Tubuh Mily kaku. Bibirnya membeku. Tangannya mengepal tanpa sadar. Matanya menatap tulisan itu dengan nanar. Mily pernah mendengar kalimat itu, tepat di telinganya, saat Mila dan rombongannya datang melabrak. Mily sama sekali tidak pernah menduga kalimat itu akan kembali dia lihat dalam bentuk tulisan besar yang ditulis menggunakan pilox berwarna merah darah.
Bentuk tulisan itu terlihat seram seperti di film-film horor, apalagi isi tulisannya. Bulu kuduk Mily meremang. Tubuhnya yang semula kaku, mulai berubah menjadi jelly. Mily melangkah menjauh dari dinding kos–tempat tulisan merah itu berada, nyaris limbung jika saja tidak ada yang memegangi bahunya.
“Mil ….”
Mily seperti linglung, hanya bisa mengikut ketika Yudhit membawanya ke ruang tamu kosan.
Sama seperti Mily, semua penghuni kos juga terkejut. Namun, keterkejutan mereka tidak lebih penting daripada memastikan Mily baik-baik saja.
“Duduk dulu, Mil.” Yudhit membantu Mily duduk di sofa, sementara Satya cekatan mengambilkan air minum.
“Minum dulu, Kak.”
Mily menerima gelas dari Satya, tapi tangannya terlalu lemah. Gelas itu jatuh, terbelah menjadi beberapa bagian. Karena tidak sempat menghindar, kaki Mily terkena serpihannya.
“Ya ampun, Kak Mily!”
Bola mata Mily bergerak-gerak gelisah. “Sat, maaf. Gue nggak sengaja.”
“Bukan itu masalahnya, Kak. Kaki Kakak berdarah!”
Mily melihat ke arah kakinya yang hanya terbalut flat shoes. Benar kata Satya. Darah keluar dari punggung kakinya.
“Ya ampun, Mil!” Rakhai berseru sambil bergegas mengambil kotak P3K yang tersimpan di lantai dua. Sementara Rian dan Jevin kompak membereskan pecahan gelas dan air yang berserakan.
“Geser ke arah kanan, Mil, biar gelasnya diberesin dulu sekalian luka lo diobatin.”
“Maaf, maaf. Gue aja yang beresin.” Mily tergeragap. Tanpa mempedulikan luka di kakinya, cewek itu merunduk untuk untuk mengambil pecahan gelas. Namun, sebelum tangannya menyentuh gelas, bahunya sudah ditarik oleh Yudhit.
“Obatin dulu lukanya.”
Yudhit membawa Mily ke sisi sofa yang lain. Bertepatan dengan itu, Rakhai datang bersama kotak P3K. Rian dan Jevin membereskan pecahan gelas bersama. Sementara Satya dan Saka kembali menyiapkan air minum untuk Mily.
Pandangan Mily mulai memburam oleh kaca-kaca yang terbentuk di matanya. Cewek itu menggigit bibir, berusaha sekuat tenaga menahan air mata dan rasa sesak yang menggerogoti kewarasannya.
“Sakit banget ya, Mil?” tanya Rakhai yang telaten mengobati luka Mily.
Mily menggeleng pelan, tapi tetap diam. Pikirannya terbagi, antara teror yang ditujukan untuknya dan kepedulian anak kos kepadanya.
“Kalau sakit bilang aja, Kak. Kakinya … atau hatinya.”
Tepat ketika kalimat Rian terucap, setetes air mata Mily turun membelah pipinya. Tetesan itu diikuti oleh tetesan-tetesan berikutnya.
Selama lima menit, Mily menangis tanpa interupsi. Anak kos membiarkannya meluapkan emosi. Sesekali mereka memberi tepukan ringan di bahu, juga berkata bahwa semua akan baik saja.
Tidak bisa dimungkiri bahwa teror yang didapatkan Mily cukup mengerikan, sekaligus menyebalkan karena menuduh Mily merebut cowok dan warisan orang.
Yudhit, satu-satunya anak kos yang sudah mengetahui sekelumit latar belakang Mily, bisa meraba perasaan apa yang cewek itu rasakan saat ini.
“Sori ….” lirih Mily sambil mengusap wajahnya yang basah. Tatapannya masih terarah ke bawah. “Dinding kosnya jadi jelek.”
“Bodoamat sama temboknya. Yang paling penting sekarang adalah keadaan lo.”
Hati Mily menghangat mendengar pernyataan Saka meski diucapkan dengan lantang. Nggak ada lembut-lembutnya.