Karena rencana pertama gagal, hari ini tibalah saatnya untuk mengeksekusi rencana kedua alias plan B, rencana yang dibuat mendadak dengan deadline sesingkat-singkatnya dan tanpa mempertimbangkan pendapat Mily–cewek itu masih badmood. Skenarionya mudah dan jaminan berhasilnya besar. Namun, harus ada satu orang yang harus ditumbalkan.
“Serius kalian giniin gue?” Yudhit menunjuk dirinya dengan telunjuk. “Kalian jadiin gue umpan? Buat bawa Mila ke kosan? Yakin?” anya Yudhit bertubi-tubi.
Rakhai merangkul bahu kanannya. “Kalau bukan lo siapa lagi, Yud? Lo yang paling kenal Mila. Lagian sepengamatan gue nih si Mila naksir sama lo, pasti mau lah dia kalau diajak jalan.”
Giliran Saka yang merangkul bahu kirinya. “Kedoknya minta maaf karena kemarin lo nggak mengiakan permintaannya pulang bareng.”
“Bebek lo semua!” maki Yudhit. Ditepisnya rangkulan Rakhai dan Saka dengan kasar.
“Demi Mily, Yud,” ujar Jevin.
“Lo tega lihat Mily sedih terus ketakutan karena diteror?” Saka kembali mengompori.
“Bukannya lo yang paling peduli sama Mily?” Rakhai menaik-turunkan alisnya.
Yudhit menghela napas panjang, harapannya tinggal dua bungsu kosan.
“Kalian juga tega numbalin gue?”
Dua bungsu itu megerjap, seulas senyum mereka pamerkan.
Yudhit mendengkus sebal. “Bebek, bebek!” umpatnya sambil meninggalkan rooftop.
Meski berat hati, akhirnya Yudhit rela dijadikan tumbal. Dan, untuk itulah dia berada di sini sekarang. Di depan rumah besar Mila yang didominasi warna putih. Ada beberapa kendaraan bagus yang terparkir di garasi. Membuat motor matic Yudhit sedikit minder.
“Kak Yudhit!” Teriakan girang terdengar, disusul dengan langkah-langkah cepat seorang cewek yang keluar dari bangunan itu. Cewek itu mengenakan pakaian berwarna terang yang tampak kontras dengan apa yang dikenakan Yudhit saat ini–serba hitam.
“Mimpi apa aku semalam? Akhirnya Kakak mau meluangkan waktu buat jalan sama aku.” Sebelah tangan Yudhit digenggam tanpa bisa menghindar.
Demi Mily. Demi Mily.
Cowok iu menggaruk belakang telinganya menggunakan tangannya yang bebas. Bingung harus apa. “Eung … sori, kemarin gue nggak bisa pulang bareng sama lo.”
Mila tampak mengerucutkan bibir, tapi hanya sebentar. Sejurus kemudian, senyum cerahnya sudah kembali. “Dimaafin, deh.”
Yudhit mengangguk-angguk. “Eung … kepala lo masih sakit?” Dia mencoba berbasa-basi.
“Udah sembuh, kok. Kan, udah disamperin Kakak,” balas Mila riang. Dia tersenyum sampai kedua matanya menyipit. “Jadi kita mau ke mana sekarang?”
Ke mana ya? Yudhit benar-benar nge-blank!
“Lo … maunya ke mana? Gue jarang main, sih, nggak tau banyak tempat.”
“Aku biasanya ke mall sih, sama Papa. Tapi sekarang aku nurut Kak Yudhit aja mau jalan-jalan ke mana.”
“Oh gitu. Pakai motor, nggak papa?” tanya Yudhit, mengingat banyaknya kendaraan bagus yang Mila punya.
Cewek itu nyengir lagi. “Nggak papa, dong. Kalau naik motornya sama Kak Yudhit aku pasti selamat dan semangat.”
“Ya udah, yuk!” Yudhit mengeluarkan kunci dari saku celananya, kemudian membantu Mila naik.
Sepanjang perjalanan, Mila sibuk mencari pegangan–ujung kemeja Yudhit lah, bagian belakang jok lah. Yudhit yakin cewek itu tidak pernah bonceng motor karena selalu diantar-jemput pakai mobil. Tapi bodoamat, lah. Yudhit tidak berniat menawarkan pegangan apalagi pelukan. Sebagai gantinya, dia memelankan laju motornya.
“Mil, nama lo tuh, ada Dharmawangsa-nya, kan?” tanya Yudhit memulai misinya setelah sebelumnya berbasa-basi busuk.
“Iya. Amila Kavina Dharmawangsa,” jawab Mila tanpa merasa curiga.
“Dharmawangsa itu nama keluarga besar lo?”
“Iya, Kak. Dari kakek aku. Semua keluarga aku pakai Dharmawangsa sebagai nama belakang.”
“Nama kakek lo siapa?”
“Wira Dharmawangsa. Kedengeran gagah gitu, nggak sih, Kak?”
“Iya,” kata Yudhit seadanya. Dugaannya benar. Mila memang cucu Kakek Wira. Sama seperti Mily.
Mila tampak tersenyum lebar. Yudhit bisa melihatnya lewat spion. “Kalau nama belakang Kakak tuh inisial T, kan? Siapa, sih, Kak? Bisikin, dong!” tanya Mila tiba-tiba.