Witch Drifter

Iman Ali Janovit
Chapter #2

Chapter 1 : Ketidaksengajaan

Malam itu bulan purnama sedang menampakkan dirinya. Awan-awan dan bintang-bintang terlihat sangat serasi dengan purnama hari ini.

Di sebuah kota kecil. Jalanan dibuat dari paving block. Lampu-lampu warna kuning menyala menghiasi kota. Bangunan-bangunan tinggi yang terdiri dari bar, restoran dan toko alat sihir berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan lainnya.

Malam hari yang dingin. Seorang remaja laki-laki dengan baju tangan pendeknya justru tidak merasakan kedinginan sama sekali. Ia dengan santai berjalan di jalan paving block sembari membawa belanjaan berisikan makanan. Remaja laki-laki itu adalah Tata.

"Barat berbeda sekali, ya. Malam hari di sini terasa lebih sepi." Gumam Tata terus berjalan sembari memegangi dagunya.

Tata memperhatikan sekelilingnya. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri.

"Mungkin karena bukan kota utama, jadinya suasananya beda sekali."

Tata berjalan sendirian melewati gang-gang yang sempit. Minimnya penduduk membuat kota yang Tata jejaki terlihat kumuh dan sedikit mengerikan. Bahkan katanya tingkat kriminal di kota tersebut sangatlah tinggi.

"Jika di barat aku berhasil menemukan sesuatu yang menarik lalu aku gabungkan dengan semua hasil dari Ekspedisi—misteri pulau hilang mungkin tidak akan mustahil." Tata mengambil sepotong roti di kantung plastik miliknya lalu memakannya perlahan.

Meskipun Tata berjalan sendirian, kenyataannya tidak begitu. Sedari tadi ia terus diikuti oleh sebuah kelompok tidak dikenal.

"Dia mangsa yang sempurna." Bisik salah satu orang dari kelompok yang tak dikenal sembari mengintip sedikit dari balik kotak-kotak tinggi di dalam kegelapan gang. Matanya menyipit, jeli dalam memperhatikan.

"Berani sekali dia. Keluar malam-malam begini. Hari ini kita akan dapat untung." Sosok satu lagi berbicara kemudian tertawa kecil.

Tata berjalan tanpa merasa diawasi. Dia bersenandung, menyanyikan lagu yang dia hafal.

"Besok aku harus segera pergi melanjutkan perjalanan. Hari ini harus tidur lebih awal." Ujarnya.

"Sihir kabut—Labirin sesat!" Salah satu dari kelompok tak dikenal menggunakan kekuatannya lewat buku sihir berwarna abu dengan lambang semanggi berdaun tiga. Buku sihir itu melayang perlahan dan menyala redup dalam warna abu-abu.

Kabut tiba-tiba muncul. Menutupi hampir setiap sudut kota. Tata yang sedang bersenandung langsung terhenti seketika.

"Kabut? Sungguh? Padahal dari tadi apapun yang berkaitan dengan munculnya kabut, tidak ada sama sekali." Tata memperhatikan sekelilingnya yang kabur karena kabut yang tebal.

"Lumayan jeli juga kau." Suara dari kelompok tak dikenal terdengar jelas di telinga Tata, tapi sumber suaranya tidak jelas berada dimana.

Tata memperhatikan sekelilingnya sekali lagi. "Jadi aku mau dirampok? Baru datang, loh. Merepotkan sekali." Tata menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Sihir es—Jarum Kematian!"

Dari arah yang tidak terduga. Beberapa jarum es berukuran sedang melesat cepat ke arah Tata.

Tata melakukan back flip dengan cepat, menghindari jarum-jarum es yang tajam dan mematikan tersebut.

"Hei, kalian menyerang dari titik butaku! Kalau berani maju sini satu lawan satu!" Seru Tata.

Tata semakin waspada. Kini dia harus mengawasi segala sisi. Kabut yang tebal membuat pandangan menjadi sangat terbatas.

"Satu lawan satu? Kau pikir kami sebodoh itu?" Suara lain dari kelompok itu terdengar mengejek. "Kami bukan ksatria sihir. Kami ini perampok. Dan perampok tidak pernah bertarung dengan adil."

Tata menghela napas sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Tangannya turun ke pinggang.

Lihat selengkapnya