Wishful Home

Hasnana
Chapter #27

Chapter 26

Setelah proses panjang yang melelahkan, akhirnya tiba juga saatnya Mily sempro–seminar proposal. Jadwal sempronya adalah siang nanti, tapi deg-degannya sudah dari kemarin. Mily gugup dan tegang, takut menghadapi dosen pengujinya. Jadi, pagi ini, alih-alih belajar, Mily malah ke kosan untuk meminta dukungan. Kegiatan membuka-tutup proposalnya sengaja dia sudahi.

“Bisa, Mil, bisa. Aman aja, aman.”

“Kalau pengujinya galak, lo panggil gue aja”

Kalimat-kalimat sejenis diucapkan oleh anak-anak kos, meski sebenarnya mereka juga ikut gugup dan tegang.

Mily menarik-embuskan napasnya berulang kali. “Kalian nanti jadi dateng?” tanya Mily

“Dateng, dong. Gue sengaja tukar shift biar bisa nemenin lo sempro,” jawab Saka sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Gue juga dateng. Bengkel tutup setengah hari demi lo,” sambung Rakhai.

Mily menyengir. “Yang lain?” tanyanya lagi. Pasalnya, sekarang hanya ada Saka dan Rakhai di kos, yang lain sudah berkegiatan di kampus.

“Yudhit pasti dateng, ada jeda kelas dia jam segitu. Jevin juga.”

“Rian sama Satya gue jemput di fakultas kalau nggak bisa dateng.”

Mily terkekeh kecil. Meski kadang usil dan heboh, nyatanya anak kos adalah support system yang dia cari.

“Makasih, ya! Doain gue, Bang!” Mily memegangi dadanya yang terus berdebar.

Melihat itu, Saka dan Rakhai terkekeh kecil. “Pasti, Mil. Yuk, kami antar.”

Rakhai mendorong bahu Mily keluar kosan. Saka bergegas mengeluarkan mobil pinjaman bengkel Rakhai dari garasi. Ketiganya bersiap menuju Kampus Biru dengan harapan Mily bisa melalui seminar proposal dengan lancar.

^^^

“Abang, jemput!”

Yudhit baru tiba di Fakultas Hukum begitu Satya menelepon. Begitu telepon tersambung, rengekan Satya langsung terdengar, seolah Yudhit sudah telat menjemputnya dalam hitungan jam.

“Di mana? Gue udah di fakultas lo, nih.” Yudhit celingukan sambil merapikan rambutnya. Hari ini dia memang berniat menjemput Satya untuk menghadiri sempro Mily. Jadi, harusnya Satya sudah stand by. Tapi, di mana anak itu?

“Aduh, aku nggak di kampus, Bang. Aku di toko roti dekat perempatan. Aku beli banyak banget, nggak bisa bawanya.”

Helaan napas Yudhit terdengar berat. Cowok itu langsung mengecek jam di pergelangan tangannya. Pukul satu siang. Seminar Mily sudah dimulai. Dia tidak boleh telat.

“Astaga, bocah! Tunggu di situ. Rian sama lo, nggak?”

“Rian sama Bang Jevin. Lagi beli kado dulu buat Kak Mily.”

Lama-lama rambut Yudhit jadi mirip surai singa karena terus diacak. Adik-adiknya itu memang ….

“Astaga! Ini Mily udah mau selesai, kalian masih ribu cari–”

Kalimat Yudhit tidak selesai karena Satya memotongnya dengan tidak sabar.

“Jemput dulu, Abang. Ngomelnya nanti aja. Aku mau ke Kak Mily. Sekarang!”

Malah dia yang marah. Yudhit cuma bisa pasrah.

“Iye … gue OTW!”

Sementara Yudhit bertugas menjemput Satya, Jevin terjebak bersama Rian di plaza kampus sejak satu jam yang lalu. 

“Beli ini atau ini?”

Nah, ini dia alasannya. Rian mengajak Jevin membeli hadiah untuk Mily. Janjinya cuma sebentar, makanya Jevin iyakan. Ternyata, Rian adalah orang yang begitu pemilih, hingga mereka menghabiskan waktu terlalu lama di tempat itu.

“Mana aja, buruan. Bang Saka udah ngabarin ini, Mily udah mau kelar.” Jevin jadi gemas sendiri karena Rian terus membandingkan barang-barang yang akan dia beli. “Ayo!”

Rian merengut. Matanya menatap dua kotak di tangannya dan Jevin bergantian. “Sebentar, Bang. Kita harus pilih hadiah terbaik,” katanya.

“Aduh, ini baru sempro, kok, seadanya dulu aja. Nanti kalau sidang kita kasih kado yang lebih proper. Oke?”

“Tapi–”

“Rian, ayo! Mily udah selesai!”

Meski belum puas dengan pilihannya, Rian akhirnya mengalah. “Iya, aku bayar ini dulu!”

^^^

Lihat selengkapnya