Wishful Home

Hasnana
Chapter #23

Chapter 22

Setelah dua hari dirawat, Mily akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Karenanya, anak-anak kos ada di rumah sakit untuk menjemput Mily sekarang. Tidak semua ikut, hanya Rakhai dan Satya yang mengendarai sebuah mobil. Jevin juga datang, tapi dia membawa motor sendiri. Saka dan Rian tetap di kos untuk menyiapkan makanan. Sedangkan Yudhit masih bersama Mily sejak kemarin.

“Tante Elisa jadi datang, Mil?” tanya Rakhai sambil membantu membawakan barang-barang Mily. Keduanya jalan bersebelahan.

Mily mengangguk. Kemarin dia sudah mengabari ibunya kalau dia sedang sakit. Mily juga menceritakan penyebabnya meski awalnya merasa takut. Elisa tidak marah, tidak juga kecewa. Ternyata selama ini Elisa tidak memperbolehkan Mily mencari tau kebenaran tentang keluarganya adalah karena Elisa tidak mau Mily bersedih. 

Masih ada banyak hal yang ingin Mily ceritakan kepada Elisa. Masih ada kebingungan-kebingungan yang ingin Mily sampaikan kepada ibunya. Untuk itu Elisa datang hari ini.

“Jadi, tapi cuma bentar. Sore nanti ada kerjaan nggak jauh dari sini.”

Bahu Rakhai merosot. “Yah, gue pikir bermalam di rumah lo.”

“Emang kenapa?”

“Mau minta dimasakin sambal udang. Kangen banget masakan nyokap,” ujarnya sambil nyengir.

Yudhit dan Satya ber-huuu dari belakang. “Minta masakin nyokap lo lah, Bang.”

“Beli di warung makan juga ada lho.”

Mily cuma tertawa kecil. Kini, mereka sudah sampai di area parkir.

“Nyokap kapan sampai, Mil?” tanya Jevin sambil memasang helmnya.

Mily mengecek chat Elisa. “Jam sebelas kayaknya.” Sekarang sudah lewat pukul sepuluh. Sebentar lagi Elisa sampai.

Jevin mengangguk-angguk. “Turun di stasiun deket sini, kan? Biar gue yang jemput, ya.”

Belum sempat Mily menolak karena takut merepotkan, Jevin sudah membawa motornya melaju.

“Makasih, Jev!” seru Mily.

Rakhai dan Satya menata barang di dalam mobil, sedangkan Yudhit menyandar di bagian samping mobil sambil terkantuk-kantuk. Cowok itu tidak tidur semalam karena menemani Mily sambil mengerjakan tugas.

Mily jadi tidak tega.

Samperin, nggak ya?

Rakhai memastikan semua barang sudah masuk, kemudian membuka pintu pengemudi. “Udah masuk semua, kan, barangnya? Tinggal kalian yang masuk. Lo depan, Mil.”

Mily masih bergeming. “Gue baru tau lo bawa mobil ke kos, Bang,” katanya.

“Mobil bengkel ini, Mil. Pinjem si Bos,” balas Rakhai sekenanya.

Mily menepuk jidat. “Ya ampun, sori gue jadi ngerepotin, padahal gue bisa Gocar sendiri.”

Satya menepuk bahu Mily yang masih berdiri kepanasan. “Ngapain harus Gocar kalau ada Go-Khai, Kak? Tenang aja, Bang Rakhai udah jago nyetir, kok. Dijamin aman.”

“Tapi, kan–”

“Nggak ngerepotin sama sekali, Mily. Yuk, naik. Gue udah kangen banget sama kamar gue.”

Yudhit membukakan pintu untuk Mily. Tangannya menyilakan Mily untuk masuk. Melihat Yudhit yang terkantuk-kantuk membuat Mily tidak enak hati. Cewek itu bergegas masuk, tapi karena kurang berhati-hati, kepalanya nyaris terbentur bagian atas pintu mobil. Beruntung, tangan Yudhit ada di sana, memegangi bagian yang hampir Mily tabrak.

“Hati-hati.”

Hanya satu kata, tapi sukses membuat wajah Mily menghangat. Ingatan Mily terlempar ke belakang, saat Yudhit menawarkan pelukan untuknya.

“Gue pengen dipeluk Ibu.”

Senyum tipis terulas di bibir Yudhit. “Nanti kita kabarin ibu lo ya. Sekarang, lo keberatan, nggak kalau gue yang peluk lo dulu?”

Bibir Mily melengkung ke bawah. Air matanya menggenang lagi. Mily tidak berontak ketika Yudhit menariknya ke dalam dekapan. Pelukan Yudhit terasa canggung dan penuh kehati-hatian. Tidak erat, tapi tetap terasa hangat. 

Mily bisa merasakan sebelah tangan Yudhit menepuk-nepuk punggungnya, sementara tangan yang lain mengusap kepalanya. Rasa aman yang Yudhit tawarkan membuat Mily makin sulit menghentikan air mata.

Bahu Mily bergetar. Tanpa sadar, dia membenamkan wajahnya di dada Yudhit. Menangis lagi, seperti anak kecil yang tidak ingin ditinggal pergi.

Lihat selengkapnya