Jam di dinding kamar barunya baru menunjukkan pukul enam pagi ketika Mily bergegas keluar untuk mencari sarapan. PR pertamanya setelah resmi memegang kunci Kos Dharmawangsa adalah memastikan sarapan anak-anak kos siap sebelum pukul tujuh tiba. Untuk itu, Mily bergegas mendatangi warung bubur ayam yang sudah dia cari semalaman sebelum banyak yang mengantre. Mily sedang beruntung karena dia menjadi pelanggan yang datang urutan ketiga.
“Mau enam porsi ya, Pak,” serunya.
Pesanan Mily siap lima belas menit kemudian. Setelah melakukan pembayaran yang membuat saldo imutnya meringis, Mily beranjak menuju kos-kosan bersama satu kantong besar berisi tujuh porsi bubur ayam.
“Ngerepotin!” keluhnya. “Kenapa sarapan juga masuk layanan di Kos Dharmawangsa, sih? Udah kayak hotel aja.”
Gerbang masih tertutup rapat begitu Mily sampai di Kos Dharmawangsa. Belum ada tanda-tanda kehidupan yang dapat ditangkap matanya. Perlahan, Mily membuka kunci, kemudian masuk setelah mengucapkan permisi tiga kali.
Permisi kali keempat diucapkan ketika Mily sampai di depan pintu ruang tamu. Sesekali tangannya mengetuk pintu. Mily bahkan berseru “sarapan!” agar ada yang mendengar dan pintu segera dibukakan. Memang, Mily memegang kunci cadangan ruang tamu, bahkan untuk ruangan-ruangan lainnya, tapi dia tidak mau lancang. Apalagi kos ini ditinggali anak laki-laki.
“Permisi, sarapan!”
Mily mengetuk pintu lagi. Samar-samar terdengar kegaduhan dari dalam.
“Sebentar!”
Mily berhenti mengetuk pintu, ganti kakinya yang mengetuk-ngetuk lantai dengan gelisah. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan penghuni kos. Mily kebingungan harus bersikap seperti apa.
Kriet. Pintu terbuka. Muka bantal seseorang menyambut Mily dengan kerutan di dahi.
“Guys, ada yang pesen sarapan dari luar?” tanya orang itu kepada orang-orang yang berada di dalam kosan.
Seseorang muncul menyusul si muka bantal. Wajahnya terlihat lebih segar. Mily juga bisa melihat ada bekas air di ujung-ujung rambutnya.
“Pesanan atas nama siapa, Mbak?”
Mily menelan ludah. Apakah penampilannya mirip kurir makanan? Cewek itu mengulurkan kantong berisi enam porsi bubur ayam yang dibelinya.
“Gue bukan kurir makanan. Ini layanan sarapan Kos Dharmawangsa.”
Kalimat Mily membuat dua orang di hadapannya mendelik tidak percaya.