“Keluarga gue nggak lengkap, Yud. Gue nggak tau seperti apa ayah gue karena dari kecil … gue cuma tunggal sama ibu gue. Itulah mengapa gue selalu jadi lebih emosional kalau ada pembahasan mengenai keluarga.”
Yudhit masih ingat betul bagaimana ekspresi Mily saat mengatakan hal itu. Tatapannya nyaris kosong. Sudut-sudut bibirnya melengkung ke bawah. Bahunya turun, seolah dihinggapi beban yang teramat berat.
“Gue selalu suka cerita keluarga cemara, sekaligus iri karena keluarga gue nggak sempurna.”
Sebuah paradoks. Mily mengatakannya sambil tersenyum kecut. Yudhit masih setia mendengarkan, bahkan siap untuk meminjamkan bahu jika perlu.
“Gue selalu menganggap bahwa gue sudah terbiasa dengan hidup gue. Cuma tinggal berdua sama Ibu, saling mengandalkan satu sama lain, dan melupakan soal ketidaksempurnaan keluarga gue. Tapi … ternyata gue belum berdamai dengan luka itu.” Saat itu, Mily menatap Yudhit. “Cengeng, ya?”
Yudhit sudah ingin menghentikan cerita Mily jika itu membuat Mily tidak nyaman. Namun, Mily masih tetap melanjutkannya.
“Ibu gue selalu ngelarang gue buat cari tau tentang ayah, mungkin karena kekecewaannya yang … nggak begitu gue pahami. Awalnya gue oke aja, asal ada Ibu semua pasti baik-baik aja. Sampai … tiba-tiba gue dapat warisan rumah sama kosan dari Kakek Wira yang katanya adalah kakek gue. Gue jadi pengen tau siapa ayah gue dan apa yang selama ini terjadi. Apa yang sebenarnya bikin Ibu melarang gue buat tau siapa ayah gue.”
Setelah mengatakan kalimat panjang itu Mily menunduk. Cukup lama. Hingga Yudhit memutuskan untuk menepuk bahunya, beberapa kali, sampai Mily merasa lebih baik.
“Gue nggak tau pahit-asam-manis apa aja yang udah lo lewati sampai detik ini, Mil, tapi gue yakin lo adalah orang hebat. Sekarang lo nggak sendirian, Mil. Ada gue dan anak kos lain yang akan selalu ada buat lo. Anggap kami sebagai keluarga lo. Ya?”
Hanya itu yang bisa Yudhit sampaikan sebelum mengajak Mily kembali ke meja dan makan es krim bersama.
Yudhit tidak yakin kalimatnya akan berfungsi dengan baik sebagai penenang, tapi setidaknya Mily tidak menolak kehadirannya, juga kehadiran teman-teman kosnya yang berisik. Ya, setidaknya begitu.
“Bengong aje, Yud. Biasanya kalau udah makan lo aktif. Kesambet lo?”
Lamunannya buyar seketika. Yudhit bahkan nyaris meloncat dari tempat duduknya ketika Rakhai tiba-tiba menepuk keras bahunya. Teman depan kamarnya itu menampilkan cengiran tanpa dosa, membuat Yudhit mendengkus sebal di tempatnya.
“Nggak kesambet. Lagi mikir aja,” ucap Yudhit seadanya.
Saat ini keduanya sudah berada di pasar malam dekat kampus. Tepatnya, Yudhit sedang mengantre martabak. Yang lain berpencar untuk mencari hadiah sesuai dengan tata cara bermain manito yang sudah disepakati, yaitu semua orang wajib membelikan hadiah kecil bagi manito mereka atau orang yang namanya mereka dapatkan saat pengundian rahasia.
“Mikirin apa dah? Tugas? UKM? Proposal skripsi?” tanya Rakhai bertubi-tubi. Orang itu benar-benar jadi banyak bicara setelah tumbang tiga hari lamanya.
“Bukan semuanya,” jawab Yudhit sekenanya.
Rakhai menerbitkan cengiran meledeknya. “Mikirin cewek ya? Yang suka nempelin lo di UKM itu, kan?”
Yudhit mengernyit tidak suka. “Nggak ada yang nempelin gue di UKM.”
“Halah. Terus mikirin apa lo? Kayak bisa mikir aja.”
Satu toyoran Rakhai terima.
“Sialan! Gue mikirin …” Yudhit sedikit mengalami buffering. Nggak mungkin, kan dia bilang lagi mikirin Mily? “Mikirin hadiah buat manito gue.” Alasan yang masih masuk akal.
“Ceileh … beliin apa aja dah, Yud. Buat seru-seruan doang juga. Dapet siapa lo? Gue, ya?” Rakhai percaya diri.
Yudhit mencebik. “Pede gile!”