Wo Ai Ni "Novel"

Herman Siem
Chapter #4

Percuma Aja

Malam berganti datangnya pagi, langit malam mulai bergeser berganti cerah walau masih malu-malu di kedipkan sinar mentari pagi sudah mengintip. Burung-burung kecil berterbangan hinggap di dahan pohon lalu berpindah seraya bercanda memancing untuk mengajak bermain. Tetesan embun pagi berkilau seperti kristal saling berkedipan menyelemuti dingin setiap dedaunan setia merangkai ranting pohon.

"Kukuruyuk ...!" suara ayam jago bertengger diatas kandang kecil.

Satu-persatu jendela rumah terbuka dan pelan-pelan lampu pijar penerang malam mulai padam, berganti makin tinggi dan jelas sinar matahari sebagai pengganti penerangan siang hari.

"Tedy ...! Pasti ini kerjaan loe ...? Dasar anak ngak tahu di untung ...!" teriak sekuat mulut Mumun pagi buta udah di bikin marah sewot. Pagi buta padahal harusnya Mumun senyum-senyum terima setoran duit dari sopir bajaj yang pulangan kemalaman. Nih pagi Mumun masih pake daster, roll rambut masih tersemat di rambutnya, sandal jepit teman setianya.

"Tedy ...! Bangun ngak, loe ...!" teriak lagi Mumun makin sewot di depan rumah, di belakang berdiri sopir bajaj lengkap dengan seragam bajaj warna coklat mudah dengan berlogo "J&M" Jaja & Mumun.

"Loe kenapa Mun? Pagi buta bukannya bikinin gua kopi ama sarapan! Ini teriak-teriakan kayak tentara mau perang aja loe!" makin sewot Jaja masih ada belekan di kiri bawa matanya dan masih pake kain sarung serta kaos singlet putih.

"Kenapa loe, Mun?!" makin bingung Jaja lihat sopir bajaj masih belum pada jalan masih berdiri di belakang Mumun, kayak antri mau ambil BLT tapi ngak kebagian, raut wajahnya pada bingung kelihatan bangat, kayak orang belum setoran ngak dikasih kunci bajaj.

"Loe pada kenapa?" berbalik Mumun masih pasang muka masam menahan marahnya saat Jaja hampiri satu-persatu sopir bajaj sambil dongakin wajahnya keatas dan ada yang manyun kebawah.

"Loe kenapa belum jalan? Loe juga kenapa? Muka loe kenapa, setoran loe pasti kurang?" tetap aja sopir bajaj berdiri baris rapi ngak ngejawab pertanyaan Jaja. "Mun ada apa si? Kenapa sopir bajaj kita belum pada jalan?" sambil dua tangan Jaja kencengin kain sarungnya dekatin Mumun makin menahan sewotnya.

"Gimana mereka pada mau jalan, Bang? Bajaj-bajaj itu ngak ada akinya," sahut Mumun masih kekih.

"Brug" sahut Jupri ternyata sejak dari tadi sudah duduk di dalam bajaj, pantatnya lalu menyenggol pintu bajaj tertutup.

Lihat selengkapnya