Pernikahan merupakan sesuatu yang sakral dan jika bisa hanya dilaksanakan satu kali seumur hidup. Saat itu, baik Winata maupun Elisa yang sedang dimabuk cinta juga mengharapkan hal yang sama. Sekali untuk selamanya, menjadi keluarga bahagia dan penuh cinta. Sayangnya, mereka melupakan satu hal yang paling krusial, yakni restu orang tua.
Wira Dharmawangsa tidak pernah menyetujui hubungan putra tunggalnya dengan Elisa yang saat itu masih menjadi mahasiswa. Alasannya karena masih terlalu muda, masih harus menggapai cita-cita, dan adanya tradisi perjodohan dalam keluarga. Wira Dharmawangsa sudah mengatur masa depan Winata sedemikian rupa. Namun, Winata menginginkan kebebasan, termasuk kebebasan untuk menentukan siapa pasangannya.
Bulan-bulan berlalu dalam perang dingin antara Wira dan Winata, tapi Elisa tidak pernah tau. Yang dia tau, Winata mencintainya dan mereka akan segera menikah begitu gelar sarjana sudah berada di tangannya. Elisa dibutakan oleh cinta, hingga setuju untuk menikah secara sederhana tanpa dihadiri orang tua Winata. Dia sama sekali tidak menaruh curiga ketika Winata menyatakan bahwa orang tuanya sedang dinas di luar kota sehingga hanya bisa mengucapkan selamat tanpa bisa menghadiri acara mereka.
Tahun pertama pernikahan berjalan dengan lancar. Namun, memasuki tahun kedua, Winata dan Elisa mengalami kesulitan ekonomi. Winata dirumahkan oleh perusahaan ketika Elisa dinyatakan positif mengandung.
Bingung? Tentu saja. Winata sampai berkali-kali menghubungi Wira untuk mau membantu perekonomian keluarganya. Wira jelas menolak lantaran Winata sudah melanggar peraturan keluarganya. Winata terus memohon karena tabungannya sudah habis dan dia belum memiliki pekerjaan.
Negosiasi alot terjadi. Wira bersedia membiayai Elisa hingga anaknya lahir dan tumbuh menjadi remaja jika Winata mau kembali ke peraturan keluarga–bercerai dengan Elisa dan menerima perjodohan yang sudah diatur keluarga besarnya. Winata sakit kepala. Penawaran itu jelas menghancurkannya, menghancurkan keluarga kecilnya. Namun, dia tidak punya pilihan lain karena Elisa dan kandungannya membutuhkan penanganan khusus untuk keselamatan keduanya.
Negosiasi itu akhirnya melahirkan kesepakatan yang merugikan Winata, juga mengecewakan Elisa yang tiba-tiba menerima surat cerai. Saat itu Winata sudah menjelaskan semua alasannya, termasuk alasan kenapa orang tuanya tidak menghadiri pernikahan mereka. Elisa jelas kecewa, juga sangat murka. Dia merasa dipermainkan hingga rumah tangganya berakhir berantakan.
Sesuai kesepakatan, Winata dinikahkan dengan seorang perempuan yang sudah dipilihkan oleh keluarganya. Hidupnya kembali dikendalikan oleh Wira. Hidup Winata sejahtera, tapi tidak bahagia. Rasa bersalahnya kepada Elisa dan bayinya menjadi hukuman yang tidak akan ada akhirnya. Apalagi Elisa memutus komunikasi hingga bertahun-tahun lamanya.
Lima belas tahun berlalu, akhirnya pencarian Winata membuahkan hasil. Dia berhasil menemukan Elisa dan putrinya–Emily Kavita. Untuk menebus kesalahannya–yang dia sendiri yakin tidak akan termaafkan–Winata membiayai pendidikan Mily lewat yayasan tempatnya sekolah. Winata juga menyiapkan properti yang nantinya akan menjadi milik putri sulungnya.
Melihat Winata terus berusaha menebus kesalahannya kepada Elisa membuat hati Wira perlahan luluh. Di masa tuanya yang kesepian, diam-diam Wira mengalihnamakan beberapa propertinya atas nama Emily Kavita, cucu yang selama ini tumbuh jauh darinya. Wira menyadari bahwa kesalahannya kepada Winata dan keluarga kecil pertamanya tidak mudah untuk dimaafkan. Namun, dia ingin mencoba di sisa hidupnya melalui perantara Rania, Tedjo, dan Kos Dharmawangsa.
^^^
“Mily udah sadar, belum?”
Mily dilarikan ke UGD setelah tidak sadarkan diri di akhir sidang. Kata dokter, Mily kelelahan dan terlalu banyak pikiran.
“Udah, kok, tapi ini lagi tidur lagi. Anaknya belum mau diganggu.”
Saat ini Mily sudah dipindahkan ke ruang rawat. Ditemani oleh Yudhit. Sebenarnya, semua anak kos ikut, tapi karena tidak diperbolehkan menemani Mily semua, sisanya nongkrong di Indomaret yang ada di seberang rumah sakit. Mereka berulang kali menghubungi Yudhit lewat telepon untuk memastikan keadaan Mily, seperti saat ini.
“Syukurlah. Ya udah, biarin tidur dulu. Nanti kalau udah bangun suruh buka grup ya!” Itu suara Saka.
Yudhit berdecak kecil. Ingin memaki Saka, api takut suaranya membangunkan Mily. “Ngawur lo. Biarin dia tanpa ponsel dulu lah!”
Kekehan pelan terdengar dari seberang. “Kayak emak gue pas gue sakit aja omongan lo!” seru Saka sebelum berganti dengan suara keributan. Ponsel Saka direbut oleh Rakhai.
“Jagain adek gue ya, Yud. Sebenernya gue pengen banget jagain Mily di situ, cuma kayaknya lo lebih dibutuhin.”
Lalu, ponsel berpindah ke Jevin. “Iya, gue juga sebenernya mau banget nemenin Mily di situ, cuma ya udah, lo aja deh.”
Rakhai dan Jevin sama-sama menggunakan nada meledek di akhir kalimat mereka. Hal itu membuat telinga Yudhit memerah.
Sumpah! Dia nggak berniat jadi jagoan dengan menolong dan mengkhawatirkan Mily yang beberapa waktu lalu pingsan di dekatnya. Teman-temannya terlalu berlebihan.
“Ngomong apaan, deh? Kalau mau ke sini tinggal gantian sama gue. Entar gue yang keluar,” balasnya.
“Nggak papa, Kak. Kak Yudhit aja yang di situ. Sejauh ini Kak Mily kelihatan lebih nyaman cerita ke Kakak daripada ke yang lain.” Kali ini Rian yang bicara.
Orang-orang pada kenapa, sih?
“Ngomong sama dengkul gue nih, Yan! Jangan lebay deh lo pada! Lo semua juga penting buat Mily. Nggak ada yang spesial dari gue.”
Tau kalau Yudhit sedang salah tingkah, lima cowok di seberang kos itu terkekeh bersama.
“Hahaha. Kabarin kami terus apapun yang terjadi ya, kalau butuh apa-apa juga kami ada di sini,” pesan Saka sebelum mengakhiri panggilan.
“Iye …. Mily pasti nangis deres denger lo pada perhatian banget sama dia,” balas Yudhit.
“Masih gede perhatian lo, lah,” sahut Rakhai.