Mbak Rania mana, sih?” keluh Mily. Pasalnya terik matahari mulai terasa menyengat di kulit meski Mily mengenakan pakaian tertutup.
“Emily.”
Seseorang memanggil namanya. Mily menoleh dan mendapati Rania bersama seorang lelaki paruh baya yang Mily yakini adalah Pak Tedjo. Mily berjalan menghampiri. Ketiganya langsung menuju Kos Dharmawangsa yang terletak di seberang kiri jalan.
Mily tidak bisa menahan decakan kagum begitu memasuki gerbang kos. Bangunan yang terdiri atas tiga lantai itu jelas berbanding terbalik dengan kos-kosan sempit yang selama ini ditinggalinya.
“Kos Dharmawangsa sudah ada sejak lima belas tahun yang lalu. awalnya cuma dua lantai, kemudian seiring berjalannya waktu, Pak Wira merenovasinya menjadi tiga lantai. Ada sepuluh kamar tersedia, tetapi sejak tahun kemarin hanya enam kamar yang terisi.” Pak Tedjo selaku orang yang pernah bekerja di kos itu mulai memberikan penjelasan.
Mily menyimaknya dengan saksama, mencoba merekam apa yang Pak Tedjo katakan dalam kepala yang kapasitasnya tidak lebih dari penyimpanan ponselnya.
“Lantai dasar Kos Dharmawangsa difungsikan sebagai area parkir, ruang tamu, ruang binatu, dan dapur bersama.”
Ketiganya berjalan masuk mengitari area demi area di lantai dasar. Area parkir yang cukup luas berada di sebelah kanan. Saat ini hanya ada dua kendaraan yang terparkir di sana. Di sebelah area parkir ada pintu yang mengarah pada ruang tamu. Ruangan itu cukup luas, berbeda dengan ruang tamu kos-kosan Mily yang tidak lebih lebar dari kamarnya. Ruang binatu dan dapur bersama bersebelahan. Tampak bersih dan terawat.
“Lantai dua Kos Dharmawangsa difungsikan untuk kamar kos. Seperti yang saya jelaskan di awal, di kos ini ada sepuluh kamar. Yang digunakan hanya enam kamar. Lantai dua sebenarnya area yang jarang penjaga masuki karena merupakan privasi. Paling-paling saya masuk untuk mengecek kebersihan lorong, atau kalau dipanggil oleh anak-anak kos.”
Mily mengangguk-angguk. Seperti yang dikatakan Pak Tedjo, mereka hanya melintasi lorong untuk sampai di tangga penghubung lantai selanjutnya.