Wishful Home

Hasnana
Chapter #4

Chapter 3

Kegiatan pindahan memakan waktu cukup lama karena tanpa rencana dan Mily terlebih dahulu harus membereskan barang-barang di kamar kosnya. Berkat bantuan Pak Tedjo yang super-sat-set dan Rania yang berperan sebagai mandor bertampang galak, Mily berhasil memindahkan hampir seisi kamar kosnya ke rumah warisan. Rumah yang tidak pernah Mily duga akan menjadi miliknya.

Sungguh, Mily masih bertanya-tanya, apa benar semua ini nyata? Mily takut ini hanya mimpi belaka. Mily juga takut kalau semua ini hanya konten atau bahkan penipuan. Seribu satu pertanyaan di kepalanya itu sering kali bocor, membuat Rania memasang wajah galak karena merasa lelah mendengar rentetan pertanyaan Mily yang tidak ada habisnya.

“Emily Kavita, Pak Wira bukan orang jahat, jadi semua ini bukan penipuan. Sertifikat bangunan dan teman-temannya kan sudah saya serahkan ke kamu. Di situ tertera dengan amat jelas nama pemiliknya adalah kamu. Kalau tidak percaya, silakan periksa ke badan yang bersangkutan.”

Mily memberengut mendengar jawaban Raina atas pertanyaannya. “Saya, kan, takut kalau ada niat buruk di balik semua ini, Mbak. Takutnya, saya ternyata mau diculik, terus dijual. Ih, amit-amit, deh!” Sepertinya Mily terlalu banyak terpapar micro drama yang kadang cacat logika. Cewek itu menggelengkan kepala, segera mengenyahkan pemikiran negatifnya.

“Proses pindahan sudah selesai. Kamu sudah bisa menempati rumah ini sekarang. Kalau belum mau pun terserah. Saya pergi dulu.”

Mily mengucapkan terima kasih kepada Rania dan Pak Tedjo yang sudah banyak membantunya. Seperginya mereka, Mily menjatuhkan diri kembali ke sofa. Ditatapnya kunci rumah di tangan kanannya dan kunci kos-kosan di tangan kirinya. Dua benda itu nyata, tapi terasa seperti fatamorgana.

“Kalau benar dugaan gue bahwa Kakek Wira adalah kakek dari ayah, apa alasan beliau ngasih warisan ini ke gue? Sementara … dari dulu aja mereka nggak pernah menganggap gue dan Ibu ada."

^^^

“Halo, Ibu.”

“Ya, Mil.”

Lengkungan terbentuk di bibir Mily begitu telepon terhubung. Akhirnya setelah dua hari tidak bisa dihubungi, Ibu mengangkat panggilannya.

“Maaf, ya, Mil. Kerjaan Ibu dari kemarin banyak banget. Pas pulang juga langsung tidur, jadi nggak sempat mengabari kamu.”

Mily berdehem maklum. Dia paham betul, sebagai orang tua tunggal yang juga merangkap sebagai tulang punggung keluarga, Elisa–ibunya, sering merasa kelelahan. Profesinya sebagai makeup artist yang jam kerjanya tidak menentu kerap membuat Elisa sulit untuk dihubungi, bahkan oleh putrinya sendiri.

“Ibu jangan kecapekan. Jangan sampai sakit.”

“Iya, Mil. Kamu tenang saja. Udah biasa lah Ibu begini. Kamu juga jaga kesehatan, lho. Jangan terlalu spaneng proposalannya, nanti urat lehermu tegang.”

Lihat selengkapnya