Kelas hari ini terasa berat karena Mily harus menyimak tiga presentasi dalam keadaan perut melilit. Tamu bulanannya datang lebih cepat dari perkiraan. Pagi buta tadi Mily sudah mengitari kompleks rumahnya untuk mencari toko kelontong yang menyediakan pembalut karena persediaannya habis. Indomaret dan Alfamaret terdekat terlalu jauh untuk dijangkau. Mily juga takut bocor. Hal itu sudah cukup membuat pagi Mily yang seharusnya damai menjadi sedikit berantakan.
Jam pertama mata kuliah sudah selesai sepuluh menit yang lalu, tapi kelas baru dibubarkan setelah dosen menjelaskan tugas lanjutan yang terdengar seperti denging nyamuk di telinga Mily. Matanya berat, kepalanya berdenyut, dan perutnya melilit akibat tamu bulanan sekaligus kelaparan. Ah, Mily belum sempat sarapan karena harus muter-muter cari pembalut!
Bruk!
Akibat tidak fokus melihat jalan ketika menyusuri lorong, bahu Mily tidak sengaja menabrak seseorang sampai orang itu mengaduh.
“AW!”
Mily rasa terlalu melengking untuk tubrukan yang tidak seberapa keras. Cewek itu mencoba untuk tidak bereaksi berlebihan juga. Bahunya merunduk.
“Maaf, Kak. Nggak sengaja,” katanya.
Decakan sebal lolos dari mulut cewek berambut gelombang yang tidak sengaja ditabrak. “Lain kali kalau jalan pakai mata!”
Bibir Mily berkedut geli. “Jalan ya pakai kaki, lah, kocak!” batinnya. Cewek itu merundukkan bahunya lagi kemudian izin untuk pergi. Perut dan kepalanya butuh diberi penanganan segera.
Sayangnya, belum ada dua langkah dia menjauh, ranselnya ditarik dari belakang. Mily jadi berjalan mundur sampai ke area belakang tangga yang jarang dilalui orang.
Perasaannya tidak enak, apalagi saat Mily menghadap ke arah tiga cewek yang sedang berkacak pinggang di depannya. Iya, yang ditabrak Mily memang hanya satu orang, tapi orang itu bersama dua temannya.
Mily tidak merasa terpojokkan, dia hanya merasa terganggu. Sangat terganggu. “Gue udah minta maaf, Kak. Suer, gue nggak sengaja! Gue–”
“Emily Kavita. Jadi elo cewek yang kegatelan deket-deket sama Saka?”
“Hah?” Mily melongo. Kenapa orang itu tau namanya? Dan, kenapa jadi bawa-bawa Bang Saka?
“Lo juga deket sama Rakhai, kan?”
Lha, Bang Rakhai juga, nih?
“Sama Yudhit apalagi!”
Nambah Yudhit?
Mily mengerjap-ngerjap bingung. Kenapa jadi pada mempresensi anak-anak kosnya? Tadi, kan cuma nggak sengaja nabrak?
“Tunggu, tunggu, maksudnya apa, sih?” tanyanya kebingungan.
Cewek berbaju putih yang tadi ditabrak Mily maju selangkah. Matanya yang belo menatap Mily penuh intimidasi. “Jangan pura-pura nggak tau, deh, lo! Lo kenal, kan sama tiga cowok itu?”
“Kenal, lah. Gue juga kenal sama tiga adiknya!” batinnya. Mily sengaja tidak langsung menjawab karena dia yakin akan terjadi hal yang lebih buruk lagi kalau dia meladeni tiga cewek di hadapannya. Cewek itu meringis. Kepalanya makin cenat-cenut. Tangannya terlipat di depan perut, mencoba meredakan sakitnya.
“Eh, jawab!” seru cewek berbaju kuning terang yang tadi menyebut nama Yudhit.
Mily menghela napas pendek. “Masalah kenal nggak kenal memangnya itu urusan kalian?”
“Jelas jadi urusan kami! Terutama kalau menyangkut soal Saka! Berhenti deketin Saka!”
Siapa yang deket-deket?
“Lo juga harus berhenti gatel ke Rakhai!”
Gatel? Emang gue ulat bulu?
Kali ini tidak hanya peringatan, Mily juga didorong oleh cewek berbaju pink yang rambutnya dikuncir kuda.
“Dan jangan coba-coba buat nempel-nempel ke Yudhit lagi!”
Lem kali gue?
Mily tersenyum meledek. Dia mulai paham arah pembicaraan tidak penting ini. Tangannya kembali terlipat. Ditatapnya mata cewek-cewek itu satu per satu.