Wishful Home

Hasnana
Chapter #16

Chapter 15

“Dilabrak sama siapa?”

“Dilabrak kenapa?” 

“Gimana keadaan Kak Mily sekarang?”

“Ada yang luka, nggak?”

“Kak Mily sedih, nggak?”

Yudhit menghela napas panjang sembari mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menggelengkan kepala. “Gue nggak tau. Gue cuma denger dia abis dilabrak di Fakultas Bahasa waktu gue lagi ngurus peminjaman ruangan buat acara UKM di sana.”

“Mily cerita sama lo?” tanya Saka panik.

Yudhit berdecak. “Enggak! Lo dengerin gue ngomong, nggak, sih, Bang? Gue tau dari orang lain.”

“Yakin akurat yang lo dengar itu? Beneran Mily yang dilabrak? Mily adek gue? Mily kita?” 

Dahi Jevin berkerut. “Sejak kapan Mily jadi adek lo?”

“Sejak Mily datang ke sini lah,” seru Saka, mantap.

Helaan napas panjang terdengar. “Gue juga berharap Mily yang dimaksud bukan Mily kita, tapi Mily nggak bisa dihubungi, kan, dari pagi?” ucap Yudhit. Yang artinya besar kemungkinan kalau Mily yang dilabrak adalah Mily-nya. 

“Ah, iya.” Tiba-tiba Rian menjentikkan jarinya. “Jangan-jangan Kak Mily jadi malas buka hape gara-gara habis dilabrak itu?”

“Ayo kita telepon Kak Mily aja! Aku khawatir sekali!” usul Satya yang diangguki oleh semua orang kecuali Saka.

Cowok itu bangun dari kursi. “Ngapain telepon? Kita samperin sekalian ke rumahnya.”

“Bang!” cegat Yudhit. Dia tidak mau terlalu gegabah, apalagi sampai mengganggu Mily. “Kita telepon dulu aja.”

“Nggak, Yud. Berani-beraninya ada yang jahat sama Mily gue!” Setelah mengatakan itu, Saka benar-benar meninggalkan meja makan. Diikuti Jevin, Satya, dan Rian. 

Yudhit mau tidak mau ikut bangkit mengikuti setelah memastikan makanan di meja makan tertutup dengan aman.

“Mau pada ke mana, Yud?” Tepat di depan pintu, Yudhit bertemu dengan Rakhai yang baru kembali dari bengkel.

“Mau ke rumah Mily. Dia abis dilabrak orang di kampus.”

“Hah?”

Yudhit kembali menghela napas panjang saat melihat Rakhai batal masuk ke kosan. Cowok bau oli itu langsung ngacir menyusul yang lain dengan helm yang masih membungkus kepalanya. Ekspresinya tidak kalah panik dengan Saka, Rian, Satya, dan Jevin, dan mungkin juga Yudhit meski cowok itu mencoba untuk tetap tenang. 

Tak butuh waktu lama untuk keenam penghuni Kos Dharmawangsa itu tiba di depan pintu rumah Mily. Saka yang pertama kali mengetuk pintu, disusul panggilan dari Satya. 

“Kak Mily ….”

“Mil, lo di rumah?”

“Kak Mily, ini Satya, Kak!”

“Kak Mily, aku Rian.”

“Mil, lo nggak papa, kan?”

“Mil ….”

Satu per satu memanggil nama Mily, tapi belum ada tanda-tanda keberadaan cewek itu. Pintu rumahnya terkunci, lampunya mati.

“Mil, lo di rumah, kan? Kita mau ketemu!” Saka mulai gusar.

Ujung kaki Yudhit mengetuk-ngetuk lantai dengan gelisah. “Mily ….” panggilnya lagi, masih dengan suaranya yang pelan. Yudhit yakin suaranya tidak lebih keras dari Saka, tapi Mily langsung muncul di hadapannya di detik berikutnya.

“Ngapain?” Adalah kata pertama yang keluar dari mulut Mily begitu melihat anak-anak kos. Suaranya terdengar malas, atau … marah? 

“Mil–” Saka menahan handle pintu saat Mily hendak menutupnya kembali. 

“Balik sana, gue lagi males.”

“Mil–” Kali ini Yudhit yang mencegah Mily pergi.

Lihat selengkapnya