Wishful Home

Hasnana
Chapter #17

Chapter 16

Mily masih cuek dan terkesan menjaga jarak dari anak kos di hari-hari berikutnya. Maka dari itu, anak kos mengusahakan segala cara untuk membuat Mily kembali ceria. Dimulai dari usaha Saka yang menawarkan berbagai jenis kopi dan minuman kekinian yang ada di kafe tempatnya bekerja, Rakhai yang mengajak makan di warung Teteh tiga kali sehari, Yudhit yang menawarkan jasa antar-jemput ke kampus, Jevin dengan tawaran nugas bareng, serta Rian dan Satya yang terus menemui Mily di Fakultas Bahasa padahal fakultas dan jadwal kuliah mereka berbeda. 

Usaha itu belum membuahkan hasil, bahkan Mily jadi makin garang. Dan, hal yang membuat anak kos merasa sedih adalah alasan Mily menjauh. Mily tidak ingin kembali dicap sebagai cewek gatal karena berteman dengan cowok-cowok Kos Dharmawangsa.

“Kami, kan udah jelasin kalau cewek-cewek itu bukan cewek kami. Kami juga udah janji nggak bakal biarin lo di kata-katai lagi. Jadi, please, Mil … jangan cuek-cuek. Nggak bisa gue diginiin adek gue. Sepi hari-hari gue kalau nggak ngobrol sama lo. Makin mangkrak entar skripsi gue,” kata Saka di suatu Senin yang panas. Mily cuma menaikkan satu alisnya sambil bilang, “Apa hubungannya?” yang dijawab Saka dengan, “Ada lah pokoknya.” sambil terus membujuk Mily agar tidak cuek lagi.

“Apalah arti makan di warung si Teteh kalau nggak bareng lo, Mil. Hambar semua itu persambalan. Kecap manis pun jadi rasa oli.” Kalau ini keluhan Rakhai. Kalau Mily sedang tidak cuek, dia pasti sudah tertawa. Tapi saat itu, Mily hanya memutar bola mata malas sambil berkata, “Apa ada jaminan makan sama lo nggak akan digeprek sama Ochi?” yang membuat Rakhai memasang tampang terluka.

Kalau Saka dan Rakhai lebih sering membujuk Mily dengan kalimat, Yudhit melakukan hal yang berbeda. Cowok itu sering tiba-tiba muncul di depan rumah, di depan gerbang kampus, kadang juga di depan kelas. Yudhit menawarkan tumpangan, tapi Mily selalu menolak dengan berbagai alasan, dari mau kerja kelompok hingga takut–lebih ke malas, sih–dirujak sama Mila.

Berbeda dengan sikap Mily kepada Saka, Rakhai, dan Yudhit yang cueknya luar biasa, kepada Jevin, Rian, dan Satya Mily sedikit lebih bersahabat. Makanya, mereka berempat bisa makan bersama di kantin Fakultas Bahasa sekarang.

“Duh, betapa senangnya hati aku, Kak Mily mau makan bareng kita di kampus!” 

Mily manyun. “Gimana ceritanya kalian bisa nemuin gue di sini? Rombongan lagi! Nggak kelas, kah?”

“Kelas aku udah selesai. Rian juga,” jelas Satya.

“Kalau gue lagi dispen buat ngurus Hima,” tambah Jevin.

Dahi Mily berkerut. “Terus ngapain di sini?”

Jevin terkekeh pelan. “Hima bisa nanti, makan sama lo kapan lagi?” katanya. “Udahan dong, Mil, keselnya.”

“Nyebelin lo!” Mily cemberut. “Sebenernya gue juga nggak ada niat buat ngambek nggak jelas begini sama kalian yang sebenernya nggak salah apa-apa, cuma … gue males aja lah kalau dengan berteman sama kalian malah bikin image gue jelek. Gue juga nggak mau bikin kalian ribut sama orang lain, cewek kalian misalnya, gara-gara gue.” Mily menyesap es tehnya untuk membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba kering. Bayangan muka-muka anak kos yang pasang ekspresi melas berkelebat di kepalanya.

“Cuekin aja, Kak Mily. Mereka iri aja itu nggak bisa kayak Kakak yang temenan sama anak-anak keren kayak kami!” celetuk Rian dengan mata berbinar.

Mily membuat gestur ingin muntah. “Pede bener!” serunya, disertai kekehan kecil yang rasanya sudah lama sekali tidak terdengar.

Ah, sepertinya bukan cuma anak kos yang merana dicuekin Mily karena sebenarnya Mily juga demikian. 

Kangen kecil, duh!

Mily menyusut tawa. Sesuatu mengganjal di hatinya. “Kalian tetap makan dengan baik, kan? Anak kos nggak ada yang sakit, kan?”

Lihat selengkapnya