Kondisi Mily benar-benar pulih setelah dua hari beristirahat di rumah dan absen kuliah, meski akhirnya jadi menimbun tugas. Untungnya, Mily punya anak kos yang baik hati dan suka menolong. Bonus suka jajanin lagi.
Sore ini Mily kembali menginjakkan kaki di rooftop kosan. Rasanya menyenangkan karena dia bisa sedikit bernapas lega setelah huru-hara yang terjadi belakangan. Mily juga senang bisa berkumpul lagi dengan anak-anak kos tanpa beban. Meski kadang menyebalkan, penghuni Kos Dharmawangsa adalah orang-orang yang paling Mily rindukan.
Cahaya oranye lembut menyorot ke arah rooftop tempat Mily dan anak-anak kos berkumpul. Di tengah-tengah mereka, laptop-laptop dan buku-buku terbuka. Ada pula beberapa bungkus makanan ringan, roti, dan gelas-gelas minuman. Petikan gitar terdengar pelan tanpa mengganggu konsentrasi. Malah terdengar syahdu dan menyatu dengan suasana.
“Udah beres nih, Kak, tugasnya,” seru Rian setelah mengerjakan tugas reviu artikel milik Mily.
Jevin mengangkat bukunya. “Yang ini juga udah. Nanti tinggal lo final check aja ya.” Dia kebagian tugas analisis bahasa.
“Eh, sumpah? Kok cepet banget?” Mily berdecak takjub.
Rian tersenyum jumawa. “Aku mah jago, Kak, lintas jurusan juga.” Cowok itu memang langganan juara kelas waktu sekolah. Nggak heran meski mengambil prodi matematika, dia tetap bisa mengerjakan tugas Mily yang anak bahasa dan sastra.
Saka menggaruk kepalanya. “Yang ini belum, dikit lagi ya, Mil,” ucapnya. Cowok itu terlihat frustrasi setelah mencoba mengerjakan tugas analisis yang lain.
Anak bahasa dan sastra memang begitu, tugasnya lebih banyak menganalisis.
“Ih, udah gue aja. Nggak enak gue sama kalian.” Mily ingin mengambil bukunya yang dipegang oleh Saka, tapi Saka malah menjauhkan bukunya.
“Alay. Udah, lo beresin dulu proposal lo. Besok gue temenin daftar sempro.”
Mily cemberut, tapi tetap menurut.
Jevin melongok laptop Mily. “Udah bikin salindia, Mil?”
“Udah, sih, tapi monoton.”
“Bagi link-nya. Gue jago ngedit gituan.”
Mily menarik napasnya cukup panjang, kemudian mengembuskannya perlahan. “Guys … makasih,” ucapnya. Tulus dari hati.
Rakhai yang sebenarnya dari tadi cuma gitaran menepuk pelan puncak kepala Mily. “Iye …. Lo baru sembuh, jangan dibikin sakit kepala dulu sama tugas-tugas ini,” katanya, mewakili yang lain. “Tugas lo hari ini duduk, makan jajan, dengerin gue gitaran, dan nikmati sore ini dengan bahagia.”
Mily terkekeh pelan. “Kayak yang nggak ada kerjaan aja gue.”
Sementara Mily dan yang lain sibuk membahas tugas, sejak tadi Yudhit tampak memisahkan diri. Dia duduk di ujung sofa sambil terus memainkan ponselnya. Suasana hatinya tampak sedang tidak terlalu baik. Biasanya kalau seperti itu hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Yudhit belum makan. Kedua, ada hal penting sedang ditutupinya.
“Chat sama siapa, sih?” Yudhit terkejut saat tiba-tiba Rakhai duduk di sebelahnya.
“Iya. Kayak yang punya pacar aja sibuk chatting-an.” Bukan hanya Rakhai, Saka juga ikut-ikutan nimbrung.
Kini, posisi Yudhit terjepit. Dia mencoba untuk menyembunyikan ponselnya dari dua orang itu.
“Chat orang. Ada lah.”
“Nggak asyik, mainnya rahasia-rahasiaan.”
“Cewek, ya?” tebak Jevin. Alisnya naik-turun jail.
Rakhai tertawa keras sambil sesekali melirik Mily yang sedang asyik makan roti bareng Satya. “Ceweknya kan udah di sini.”
Muka Yudhit langsung panik. “Eh, diem lo mulut bebek!”
“Makanya jangan rahasia-rahasiaan.”
“Ini namanya privasi. Ajarin abang lo hukum privasi, Sat!” seru Yudhit, sedikit berteriak.
Satya yang merasa namanya dipanggil menggerutu sebal karena kegiatannya terganggu. “Aduh. Kenapa, sih ribut mulu. Aku lagi makan roti nih sama Kak Mily.” Anak itu mengangkat rotinya yang tersisa setengah.
“Jangan keseringan main sama Satya, Mil. Kebanyakan makan tepung dia!” ledek Saka.
“Diam ya, Abang!”
Mily cuma tertawa. Meski tampak sibuk dengan hal lain, sebenarnya dari tadi Mily menyimak obrolan mereka. Dan, sebenarnya dia juga penasaran karena selama bermain ponsel, Yudhit sering curi-curi pandang ke arahnya. Mily nggak mau kepedean, tapi dia melihatnya. “Emang chat siapa, Yud?”
“Ada. Anu. Temen.” Yudhit gelagapan.
“Oh.”
Respons Mily membuat penonton kecewa.
“Jangan langsung oh dong, Mil. Gali terus sampai si Bebek mau jawab!”
“Chat sama Mila ya lo?”
“Kagak. Apaan, sih?” Yudhit mencoba menghindar dari teman-temannya, tapi Saka dan Rakhai mengeblok pergerakannya.
“Ya abisnya lo aneh, Yud. Jari lo sibuk ngetik, tapi mata lo curi-curi pandang mulu ke Mily kayak takut ketahuan.”