Perayaan sempro Mily tidak berhenti di kampus. Mereka melanjutkannya di Wishful Home–kos mereka. Ada banyak makanan, minuman, balon, konfeti, gitar, dan nyanyian anak kos yang menyemarakkan suasana di rooftop kosan.
Rakhai benar-benar memenuhi ucapan asbunnya soal bernyanyi sepuluh lagu. Dia juga mengajak yang lain untuk bernyanyi bersamanya, termasuk Mily. Lagu Kita Usahakan Rumah Itu yang dipopulerkan oleh Sal Priadi menjadi pilihan Mily. Dia bernyanyi bersama Rian dan Satya yang menawarkan diri menjadi backing vocal.
Salah nada, salah lirik, tidak sesuai tempo, dan sederet kesalahan lain dilakukan, tapi siapa peduli. Lagu tetap dinyanyikan sampai selesai, kemudian disambut dengan sorakan seolah mereka sedang berada di panggung besar.
Ramai dan hangat. Perasaan Mily dipenuhi kegembiraan. Untuk itu, dia berterima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukannya dengan anak-anak kos. Bersama mereka, Mily merasa aman, nyaman, seperti berada di rumah. Rumah yang utuh.
^^^
Perayaan sempro Mily ala anak Wishful Home berakhir setelah semua makanan, minuman, dan suara mereka habis. Ketika langit mulai gelap, mereka memutuskan untuk turun, kecuali Mily dan Yudhit. Tadi, saat orang-orang sibuk membereskan rooftop, Yudhit berbisik pada Mily, memintanya untuk berada di rooftop lebih lama. Katanya, ada hal penting yang ingin Yudhit sampaikan.
Mily jelas deg-degan, tapi mencoba untuk tetap tenang. Hal yang sama juga dirasakan oleh Yudhit. Malah lebih parah. Sejak anak-anak kos lain turun, dia tidak bisa menatap mata Mily. Jantungnya berdetak cepat sampai Yudhit takut organ itu akan meledak.
Jemari Yudhit memegang terali rooftop. Mily ada di sebelahnya, melakukan hal yang sama. Menit-menit berlalu dalam diam, hingga akhirnya Mily bersuara.
“Yud?”
“Hm?”
“Kok, bengong? Katanya tadi mau ngomong.”
Yudhit menggaruk bagian belakang telinganya yang memerah. “Eh, iya. Bentar ya, Mil, gue butuh waktu,” ucapnya tanpa menatap mata Mily.
Dahi Mily berkerut. “Emang mau ngomongin apa, sih? Kok, tegang gitu?” tanyanya. Padahal, dirinya juga tegang penuh antisipasi.
“Ada. Bentar ya, Mil. Bentar.” Bukannya menatap, Yudhit malah memutar tubuhnya ke arah lain saat Mily mencoba menatap wajahnya.
“Yud?” Mily nyaris tertawa melihat rona merah di pipi cowok itu.
“Mil, jangan gitu, Mil.” Suara Yudhit bergetar. Dia terus mengalihkan tatapan.
“Kenapa, sih?”
“Gue nggak bisa tatap mata lo.”
Kejujuran yang membuat tawa Mily meledak. Ketegangan berangsur mereda. Mily malah jadi ingin mengusili Yudhit.
“Aneh banget? Biasanya kita ngobrol juga tatap-tatapan. Lo lagi belekan, ya?”
Akhirnya Yudhit balik badan, meski masih belum berani menatap Mily sama sekali. “Kagak. Gue cuma … aduh. Bentar ya, Mil, bentar. Kayaknya lo juga udah tau gue mau ngomong apa.”
Melihat rona merah di wajah Yudhit dan tingkahnya yang aneh, sepertinya Mily sudah bisa menebak arah pembicaraan ini. Namun, Mily tidak ingin salah mengira apalagi sampai besar kepala. Jadi, cewek itu memutuskan untuk kembali bertanya.
“Apa emangnya?” Kepalanya miring, matanya mencoba menemukan mata Yudhit.
“Itu ….”