Wishful Home

Hasnana
Chapter #21

Chapter 20

Ketegangan menyelimuti ruang tamu Kos Dharmawangsa begitu Pak RT tiba. Mily dan Mila dijauhkan tempat duduknya agar terhindar dari drama jambak-jambakan dan cakar-cakaran part dua.

Mily duduk di sudut sofa bagian kanan, bersama Satya yang sedang membantu mengobati luka cakaran di pipinya. Mily tidak merengek atau menangis karena luka itu, hanya sesekali meringis ketika Satya sedikit menekan lukanya. Sementara, Mila yang tidak terluka justru menangis histeris sambil terus memanggil papanya. Jevin dan Rian mencoba menenangkan cewek itu, tapi malah kena semprot karena yang diharapkan Mila adalah Yudhit. 

Yudhit sendiri cuma bisa diam. Ini kali pertama dia melihat cewek-cewek berantem. 

Ngeri juga.

“Kita tunggu ayahnya Mbak Mila baru dimulai sidangnya ya,” ujar Pak RT. Sidang yang beliau maksud jelas bukan sidang yang serius-serius amat, hanya ingin mendamaikan dua belah pihak yang masih terlibat ketegangan.

Sekitar lima belas menit setelah Mila menelepon papanya, sebuah mobil hitam mengkilap memasuki area kos. Saka bergegas keluar dan segera meminta pemilik mobil iu untuk bergabung di ruang sidang–ruang tamu.

“Papa ….”

“Mila, sayang. Apa yang terjadi?”

Pria paruh baya itu langsung menghambur memeluk Mila. Raut khawatirnya tergambar jelas.

“Aku dijebak, Papa. Aku dijebak sama orang-orang ini!” seru Mila. Telunjuknya terarah pada Mily yang ditemani enam penghuni kosnya.

“Dijebak gimana?” Rahang pria itu mengeras. Tampak tidak terima ada yang memperlakukan putrinya dengan tidak baik.

Pak RT lekas memberikan peringatan sebelum kembali terjadi pertengkaran. Tangannya terangkat ke atas, kemudian mengatup di depan dada. “Mohon maaf, Pak. Tujuan kami meminta Bapak hadir di sini selain untuk menenangkan Mbak Mila adalah untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan. Untuk itu, mohon untuk ditahan dulu emosinya, nggih, Pak. Kita dengarkan dulu keterangan dari mbak-mbak dan mas-mas ini.”

Papa Mila mengatur napasnya. Kembali tenang saat bertanya, “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa anak saya bisa ada di sini?”

Mily sudah akan membuka suara ketika Jevin menepuk bahunya. “Biar gue, ya?” katanya. 

“Sebelumnya mohon maaf, Om, saya Jevin, mewakili teman-teman kos izin menjelaskan kejadian yang membuat kami harus memanggil Om ke sini.”

Wajah Mila tampak kecut ketika lagi-lagi orang lebih membela Mily daripada dirinya. Termasuk papanya.

“Silakan.”

Jevin mulai menceritakan kronologi pertengkaran Mila dan Mily. Dia memulai dari aksi pelabrakan, teror pilox, hingga aksi jambak-jambakan dan cakar-cakaran yang membuat Mily terluka. Jevin menjelaskan serinci-rincinya, termasuk menunjukan rekaman CCTV dan mempertanyakan soal warisan yang membingungkan.

Mila tampak ingin menyanggah berkali-kali, tapi tidak pernah berhasil karena saat ini Jevin sedang dalam mode kahim yang tidak bisa dibantah.

“Sebenarnya ini bukan masalah yang sangat besar sampai harus melibatkan Pak RT dan Om selaku ayah Mila jika saja Mila bisa diajak bicara baik-baik sejak awal.” Jevin menipiskan bibirnya untuk mengakhiri penjelasan panjangnya.

Lihat selengkapnya