Wishful Home

Hasnana
Chapter #13

Chapter 12

Agenda karaoke selesai lebih lama dari perkiraan karena Rakhai menambah jam. Karenanya, agenda makan-makan di warung si Teteh jadi mundur. Satya dan Rian sudah keburu rewel karena lapar. Sementara Jevin dan Rakhai tampak kehabisan energi karena terus-terusan bernyanyi.

Warung si Teteh adalah tempat makan dengan konsep lesehan. Anak-anak kos langsung duduk mengitari meja. Sementara, Mily berinisiatif mengambil menu dan pulpen.

“Pada mau makan apa? Gue aja yang pesenin,” katanya.

Rakhai langsung bangkit dan mengambil menu dari tangan Mily. “Jangan lah, Mil. Lo duduk, biar gue aja,” ujarnya sambil mendorong pelan punggung Mily untuk duduk bergabung dengan yang lain.

Mily menggeleng. “Kalian lemes gitu kayak orang nggak makan tiga hari. Udah, biar gue aja. Lagian cuma pesen doang. Gue juga biasa kali pesenin kalian sarapan.”

Saka ikut berdiri. “Beda lah, Mil. Pokoknya hari ini lo jadi princess. Biar kita-kita aja yang pesen,” katanya. “Mau makan apa?”

Semua orang berebut memilihkan untuk Mily.

“Yang ini recommended, Mil.”

“Yang ini juga enak.”

“Kalau favorit gue sih yang ini.”

“Minumnya yang ini aja, jangan kebanyakan manis.”

Meja mereka jadi super-chaos. Kepala Mily berdenyut, tapi ada sebagian dirinya yang menghangat. Orang-orang ini ….

“Kalian kenapa, sih?” tanya Mily. Kerutan terbentuk di dahinya.

Anak-anak kos menoleh serentak. Matanya berkedip-kedip kompak. 

“Bantu lo pilih menu sama sekalian pesenin, Mil. Apa lagi?” jawab Rakhai.

Mily mendengus sebal. “Iya, gue tau, tapi … ngapain? Gue bisa sendiri. Repot amat kalian.”

Rakhai memberengut. “Siapa yang repot? Ada dari kalian yang merasa repot?” tanyanya. Semua menggeleng kompak. “Tuh, Mil. Nggak ada.”

“Kak Mily, kan udah sering kami repoti, sekarang giliran kami yang yang direpotkan,” celetuk Satya.

Mily mengerucutkan bibirnya. “Tadi katanya nggak repot?” Bikin Satya kelabakan.

“Eh iya, maksudnya bukan gitu. Anu … Abang ….”

Ekspresinya yang mau nangis membuat semua orang tergelak. 

Rakhai merangkul bahu Satya untuk menenangkan. “Kami nggak repot sama sekali, Mil. Tiga hari kemarin kan lo udah bantu ngurusin gue yang sakit. Gantian dong,” ujarnya.

“Kan, gue nggak sakit, Bang.”

“Ya jangan sakit,” sahut Yudhit.

Jevin menarik pelan ujung lengan kemeja Mily agar cewek itu lekas duduk. “Udah, duduk. Lo jadi princess kalau sama kita-kita.”

Bibir Mily mencebik. “Princess mana yang disuruh ngerjain laundry?” ujarnya, yang membuat Saka, Rakhai, Yudhit, Jevin, Rian, dan Satya memasang tampang bersalah. 

Melihat ekspresi itu, Mily jadi ingin tertawa. Tanganya mengibas di depan wajah. “Gue bercanda!”

“Ye … ya udah, gue pesenin dulu.” Rakhai bangkit berdiri, kemudian berjalan menuju kasir setelah mencatat pesanan teman-temannya.

^^^

Dua puluh menit kemudian pesanan mereka datang. Ada tujuh porsi makanan berat dengan macam-macam menu, tujuh macam minuman, dan tujuh macam side dish

“Khai, nanti masih boleh nambah dessert, nggak? Gue pengen cobain es krim rasa barunya si Teteh.”

Yang dipalakin si Rakhai, tapi Mily yang menghela napas panjang. Asli, bayarin makanan satu meja penuh itu bukan hal yang kecil, tapi Saka dengan seenak jidatnya minta tambah dessert

“Pesen aja.”

Lihat selengkapnya