Wishful Home

Hasnana
Chapter #26

Chapter 25

Sabtu pagi. Pintu rumah Mily sudah digedor oleh Satya dan Rian. Mereka sudah mengenakan wearpack warna oranye menyala yang entah dari mana dapatnya. Senyum antusias terpancar di wajah mereka. Berbanding terbalik dengan wajah kusam Mily yang habis bergadang.

“Udah siap, belum?” seru Satya, menirukan bagian lagu no na yang sempat viral.

Rian langsung menyambung. “Jalan-jalan dengan sepatu rodaku ….”

Mily geleng-geleng kepala. Tidak bisa untuk tidak tertawa ketika dua bungsu itu sudah bertingkah. “Guys … pagi banget!”

Excited mau ngecat, Kak! Lihat baju kita.” Rian dan Satya merentangkan tangan, memamerkan wearpack oranye menyala mereka yang terlihat menyilaukan.

Mily geleng-geleng kepala. “Dapat dari mana?” 

“Ada lah pokoknya. Kami juga udah nyiapin buat Kakak. Yuk!” Satya menggandeng lengan Mily. Cewek itu hanya bisa pasrah diseret untuk ikut nukang.

Sejak teror pilox itu muncul, Kos Dharmawangsa tampak menyedihkan. Cat yang semula putih bersih jadi bernoda merah darah, seperti rumah-rumah di film horor. Bunyi tulisannya yang menyebalkan juga mengundang perhatian orang lewat, membuat penghuni kos dan pemiliknya tidak nyaman. 

Hari ini Mily dan anak-anak kos sudah siap untuk merenovasi kosan–versi imut karena cuma ngecat. Tidak hanya Rian dan Satya, semua orang juga memakai wearpack, ditambah pelindung kepala yang menurut Mily sedikit berlebihan. 

Sejak setengah dipaksa memakai wearpack berwarna pink, Mily nggak berhenti ngakak. Apalagi saat Saka memasangkan helm kegedean yang membuat kepalanya tenggelam. “Sumpah, lebay banget. Kita jadi kayak mau ngerjain proyek besar, padahal cuma ngecat dinding depan!”

“Keselamatan nomor satu, Mil. Jadi perlengkapan kita juga harus super-duper-lengkap, termasuk pakaian dan helm,” ujar Jevin sambil menunjuk helmnya. 

“Ngide banget! Tapi lucu, sih.” 

Rakhai menepuk pelan helm Mily. “Lucu, kan. Yuk, kita foto dulu sebelum mulai ngecat,” ajaknya setelah sempat sibuk mengatur posisi tripod. 

Orang-orang mulai mengatur posisi. Rian dan Satya berebut posisi di sebelah kanan Mily yang berdiri di tengah. Tidak ada yang berani mengincar posisi sebelah kiri Mily karena sudah ada Yudhit. Meski cowok itu cuma diam, anak-anak lain tau kalau Yudhit tidak ingin bergeser.

“Udah kagak usah ribut. Semuanya lihat kamera!” seru Rakhai. 

Lalu, dalam hitungan ketiga, saat kamera mulai berkedip, semuanya meneriakkan kata “cheese”. Dalam sekali jepretan, keceriaan itu berhasil dibekukan.

^^^

Kegiatan mengecat dinding luar Kos Dharmawangsa selesai ketika matahari beranjak turun. Meski sisi yang bernoda tidak begitu luas, nyatanya tangan-tangan amatir itu membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikannya. Belum lagi ditambah dengan kehebohan dan tingkah-tingkah anak kos yang ada-ada saja. 

Capek, tapi seru. 

Rakhai, Satya, dan Rian duduk melantai di depan garasi. Mereka tampak kelelahan. Tak lama, Saka dan Jevin menyusul.

“Akhirnya selesai juga ngecat satu sisi dinding!” seru Rian sambil menyandarkan punggungnya ke dinding.

Saka merangkul bahunya, kemudian tertawa saat melihat ada noda cat di pipinya. “Lo semuka-muka juga dicat, Yan!”

“Ini kena kuasnya Satya!” keluh Rian sambil menunjuk Satya yang sudah rebahan.

Satya cuma meringis.

Rakhai geleng-geleng kepala melihatnya. “Parah emang. Jangan kayak anak kecil, Satya.”

“Iya, maaf. Namanya juga nggak sengaja.” Satya membela diri.

Yudhit dan Mily menyusul, bergabung di antara lima orang lainnya. Hal yang pertama kali mereka lihat adalah pipi Rian yang bernoda cat.

“Pipinya, Yan. Ya ampun! Untung bukan warna silver,” seru Mily, membuat Rian langsung memberengut dan kembali menyalahkan Satya yang jail.

Yudhit menepuk helm Satya yang berada di sebelahnya. “Nanti bantu Rian bersihin mukanya, Dek.”

“Iya, Abang.”

Semua tertawa melihat raut pasrah Satya. Meski usil, anak itu tidak akan berani melawan kakak-kakaknya, apalagi kalau Yudhit yang kalem itu sudah bersuara.

Sambil beristirahat, Saka mengotak-atik ponselnya. “Eh gue ada pesan minuman tadi. Kayaknya bentar lagi dateng.”

Mata anak-anak kos langsung berbinar. 

“Asyik! Lo beli banyak kena diskon karyawan, nggak, Bang?” tanya Jevin.

“Dapet, lah. Apalagi gue ganteng,” jawab Saka percaya diri.

Lihat selengkapnya