Wishful Home

Hasnana
Chapter #11

Chapter 10

Rooftop Kos Dharmawangsa tampaknya sudah menjadi tempat favorit Mily untuk nongkrong dan nugas sejak Satya dan penghuni kos lain memperkenalkan tempat itu. Terhitung sudah ada lima kali Mily ikut nongkrong di sana, baik untuk mengerjakan tugas, mengobrol dengan anak kos, maupun untuk sekadar mendengarkan genjrengan gitar Rakhai dan suara Jevin yang ternyata merdu juga. 

Akan tetapi, sudah dua hari ini petikan gitar Rakhai tidak terdengar. Begitu juga dengan batang hidung cowok itu. Terakhir kali Mily bertemu dengan Rakhai adalah saat cowok itu pulang dari bengkel. Bau oli masih melekat di badannya yang terbalut kemeja kotak-kotak khas anak teknik. Ekspresinya seperti orang kelelahan. Saat Mily dan beberapa anak kos bertanya kenapa, Rakhai menjawab dengan, “Bengkel tempat gue kerja lagi ramai. Capek dikit, tapi aman lah.” Setelah itu dia menghilang di balik pintu kamarnya.

Mily tidak begitu mengingat pertemuan terakhirnya dengan Rakhai terjadi berapa hari yang lalu. Yang jelas, sekarang grup Mily and Friends sedang ramai membahas keadaan cowok itu. Rakhai Saputra. Mily juga penasaran dan mengkhawatirkan keadaan cowok teknik itu, tapi saat ini dia tidak bisa menyimak grup yang pesannya sudah tembus ratusan. Dosen mata kuliah Penulisan Proposal Tugas Akhir sudah berada di kelas dengan suasana hati buruk. Mily tidak mau kena semprot jika nekat membuka ponsel di tengah kelas Proposal. 

“Emily Kavita.”

Mily terkesiap saat sang dosen tiba-tiba memanggil namanya. “Ya, Pak.” Tubuhnya tegak, penuhnya tegang oleh antisipasi. Jangan sampai ….

“Silakan maju untuk mempresentasikan bab satu sampai bab tiga proposal kamu.”

Napas Mily tertahan. Harapannya untuk terbebas dari presentasi dadakan hari ini tidak terkabul. 

“Baik, Pak.”

Meski gemetar karena yakin pekerjaannya akan kembali terkena koreksi, Mily tetap melangkah maju membawa laptopnya. Sebelum maju, Mily tidak lupa untuk mengantongi ponselnya yang masih terus berkedip karena notifikasi.

Cewek itu menarik napas sejenak sebelum memulai presentasinya. Namun, sebelum kata pertama lolos dari bibirnya, ponsel di dalam sakunya bergetar. Panggilan telepon dari Yudhit.

“Mohon maaf, Bapak, apakah saya boleh menerima telepon terlebih dahulu?” izin Mily. 

Dosennya tampak tidak senang, tetapi Mily tetap diizinkan untuk keluar terlebih dahulu. 

Cewek itu melangkah dengan terburu-buru.

“Hal–”

“Mil, sori gue harus telepon lo padahal tau lo lagi kelas.”

Suara Yudhit terdengar panik. Niat Mily untuk mengomel karena Yudhit mengganggu presentasinya jadi surut, digantikan dengan rasa penasaran sekaligus kekhawatiran.

“Kenapa, Yud?” tanyanya. Nada suaranya lebih panik dari yang diperkirakan.

“Rakhai, Mil ….”

Informasi yang disampaikan Yudhit membuat Mily memutuskan untuk membatalkan presentasi dan meninggalkan kelas lebih dulu. Dia tidak peduli pada presensi maupun citranya di kelas Proposal yang bisa saja jadi jelek. Yang ada di pikirannya sekarang adalah cepat sampai ke kos dan memastikan Rakhai baik-baik saja.

Lihat selengkapnya