“Pagi, Mily,” sapa Jevin begitu Mily tiba di dapur.
Cewek itu menarik ujung-ujung bibirnya. “Pagi, Jev.”
“Kusut amat, bergadang ya lo?” tanya Saka yang baru bergabung. Handuk kecil masih tersampir di atas kepalanya.
“Nggak. Nggak tidur maksudnya.”
“Buset.”
Mily meletakkan kantong di atas meja, yang langsung diserbu oleh Rian dan Satya.
“Mata lo itu, Mil, udah kayak panda.” Rakhai yang masih bermuka bantal ikut berkomentar.
Mily mengedikkan bahunya. “Mau gimana lagi. Tugas gue banyak banget,” ujarnya. “Sarapan dulu. Hari ini cuma roti lapis,” serunya sambil mengeluarkan satu per satu roti lapis yang dibelinya.
Mata Satya langsung berbinar. “Asyik, ada roti! Aku suka roti!”
Yudhit bergabung. Keenam penghuni kos itu duduk melingkari meja makan dengan formasi Rian, Rakhai, Yudhit, Saka, Satya, dan Jevin. Mily berdiri di samping kulkas setelah membagikan sarapan kepada enam orang itu. Tangannya bertumpu pada bagian atas kulkas. Mily menguap. Berkali-kali.
“Lo nggak sarapan juga, Mil?” tanya Rakhai.
“Nggak. Gue cuma beli enam porsi,” jawab Mily.
Rakhai beranjak dari kursi menuju meja dapur. Kemudian kembali setelah membagi roti lapisnya menjadi dua. “Gue nggak bisa makan banyak-banyak kalau pagi. Nih. Ini namanya satu roti dibagi dua, bukan sisa,” ujarnya sambil menjejalkan potongan roti lapis ke tangan Mily.
“Buat lo aja, Bang.” Mily menolak karena memang belum lapar.
Melihat itu, Satya yang sudah hampir menghabiskan rotinya, mengangkat tangannya heboh. “Buat aku aja kalau Kak Mily nggak mau.”
“Satya!”
Semua orang di meja makan menegur Satya. Bocah itu langsung kicep dan kembali melahap sisa makanannya.
“Makan, Mil. Udah kelihatan kayak zombie lo nggak tidur, ditambah nggak makan. Perlu gue suapin?” tawar Rakhai.
Mily jelas menolak. “Duh, baik bener kalian.” Akhirnya Mily menerima potongan roti lapis dari Rakhai dan ikut bergabung di meja makan. “Trims, Bang Khai.”
“Yoi.”
Melihat ekspresi terharu Mily yang jelas dibuat-buat, Saka tergelak di tempatnya. “Kita mah emang anak baik-baik, Mil. Tampang si Rakhai doang itu yang kayak abang-abangan bengkel,” celetuknya.
“Kan, gue emang kerja di bengkel, Sak. Gimana, dah?”
“Oh, ya?” Mily baru tau.
“Yoi. Daripada gabut, Mil,” ujar Rakhai, yang langsung mendapatkan toyoran dari Yudhit yang berada di sebelahnya.
“Gabut, gabut! Selesaikan tuh skripsi lo!”
“Hih! Alergi.”
Semua tertawa kecuali Rakhai dan Saka.
“Bang Saka juga kelihatannya alergi tuh. Sekarang malah lebih sibuk di kafe daripada ngelarin skripsi,” ucap Rian. Cowok itu baru saja menelan potongan terakhir roti lapisnya.