Berdasarkan hasil mengobrol–investigasi imut kalau kata Satya, pelaku teror pilox merah di Kos Dharmawangsa mengarah kepada Mila, teman UKM Yudhit. Dugaan itu diperkuat dengan rekaman CCTV yang berhasil anak kos dapatkan dari Pak Tedjo. Dalam rekaman CCTV, terlihat pelaku teror itu adalah seorang perempuan ber-hoodie dan bermasker. Dia melakukan aksinya seorang diri.
Kalau kata Rakhai, “Berani juga ya dia, mana dilakuin magrib-magrib dan sendiri. Nggak ngeri ditemenin kalong wewe apa?”
Kalau tadi Rakhai agak nyinyir, komentar Jevin lain lagi. Katanya, “Kok, bisa dilakuinnya magrib-magrib, tapi kita nggak sadar?”
Benar. Sore kemarin, semua anak kos sudah berada di kos, tapi tidak ada yang menyadari seseorang sedang melakukan aksi.
“Gue lagi ibadah.”
“Aku masih nugas.”
“Gue masih–”
“Udah, kagak usah debat. Udah kejadian juga!” lerai Saka. Hari ini dia izin telat kerja dan bolos skripsian demi bisa ikut mencari tau pelaku dan motif teror pilox merah bersama Mily dan anak kos.
“Apa yang harus kita lakukan setelah memastikan rekaman CCTV?”
Mily dan anak-anak Kos Dharmawangsa kembali ke kosan setelah meminta rekaman CCTV kos dari Pak Tedjo. Kini, mereka berkumpul di rooftop untuk membahas rencana selanjutnya.
“Langsung gerebek Mila aja, nggak sih?” usul Rakhai, sesuai dengan tampang tekniknya yang nggak suka basa-basi.
Saka langsung menoyor kepalanya. “Jangan gegabah, Bek! Belum tentu juga itu beneran Mila. Mukanya nggak kelihatan jelas.”
Yang ditoyor cuma meringis.
Di tempatnya, Rian mengangkat tangan. “Gimana kalau kita ajak ketemu Kak Mila? Aku rasa itu cara yang lebih soft spoken,” ujarnya.
Jevin langsung tertawa. “Soft spoken! Ada-ada aja istilah lo, tapi ide lo lebih baik dari penggerebekannya Bang Rakhai,” komentarnya.
“Perlu gue bantu cari tau kegiatan Mila hari ini lewat Cica?” tawar Saka, mengingat pertemanannya dengan Cica tetap terjalin meski dia sempat kesal karena Cica ikut-ikutan melabrak Mily.
“Gue sih udah putus kontak sama Ochi. Males,” seru Rakhai.
Yudhit mengambil alih perhatian dengan berkata, “Nggak usah repot-repot, Bang. Siang nanti gue ada rapat UKM. Sejauh ini Mila nggak pernah absen.”
“Nah, bagus tuh!”
“Tapi yang nemuin Mila jangan semuanya. Kabur entar dia,” seru Yudhit.
Dahi Satya berkerut. “Terus siapa aja? Aku mau ikut, dong! Mau menemani Kak Mily!”
“Bukannya lo ada jadwal bola, ya, Sat?” Kerutan di dahi Satya berpindah ke dahi Mily. Pasalnya, dia tau setiap Sabtu Satya ada latihan sepak bola di klubnya.
Cowok itu malah nyengir. “Bisa bolos, Kakak.”
“Jangan!” cegah Mily. “Biar gue sama Yudhit aja,” pungkasnya.
“Nggak mau sama gue aja, Mil?” tawar Saka. Alisnya naik-turun.
“Atau gue?” sambar Jevin.
“Gue aja, nggak sih, Mil?” Rakhai ikut-ikutan.
Dan, Rian tidak mau ketinggalan. “Aku juga mau ikut!”