Rutinitas Mily setelah resmi memperkenalkan diri sebagai pemilik dan pengelola kos yang baru benar-benar berubah 180 derajat. Tidak ada lagi agenda bangun siang kalau tidak ada kelas pagi karena setiap pagi Mily harus menyiapkan sarapan. Tidak ada lagi agenda main sepulang kuliah karena Mily harus mengurus laundry-an.
Seminggu pertama masih aman-aman saja. Memasuki minggu kedua, Mily mulai gila.
“Kalian bisa, nggak, sih, sarapannya tiap pagi bubur aja? Jangan request aneh-aneh!” seru Mily di telepon.
Ini Minggu pagi, bahkan masih terlalu pagi untuk memulai huru-hara. Namun, huru-hara dan Mily tampaknya akan menjadi teman akrab sebentar lagi, mengingat tugasnya sebagai pengelola Kos Dharmawangsa yang dihuni oleh enam orang cowok rempong.
Mily berani mengatakan mereka rempong karena memang begitu adanya. Tidak ada hari tanpa keributan.
“Bosan, Kakak.” Itu suara Rian.
“Ya udah, nasi uduk aja, nasi uduk!”
“Gue nggak bisa langsung nasi, Mil. Bolak-balik toilet ntar,” sahut Rakhai.
Mily menghela napas.
“Aku mau roti aja, deh, Kak.” Itu permintaan Satya yang cinta mati sama roti.
“Gue mau sop,” timpal Jevin.
“Ramen aja, Mil,” tambah Yudhit.
“Gue mau daging sapi.” Kalau ini permintaan si gembala sapi, Saka Wardhana.
Mily kira, perihal keuangan, listrik mati, atau air macet adalah bagian tersulit dari pekerjaannya sekarang, ternyata ada yang jauh lebih menantang: menghadapi request-an anak-anak kosan!
Pipi Mily mengembung. “Beli sendiri! Gue udah telanjur pesan bubur!” pungkasnya.
Telepon grup dimatikan.
Persoalan sarapan bukan satu-satunya hal yang membuat Mily kewalahan. Masih ada drama laundry yang mengharuskan Mily memilih jasa laundry dengan detergen tertentu karena ada yang memiliki kulit sensitif, drama isi kulkas yang sering tertukar, drama kunci kamar yang hilang, dan sederet drama melelahkan lainnya.
Mily tidak habis pikir. Sebenarnya dia ini pengelola kos atau pengasuh toddler? Rewel banget!
^^^
Mily and Friends
Rakhai